Ketika Bottom Dijadikan Kambing Hitam

Beberapa hari terakhir media sosial kembali dipenuhi narasi yang menyebut bottom sebagai “sumber penyakit”. Bahkan tidak sedikit yang beranggapan bahwa HIV identik dengan laki-laki homoseksual yang berperan sebagai bottom. Kalimat-kalimat seperti ini terdengar sederhana, tetapi justru menunjukkan satu persoalan besar: banyak orang berbicara tentang HIV tanpa pernah membaca literatur ilmiah.

Fenomena tersebut sebenarnya bukan hal baru. Sejak epidemi HIV pertama kali dikenali pada awal dekade 1980-an, ketakutan masyarakat sering kali melahirkan stigma yang lebih cepat menyebar daripada pengetahuan itu sendiri. Pada masa awal epidemi, keterbatasan data membuat sebagian orang menyimpulkan bahwa HIV adalah “penyakit gay”. Bahkan istilah Gay-Related Immune Deficiency (GRID) sempat digunakan sebelum akhirnya ditinggalkan karena penelitian membuktikan bahwa istilah tersebut keliru dan menyesatkan. HIV kemudian ditemukan pada perempuan heteroseksual, bayi yang tertular dari ibunya, pengguna narkotika suntik, hingga penerima transfusi darah sebelum sistem skrining modern diberlakukan. Temuan-temuan tersebut mengubah cara dunia memahami HIV: virus ini tidak memilih orientasi seksual, melainkan mengikuti jalur biologis yang memungkinkannya berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain.

Namun, lebih dari empat dekade kemudian, pola pikir yang sama masih terus berulang. Ketika muncul pemberitaan mengenai HIV, sebagian masyarakat masih mencari “siapa yang harus disalahkan” alih-alih bertanya “bagaimana sebenarnya virus ini menular?”. Akibatnya, identitas seksual dan posisi seksual sering dicampuradukkan dengan mekanisme biologis penularan. Padahal keduanya adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

Dalam epidemiologi, HIV tidak mengenal identitas seksual. Virus tidak memilih apakah seseorang heteroseksual, homoseksual, biseksual, laki-laki, ataupun perempuan. HIV hanya memanfaatkan jalur biologis yang paling mudah untuk berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya.

Artinya, seseorang tidak menjadi lebih berisiko hanya karena identitasnya sebagai gay, lesbian, atau heteroseksual. Risiko muncul karena adanya paparan terhadap virus melalui aktivitas tertentu, seperti hubungan seksual tanpa perlindungan dengan pasangan yang hidup dengan HIV dan belum menjalani terapi, penggunaan jarum suntik secara bergantian, atau penularan dari ibu ke bayi selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui apabila tidak dilakukan intervensi medis yang tepat. Inilah alasan mengapa organisasi kesehatan dunia selalu membahas HIV berdasarkan perilaku berisiko (risk behavior), bukan berdasarkan identitas seseorang.

Ironisnya, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa posisi seksual yang selama ini distigma sebagai “penyebab” justru merupakan pihak yang memiliki risiko biologis paling tinggi untuk tertular HIV ketika berhubungan dengan pasangan yang HIV positif dan belum menjalani terapi.

Perlu ditekankan bahwa istilah tertular dan menularkan bukanlah hal yang sama. Seseorang yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular belum tentu merupakan pihak yang menjadi sumber penularan. Dalam ilmu epidemiologi, dua konsep ini dibedakan secara jelas karena menyangkut arah perpindahan virus. Sayangnya, di ruang publik kedua istilah tersebut sering dipertukarkan sehingga melahirkan kesimpulan yang keliru. Ketika seseorang mengatakan bahwa “bottom adalah sumber HIV”, ia secara tidak langsung mengabaikan fakta bahwa secara biologis posisi tersebut justru merupakan pihak yang paling rentan menerima infeksi apabila pasangannya membawa virus.

Dengan kata lain, menyebut bottom sebagai sumber penyakit bukan hanya bentuk stigma, tetapi juga bertentangan dengan bukti ilmiah. Sejumlah systematic review dan meta-analysis yang menjadi rujukan internasional justru memperlihatkan bahwa risiko biologis tertinggi berada pada pasangan yang menerima penetrasi (receptive partner), bukan karena identitas seksualnya, melainkan karena karakteristik anatomi yang akan dibahas pada bagian berikutnya.

Pada akhirnya, stigma hampir selalu lahir ketika opini berjalan lebih cepat daripada pengetahuan. HIV bukan persoalan moral, bukan pula hukuman atas orientasi seksual tertentu. Ia adalah penyakit infeksi yang mengikuti hukum biologi. Karena itu, apabila tujuan kita adalah memahami epidemi HIV secara benar, maka yang harus dijadikan rujukan adalah bukti ilmiah, bukan asumsi yang diwariskan dari stigma puluhan tahun lalu.

Apa yang Sebenarnya Dikatakan Jurnal?

Salah satu penelitian paling berpengaruh mengenai risiko penularan HIV melalui hubungan seksual diterbitkan dalam International Journal of Epidemiology oleh Rebecca F. Baggaley dan tim melalui systematic review serta meta-analysis. Penelitian ini mengumpulkan puluhan ribu publikasi sebelum akhirnya memilih studi yang memenuhi standar ilmiah untuk dihitung kembali secara statistik.

Berbeda dengan penelitian biasa yang hanya melibatkan satu kelompok responden, systematic review bertugas mengumpulkan seluruh penelitian yang relevan mengenai suatu topik, kemudian menyeleksinya menggunakan kriteria yang ketat. Setelah itu, meta-analysis menggabungkan data dari penelitian-penelitian tersebut menjadi satu analisis statistik yang lebih besar. Dalam dunia evidence-based medicine, metode ini termasuk salah satu bentuk bukti ilmiah dengan tingkat kepercayaan paling tinggi karena tidak bergantung pada hasil satu penelitian saja, melainkan melihat pola yang konsisten dari berbagai penelitian independen.

Artinya, ketika penelitian Baggaley dkk. menyimpulkan bahwa risiko biologis tertinggi berada pada pasangan receptive, kesimpulan tersebut bukan berasal dari satu kasus atau satu negara, melainkan dari kumpulan data yang berasal dari berbagai populasi dengan karakteristik yang berbeda. Hal inilah yang membuat hasil penelitian tersebut banyak dijadikan rujukan oleh organisasi kesehatan internasional maupun peneliti HIV di berbagai negara.

Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan anal tanpa kondom dengan posisi receptive (bottom) memiliki risiko penularan HIV jauh lebih tinggi dibanding posisi insertive (top). Penelitian tersebut memperkirakan risiko penularan per hubungan seksual pada posisi receptive anal intercourse sekitar 1,4%, jauh lebih tinggi dibanding posisi insertive.

Angka tersebut mungkin tampak kecil jika dilihat hanya dari satu kali hubungan seksual. Namun dalam ilmu epidemiologi, risiko tidak dinilai dari satu kejadian saja. Risiko akan bersifat kumulatif, artinya peluang tertular meningkat apabila paparan terjadi berulang kali. Oleh karena itu, para peneliti lebih tertarik melihat bagaimana risiko tersebut berkembang dalam jangka panjang dibanding hanya melihat satu kali hubungan seksual.

Delapan tahun kemudian, tim yang sama memperbarui analisis mereka menggunakan data yang jauh lebih besar. Hasilnya tetap konsisten: risiko biologis tertinggi tetap berada pada pihak yang menerima penetrasi (receptive partner). Estimasi terbaru menunjukkan bahwa risiko per tindakan seksual berada di kisaran sekitar 1,25% untuk pasangan receptive, sedangkan pada pasangan insertive sekitar 0,17%. Dengan kata lain, risiko biologis pada pasangan receptive diperkirakan sekitar tujuh hingga delapan kali lebih tinggi dibanding pasangan insertive dalam kondisi tanpa perlindungan dan ketika pasangan yang terinfeksi belum mendapatkan terapi antiretroviral.

Penting untuk memahami bahwa angka-angka tersebut adalah rata-rata statistik, bukan kepastian. Risiko seseorang dapat lebih rendah atau lebih tinggi tergantung berbagai faktor, seperti penggunaan kondom, apakah pasangan menggunakan terapi ARV, keberadaan infeksi menular seksual lain, viral load pasangan, hingga adanya luka atau perdarahan pada saat hubungan seksual. Karena itu, penelitian epidemiologi selalu menyampaikan angka dalam bentuk estimasi probabilitas, bukan kepastian bahwa penularan pasti terjadi.

Temuan Baggaley bukan satu-satunya bukti yang mendukung kesimpulan tersebut. Patel dan rekan-rekannya dalam systematic review yang diterbitkan di jurnal AIDS juga melakukan estimasi risiko penularan HIV berdasarkan jenis aktivitas seksual. Hasilnya kembali menunjukkan bahwa receptive anal intercourse merupakan salah satu aktivitas seksual dengan risiko biologis tertinggi dibandingkan sebagian besar bentuk hubungan seksual lainnya tanpa perlindungan. Konsistensi hasil dari berbagai penelitian inilah yang memperkuat kesimpulan bahwa perbedaan risiko tersebut memang memiliki dasar biologis yang nyata, bukan sekadar kebetulan statistik.

Di luar jurnal akademik, kesimpulan yang sama juga diadopsi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat. CDC menjelaskan bahwa pasangan yang menerima penetrasi anal (receptive partner) memiliki risiko memperoleh HIV yang jauh lebih tinggi dibanding pasangan yang melakukan penetrasi (insertive partner) apabila berhubungan seksual tanpa kondom dengan pasangan HIV positif yang belum mencapai kondisi undetectable. Pedoman ini digunakan secara luas dalam penyusunan strategi pencegahan HIV, termasuk rekomendasi penggunaan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) bagi kelompok dengan risiko tinggi.

Lalu, apa arti semua data tersebut terhadap narasi yang berkembang di media sosial?

Jawabannya sederhana. Data ilmiah tidak pernah mengatakan bahwa bottom adalah “penyebar utama HIV”. Yang dikatakan penelitian justru sebaliknya: secara biologis, posisi bottom merupakan pihak yang memiliki kemungkinan lebih besar menerima infeksi ketika terpapar virus dari pasangan yang hidup dengan HIV dan belum menjalani terapi. Dua konsep ini sangat berbeda. Menjadi kelompok yang paling rentan tertular tidak sama dengan menjadi kelompok yang paling banyak menularkan.

Kesalahan memahami perbedaan inilah yang kemudian melahirkan stigma. Ketika orang mencampurkan istilah “berisiko tertular” dengan “menjadi sumber penularan”, lahirlah kesimpulan yang tidak didukung oleh bukti ilmiah. Padahal epidemiologi justru mengajarkan bahwa penularan HIV harus dipahami sebagai interaksi antara virus, kondisi biologis tubuh, status infeksi pasangan, dan berbagai faktor pencegahan—bukan semata-mata berdasarkan posisi seksual seseorang.

Mengapa Risiko Bottom Lebih Tinggi?

(Disclaimer singkat: Pembahasan pada bagian ini bersifat ilmiah dan bertujuan menjelaskan mekanisme biologis penularan HIV, bukan menghakimi atau menghakimi preferensi maupun orientasi seksual tertentu.)

Penjelasannya bukan karena orientasi seksual, melainkan anatomi.

Dalam dunia kedokteran, risiko penularan suatu penyakit infeksi hampir selalu ditentukan oleh bagaimana mikroorganisme memasuki tubuh. HIV pun bekerja dengan prinsip yang sama. Virus ini membutuhkan akses menuju aliran darah atau jaringan yang kaya akan sel-sel imun sebagai tempat berkembang biaknya. Karena itu, karakteristik jaringan yang terpapar memiliki pengaruh besar terhadap kemungkinan terjadinya infeksi.

Lapisan mukosa rektum jauh lebih tipis dibanding kulit penis. Jaringan ini tersusun dari epitel kolumnar selapis (simple columnar epithelium) yang memang dirancang untuk membantu proses penyerapan air dan nutrisi, bukan sebagai pelindung terhadap gesekan mekanis. Akibatnya, selama hubungan seksual dapat terjadi mikroluka (microtears) yang sering kali tidak terlihat maupun tidak terasa oleh seseorang. Melalui celah-celah mikroskopis inilah HIV dapat lebih mudah memasuki jaringan tubuh apabila terdapat virus pada cairan tubuh pasangan.

Selain karena ketebalan jaringan, mukosa rektum juga mengandung konsentrasi tinggi sel imun seperti limfosit CD4, makrofag, dan sel dendritik. Ironisnya, sel-sel inilah yang justru menjadi target utama infeksi HIV. Begitu virus berhasil melewati lapisan mukosa, ia akan berikatan dengan reseptor CD4 pada permukaan sel imun, kemudian memasukkan materi genetiknya ke dalam sel tersebut dan mulai bereplikasi. Dengan kata lain, lingkungan biologis pada mukosa rektum memberikan peluang yang lebih besar bagi virus untuk menemukan “target” yang dibutuhkannya untuk berkembang biak. Inilah salah satu alasan mengapa risiko penularan pada pasangan receptive secara konsisten lebih tinggi dalam berbagai penelitian.

Sebaliknya, penis memiliki perlindungan biologis yang berbeda. Sebagian besar permukaannya dilapisi epitel berlapis (stratified squamous epithelium) yang lebih tebal dan lebih tahan terhadap gesekan. Walaupun virus tetap dapat masuk melalui uretra, kulup bagian dalam pada pria yang belum disunat, atau melalui luka pada kulit, peluang masuknya virus umumnya lebih rendah dibandingkan melalui mukosa rektum. Hal inilah yang menjelaskan mengapa berbagai penelitian menemukan bahwa risiko biologis pada pasangan insertive lebih rendah dibandingkan pasangan receptive, meskipun bukan berarti risikonya tidak ada sama sekali.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah konsentrasi virus atau viral load. Semakin tinggi jumlah virus yang terdapat dalam darah maupun cairan tubuh seseorang yang hidup dengan HIV, semakin besar pula peluang terjadinya penularan apabila tidak ada perlindungan. Sebaliknya, seseorang yang menjalani terapi antiretroviral (ART) secara konsisten hingga mencapai kondisi undetectable memiliki risiko penularan yang secara ilmiah terbukti sangat rendah hingga tidak terjadi penularan melalui hubungan seksual (Undetectable = Untransmittable atau U=U). Karena itu, dalam praktik kedokteran modern, pembahasan mengenai HIV tidak pernah berhenti pada posisi seksual semata, tetapi juga mempertimbangkan status pengobatan dan viral load seseorang.

Selain anatomi dan viral load, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan ataupun menurunkan risiko penularan HIV. Misalnya, adanya infeksi menular seksual lain seperti sifilis, gonore, atau klamidia dapat menyebabkan peradangan dan luka pada jaringan sehingga mempermudah virus masuk ke dalam tubuh. Penggunaan kondom secara benar terbukti mampu menurunkan risiko penularan secara signifikan, sementara penggunaan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) pada individu yang berisiko tinggi dapat memberikan perlindungan yang sangat efektif apabila dikonsumsi sesuai anjuran medis. Faktor-faktor inilah yang menjadi fokus utama dalam strategi pencegahan HIV modern, bukan sekadar melihat apakah seseorang berperan sebagai top atau bottom.

Di sinilah letak kesalahan logika yang sering muncul di media sosial. Banyak orang melihat bahwa angka kasus HIV cukup tinggi pada kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (men who have sex with men atau MSM), lalu langsung menyimpulkan bahwa posisi bottom adalah penyebab penyebaran HIV. Padahal data biologis justru menunjukkan bahwa posisi tersebut merupakan pihak yang paling rentan menerima infeksi ketika berhubungan dengan pasangan yang membawa virus dan belum menjalani terapi. Menyamakan kelompok yang paling rentan tertular dengan kelompok yang paling bertanggung jawab menyebarkan penyakit merupakan bentuk logical fallacy yang dikenal sebagai kekeliruan sebab-akibat (false cause fallacy). Korelasi tidak otomatis membuktikan kausalitas.

Hal lain yang sering terlupakan adalah bahwa seseorang tidak selalu berada pada satu posisi seksual sepanjang hidupnya. Dalam penelitian perilaku seksual, banyak individu melaporkan bahwa mereka dapat berganti peran (versatile), sementara yang lain mungkin memiliki riwayat pasangan dengan status HIV yang berbeda-beda sepanjang hidupnya. Karena itu, para epidemiolog tidak pernah menyederhanakan analisis penularan HIV hanya berdasarkan label top atau bottom. Mereka justru mempelajari jaringan penularan (transmission network), status HIV pasangan, penggunaan terapi, serta berbagai faktor biologis dan perilaku lain yang jauh lebih kompleks.

Pada akhirnya, anatomi menjelaskan mengapa risiko biologis berbeda, tetapi anatomi tidak pernah menentukan siapa yang harus disalahkan. Perbedaan risiko hanyalah penjelasan mengenai bagaimana virus bekerja di dalam tubuh manusia. Mengubah fakta biologis tersebut menjadi stigma sosial adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Justru karena memahami mekanisme inilah dunia medis dapat mengembangkan strategi pencegahan yang lebih efektif, mulai dari penggunaan kondom, PrEP, terapi antiretroviral, hingga edukasi kesehatan seksual yang berbasis bukti ilmiah, bukan prasangka.

Yang Menularkan Bukan Posisi Seksual

Kesalahan terbesar dalam stigma publik adalah menganggap posisi seksual sebagai penyebab penyakit.

Padahal faktor yang benar-benar menentukan penularan HIV antara lain:

  • status HIV pasangan,
  • jumlah virus (viral load),
  • penggunaan terapi ARV,
  • penggunaan kondom,
  • penggunaan PrEP,
  • keberadaan infeksi menular seksual lain.

Daftar tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi justru itulah yang selama puluhan tahun menjadi fokus utama penelitian HIV di seluruh dunia. Ketika seorang dokter melakukan asesmen risiko HIV, ia tidak pernah bertanya, “Apakah Anda seorang top atau bottom?” sebagai satu-satunya dasar penilaian. Yang jauh lebih penting adalah memahami apakah pernah terjadi paparan terhadap virus, bagaimana kondisi kesehatan pasangan seksual, apakah terdapat penggunaan alat pelindung, serta apakah ada faktor-faktor lain yang meningkatkan peluang penularan.

Dengan kata lain, posisi seksual hanyalah salah satu variabel yang memengaruhi besar kecilnya risiko biologis, bukan penentu siapa yang menjadi sumber penularan.

Perbedaan ini sangat penting dipahami. Dalam epidemiologi terdapat istilah source of infection (sumber infeksi) dan route of transmission (jalur penularan). Sumber infeksi adalah individu yang memang membawa virus HIV. Jalur penularan adalah bagaimana virus tersebut berpindah ke tubuh orang lain. Posisi seksual bukanlah sumber infeksi, melainkan hanya salah satu faktor yang dapat memengaruhi efisiensi jalur penularan apabila virus memang sudah ada pada salah satu pasangan.

Karena itulah narasi yang menyebut “bottom adalah sumber HIV” sesungguhnya tidak memiliki dasar ilmiah. Agar seseorang dapat menularkan HIV, ia harus terlebih dahulu hidup dengan HIV. Sebaliknya, seseorang yang HIV negatif—apa pun posisi seksualnya—tidak mungkin menjadi sumber penularan karena tidak membawa virus tersebut.

Kesalahan logika ini sering muncul karena masyarakat mencampurkan antara kelompok yang lebih rentan tertular dengan kelompok yang menjadi sumber infeksi. Padahal keduanya adalah dua konsep epidemiologi yang sangat berbeda.

Kemajuan ilmu kedokteran bahkan telah mengubah pemahaman dunia mengenai penularan HIV secara drastis. Selama bertahun-tahun para peneliti berusaha menjawab satu pertanyaan penting: apakah seseorang yang hidup dengan HIV tetapi menjalani terapi secara rutin masih dapat menularkan virus kepada pasangan seksualnya?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut datang melalui sejumlah penelitian berskala besar, di antaranya HPTN 052, PARTNER, PARTNER2, dan Opposites Attract. Penelitian-penelitian ini melibatkan ribuan pasangan dengan status HIV berbeda (serodiscordant couples), yaitu satu pasangan hidup dengan HIV dan pasangannya tidak.

Hasilnya sangat konsisten. Ketika orang yang hidup dengan HIV menjalani terapi antiretroviral (ART) secara rutin hingga jumlah virus di dalam darahnya turun ke tingkat yang tidak terdeteksi (undetectable viral load), tidak ditemukan penularan HIV melalui hubungan seksual kepada pasangannya selama viral load tetap tidak terdeteksi. Temuan inilah yang kemudian melahirkan konsep U=U (Undetectable = Untransmittable), yang kini diakui oleh WHO, UNAIDS, CDC, International AIDS Society, dan berbagai organisasi kesehatan dunia lainnya.

Konsep U=U membawa perubahan besar dalam cara dunia memandang HIV. Selama ini masyarakat sering menganggap seseorang yang hidup dengan HIV pasti menjadi ancaman bagi orang lain. Padahal bukti ilmiah justru menunjukkan bahwa seseorang yang menjalani terapi dengan baik hingga mencapai kondisi undetectable tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual. Dengan demikian, fokus utama pengendalian HIV saat ini bukanlah mengisolasi orang yang hidup dengan HIV, melainkan memastikan mereka mendapatkan diagnosis sedini mungkin dan memiliki akses terhadap pengobatan yang berkelanjutan.

Selain terapi ARV, perkembangan ilmu kedokteran juga menghadirkan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP), yaitu obat pencegahan HIV yang dikonsumsi oleh individu yang belum terinfeksi tetapi memiliki risiko tinggi terpapar virus. Berbagai uji klinis menunjukkan bahwa apabila digunakan secara konsisten sesuai anjuran, PrEP mampu menurunkan risiko penularan HIV melalui hubungan seksual secara sangat signifikan. Karena itu, WHO maupun CDC memasukkan PrEP sebagai salah satu strategi utama dalam pencegahan HIV modern, berdampingan dengan penggunaan kondom, tes HIV rutin, edukasi seksual, dan terapi ARV bagi orang yang hidup dengan HIV.

Semua perkembangan tersebut menunjukkan satu hal yang sangat jelas. Dunia medis tidak lagi memandang HIV sebagai persoalan identitas atau moralitas. Fokusnya telah bergeser kepada deteksi dini, pengobatan, dan pencegahan berbasis bukti ilmiah. Pendekatan inilah yang terbukti mampu menurunkan angka penularan di berbagai negara.

Sebaliknya, stigma justru sering menjadi penghalang. Ketika seseorang takut dicap “pembawa penyakit”, ia mungkin memilih tidak melakukan tes HIV. Ketika seseorang takut identitasnya diketahui, ia mungkin menunda pengobatan. Padahal semakin lama seseorang tidak mengetahui status HIV-nya atau tidak mendapatkan terapi, semakin besar pula peluang virus menyebar kepada pasangan seksualnya. Dengan kata lain, stigma bukan hanya melukai individu, tetapi juga dapat menghambat upaya kesehatan masyarakat dalam mengendalikan epidemi HIV.

Karena itu, menyalahkan bottom sebagai sumber penyakit sama sekali tidak menjelaskan bagaimana HIV sebenarnya menyebar. Yang menentukan penularan adalah apakah virus ada pada salah satu pasangan, seberapa tinggi viral load-nya, apakah ia menjalani terapi, apakah hubungan seksual dilakukan dengan perlindungan, serta apakah tersedia akses terhadap metode pencegahan modern seperti PrEP. Semua faktor tersebut memiliki dasar ilmiah yang kuat dan telah dibuktikan melalui puluhan tahun penelitian.

Pada akhirnya, HIV tidak berpindah karena label sosial seseorang. Virus tidak mengenal istilah top, bottom, gay, maupun heteroseksual. Yang dikenalnya hanyalah kesempatan biologis untuk berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Oleh karena itu, jika tujuan kita adalah memahami HIV secara benar, maka yang seharusnya dipelajari adalah ilmu epidemiologi dan kedokteran, bukan stigma yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Melawan Stigma dengan Bukti, Bukan Prasangka

Menyederhanakan HIV menjadi persoalan “gay”, “bottom“, atau kelompok tertentu hanya akan memperkuat stigma dan membuat masyarakat mengabaikan faktor risiko yang sebenarnya.

Selama lebih dari empat puluh tahun penelitian HIV berlangsung, ilmu pengetahuan justru bergerak ke arah yang berlawanan dengan stigma. Para peneliti tidak lagi sibuk mencari kelompok mana yang harus disalahkan, melainkan berusaha memahami bagaimana virus bekerja, bagaimana penularan dapat dicegah, dan bagaimana orang yang hidup dengan HIV dapat menjalani kehidupan yang sehat tanpa menularkan virus kepada orang lain.

Sayangnya, percakapan di media sosial sering kali tidak mengikuti perkembangan ilmu tersebut. Ketika muncul kabar mengenai peningkatan kasus HIV, sebagian orang masih lebih tertarik mencari kambing hitam daripada memahami data epidemiologi. Akibatnya, identitas seksual dan posisi seksual dijadikan sasaran tudingan, sementara faktor-faktor yang benar-benar memengaruhi penularan justru luput dari perhatian.

Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa stigma memiliki dampak yang nyata terhadap kesehatan masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNAIDS berulang kali menegaskan bahwa diskriminasi terhadap orang yang hidup dengan HIV maupun kelompok berisiko dapat menghambat upaya pengendalian epidemi. Rasa takut dihakimi membuat sebagian orang enggan melakukan tes HIV, menunda mencari pertolongan medis, bahkan menghentikan pengobatan karena khawatir identitasnya diketahui. Kondisi ini justru meningkatkan kemungkinan virus tetap tidak terdeteksi dan berpotensi terus menyebar di masyarakat.

Dengan kata lain, stigma bukan hanya persoalan etika atau penghormatan terhadap kelompok tertentu. Stigma juga merupakan hambatan nyata dalam strategi kesehatan masyarakat. Ketika masyarakat lebih sibuk menghakimi daripada mendorong orang melakukan tes HIV atau mendapatkan terapi, maka yang dirugikan bukan hanya individu yang menjadi sasaran diskriminasi, tetapi juga upaya pencegahan secara keseluruhan.

Kembali pada pertanyaan yang menjadi inti artikel ini: benarkah bottom adalah sumber HIV?

Jika yang dijadikan rujukan adalah literatur ilmiah, jawabannya adalah tidak.

Berbagai systematic review, meta-analysis, serta pedoman dari organisasi kesehatan internasional justru menunjukkan bahwa posisi receptive (bottom) merupakan pihak yang memiliki risiko biologis lebih tinggi untuk tertular HIV apabila berhubungan seksual dengan pasangan yang hidup dengan HIV dan belum menjalani terapi. Risiko yang lebih tinggi untuk tertular tidak dapat disamakan dengan menjadi pihak yang paling banyak menularkan. Dua konsep tersebut memiliki makna yang berbeda dalam epidemiologi, dan mencampurkannya hanya akan menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Bukan berarti posisi top tidak memiliki peran dalam rantai penularan. Apabila seseorang hidup dengan HIV dan belum mendapatkan terapi yang efektif, ia tetap dapat menularkan virus kepada pasangannya, baik dalam hubungan heteroseksual maupun homoseksual. Sebaliknya, seseorang yang telah menjalani terapi hingga mencapai kondisi undetectable berdasarkan bukti ilmiah tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual. Fakta ini menunjukkan bahwa yang menentukan penularan adalah status infeksi, viral load, dan akses terhadap pengobatan, bukan label “top” atau “bottom“.

Hal yang juga sering terlupakan adalah bahwa epidemi HIV tidak pernah berdiri di atas satu faktor tunggal. Kemiskinan, keterbatasan akses layanan kesehatan, rendahnya edukasi seksual, keterlambatan diagnosis, penggunaan narkotika suntik, hingga stigma terhadap kelompok tertentu semuanya berkontribusi terhadap dinamika penyebaran HIV. Oleh karena itu, menyederhanakan persoalan yang kompleks ini menjadi sekadar “salah siapa” bukan hanya tidak adil, tetapi juga bertentangan dengan cara ilmu epidemiologi bekerja.

Pada akhirnya, virus tidak mengenal identitas. HIV tidak pernah bertanya apakah seseorang heteroseksual atau homoseksual, top atau bottom, laki-laki atau perempuan. Virus hanya memanfaatkan kesempatan biologis ketika ia bertemu dengan kondisi yang memungkinkan untuk berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya.

Karena itu, apabila kita benar-benar ingin menekan angka penularan HIV, maka yang dibutuhkan bukanlah lebih banyak prasangka, melainkan lebih banyak pengetahuan. Bukan lebih banyak kambing hitam, melainkan lebih banyak orang yang bersedia melakukan tes HIV, mendapatkan terapi sedini mungkin, menggunakan metode pencegahan yang telah terbukti efektif, dan membangun percakapan yang didasarkan pada bukti ilmiah, bukan pada asumsi.

Sebab ilmu pengetahuan tidak bekerja untuk membenarkan prasangka. Ilmu pengetahuan bekerja untuk menguji apakah prasangka itu benar. Dan dalam kasus stigma bahwa “bottom adalah sumber HIV”, bukti ilmiah justru menunjukkan kesimpulan yang sebaliknya.

Referensi Ilmiah dan Bacaan Lanjutan

Artikel ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang telah melalui proses peer review, systematic review, meta-analysis, serta pedoman resmi dari lembaga kesehatan internasional. Seluruh referensi di bawah dapat diakses secara publik sehingga pembaca dapat memeriksa sendiri sumber data yang digunakan.

1. Baggaley RF, White RG, Boily MC. (2010)

HIV transmission risk through anal intercourse: systematic review, meta-analysis and implications for HIV prevention

Jurnal
International Journal of Epidemiology

Mengapa jurnal ini penting?

Ini merupakan salah satu penelitian yang paling sering dijadikan rujukan mengenai risiko biologis penularan HIV melalui hubungan anal. Penelitian ini menggunakan metode systematic review dan meta-analysis, yaitu menggabungkan hasil dari berbagai penelitian yang telah dipublikasikan sebelumnya.

Peneliti menyaring 62.643 publikasi, kemudian hanya menggunakan penelitian yang memenuhi standar metodologi untuk dianalisis lebih lanjut. Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan anal tanpa kondom pada pasangan receptive memiliki risiko penularan HIV yang jauh lebih tinggi dibandingkan pasangan insertive. Estimasi risiko per tindakan seksual (per-act risk) untuk unprotected receptive anal intercourse adalah sekitar 1,4%, sedangkan risiko pada pasangan insertive lebih rendah.

Akses jurnal

PubMed:

PubMed – Baggaley et al. (2010)

Versi Full Text (gratis):

PubMed Central (PMC) Full Text


2. Baggaley RF, Owen BN, Silhol R, dkk. (2018)

Does per-act HIV-1 transmission risk through anal sex vary by gender? An updated systematic review and meta-analysis

Mengapa jurnal ini penting?

Penelitian ini merupakan pembaruan dari meta-analisis tahun 2010 dengan menggunakan data yang lebih luas.

Kesimpulan utamanya tetap konsisten.

Risiko biologis tertinggi berada pada pasangan yang menerima penetrasi (receptive partner).

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pola tersebut tidak berubah meskipun data berasal dari berbagai populasi yang berbeda.

Dengan kata lain, kesimpulan bahwa bottom memiliki risiko biologis tertinggi bukan berasal dari satu penelitian saja, tetapi terus muncul secara konsisten pada penelitian-penelitian berikutnya.

Akses jurnal

PubMed

PubMed – Baggaley et al. (2018)


3. Patel P, dkk. (2014)

Estimating per-act HIV transmission risk: a systematic review

Jurnal

AIDS

Penelitian ini dilakukan oleh peneliti dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat.

Fokus penelitian adalah menghitung kemungkinan penularan HIV berdasarkan setiap jenis aktivitas seksual, bukan berdasarkan orientasi seksual seseorang.

Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa hubungan anal reseptif merupakan salah satu aktivitas seksual dengan risiko biologis tertinggi apabila dilakukan tanpa perlindungan dengan pasangan yang hidup dengan HIV.

Selain itu penelitian ini juga membahas bagaimana penggunaan kondom, terapi antiretroviral (ART), serta faktor lain dapat mengubah tingkat risiko penularan HIV.

Akses jurnal

PubMed

PubMed – Patel et al. (2014)


4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

Anal Sex and HIV Risk

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merupakan lembaga kesehatan masyarakat nasional Amerika Serikat yang menjadi salah satu rujukan utama dunia dalam bidang epidemiologi, pencegahan, dan pengendalian HIV.

Melalui HIV Risk Reduction Tool, CDC menjelaskan bahwa anal seks merupakan aktivitas seksual dengan risiko penularan HIV tertinggi apabila salah satu pasangan hidup dengan HIV dan belum menjalani terapi hingga mencapai kondisi undetectable. Hal ini berkaitan dengan karakteristik biologis jaringan rektum yang lebih tipis sehingga virus lebih mudah memasuki tubuh.

CDC juga menegaskan bahwa:

  • Pasangan receptive (bottom) memiliki risiko biologis paling tinggi untuk memperoleh HIV saat melakukan anal seks tanpa perlindungan dengan pasangan yang hidup dengan HIV.
  • Secara rata-rata, pasangan receptive memiliki kemungkinan sekitar 13 kali lebih tinggi tertular HIV dibandingkan pasangan insertive (top) dalam kondisi tersebut.
  • Meskipun demikian, kedua pasangan tetap dapat tertular HIV. Pasangan insertive (top) juga memiliki risiko karena virus dapat masuk melalui uretra, kulup pada penis yang tidak disunat, atau luka kecil pada penis.
  • Risiko penularan dapat diturunkan secara signifikan melalui penggunaan kondom, Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP), serta terapi antiretroviral (ART). CDC juga menegaskan bahwa seseorang yang hidup dengan HIV dan berhasil mempertahankan viral load tidak terdeteksi (Undetectable = Untransmittable atau U=U) tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual.

Akses Resmi CDC

CDC – Anal Sex and HIV Risk (PDF Resmi)

CDC – HIV Risk Reduction Tool (Can I Get or Transmit HIV From…?)


5. CDC – HIV Risk Reduction

Pedoman ini menjelaskan secara rinci mengenai berbagai strategi pencegahan HIV yang telah terbukti efektif berdasarkan penelitian.

Di antaranya:

  • penggunaan PrEP,
  • penggunaan PEP,
  • terapi ARV,
  • konsep Undetectable = Untransmittable (U=U),
  • pentingnya pemeriksaan HIV secara rutin.

CDC menegaskan bahwa seseorang yang hidup dengan HIV dan berhasil mempertahankan viral load tidak terdeteksi melalui terapi tidak menularkan HIV kepada pasangan seksualnya.

Akses

CDC – HIV Risk Reduction Tool


6. World Health Organization (WHO)

Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Diagnosis, Treatment and Care

WHO menerbitkan pedoman global mengenai pencegahan HIV yang digunakan oleh berbagai negara sebagai acuan penyusunan kebijakan kesehatan.

Pedoman ini menegaskan pentingnya:

  • akses terhadap tes HIV,
  • terapi antiretroviral,
  • penggunaan PrEP,
  • pengurangan stigma,
  • peningkatan akses layanan kesehatan bagi populasi kunci.

WHO juga menekankan bahwa hambatan sosial dan stigma dapat mengurangi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan sehingga berpotensi memperburuk epidemi HIV.

Akses

WHO – Consolidated HIV Guidelines (2022)


Penutup

Perdebatan di media sosial sering kali dibangun di atas opini, potongan informasi, atau pengalaman pribadi. Sementara itu, epidemiologi bekerja dengan cara yang berbeda. Ia mengumpulkan data dari ribuan hingga puluhan ribu kasus, membandingkan hasil berbagai penelitian, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pola yang dapat dibuktikan secara statistik.

Karena itu, apabila ada anggapan bahwa “bottom adalah sumber HIV“, maka klaim tersebut perlu diuji dengan bukti ilmiah, bukan sekadar diulang sebagai asumsi. Berdasarkan literatur yang dirujuk dalam artikel ini, bukti yang tersedia justru menunjukkan bahwa pasangan receptive memiliki risiko biologis lebih tinggi untuk tertular HIV, sedangkan penularan HIV sendiri dipengaruhi oleh status infeksi, viral load, terapi, penggunaan kondom, PrEP, dan faktor-faktor biologis lainnya—bukan oleh label sosial atau posisi seksual semata. Dengan kata lain, diskusi mengenai HIV akan jauh lebih bermanfaat apabila didasarkan pada data yang dapat diverifikasi daripada stigma yang diwariskan dari masa lalu.


Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca