Di Balik Anxiety Disorder: Terungkapnya Episode Depresi dan Gejala Psikotik yang Selama Ini Tak Terlihat

Sometimes, the most relaxed face is the result of the fiercest battles inside. Living alongside anxiety disorder, depressive episodes, and psychosis isn’t about “getting fixed” overnight—it’s about learning to stay grounded when reality feels blurry.

Jujur, aku baru berani membuka ini semua—bahwa selama ini aku sedang berjuang dengan sesuatu yang bahkan dulu aku sendiri tidak benar-benar pahami.

Awalnya terasa kecil, hampir tidak berarti. Aku sering tiba-tiba merasa cemas tanpa alasan yang jelas. Ada sensasi sedih yang seperti tertahan di dada, lalu sesekali keluar dalam bentuk sesenggukan kecil… padahal aku tidak sedang sedih, tidak ada kejadian apa pun yang menyakitkan.

Sensasi itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Dulu aku menganggapnya hanya sebagai firasat—seolah akan terjadi sesuatu. Tapi kenyataannya, tidak pernah ada apa-apa. Semuanya berlalu begitu saja, dan aku menganggapnya normal.

Aku juga terbiasa hidup dengan pikiran yang tidak pernah benar-benar diam. Dialog di dalam kepala sudah seperti pentas teater, overthinking, kesulitan fokus, sulit untuk tidur karena isi kepala terlalu riuh dan kecenderungan mudah terdistraksi menjadi bagian dari keseharian. Awalnya aku pikir semua orang juga mengalaminya.

Seiring berjalannya waktu, semuanya mulai berubah ketika memasuki November hingga Desember 2025, dimana ada badai yang begitu hebat mengguncang kehidupanku dan membuatku mulai goyah. Intensitasnya meningkat. Frekuensinya bertambah. Dan perlahan, semuanya menjadi jauh lebih melelahkan. Mungkin karena aku terbiasa memendam semua persoalanku dan enggan bercerita. Karena bagiku semua orang memiliki persoalannya sendiri sehingga itu membentuk karakterku yang selalu terlihat tegar dan baik-baik saja di hadapan orang lain, padahal di dalam diriku ada terlalu banyak guncangan yang membuatku rapuh.

Memasuki Januari, kondisi itu mencapai titik yang sulit diabaikan. Sesenggukan, kecemasan, dan pikiran yang tidak pernah berhenti bisa muncul hampir setiap jam. Semuanya terasa menumpuk menjadi satu, menciptakan kelelahan yang bukan hanya fisik, tetapi juga mental.

Saat itu, aku masih menyangkal. Aku meyakinkan diri bahwa ini hal biasa. Bahwa mungkin semua orang juga merasakannya.

Ternyata tidak.

Adikku menjadi orang pertama yang benar-benar menyadari perubahan itu. Ia melihat aku menjadi lebih gelisah, lebih mudah panik, dan seperti selalu berada dalam keadaan waspada. Dari situlah, untuk pertama kalinya aku mendengar kalimat yang akhirnya mengubah arah langkahku: “Kak, kamu membutuhkan bantuan profesional.” —Ujarnya.

Aku pun pergi ke puskesmas. Dari sana, aku mendapatkan rujukan pertama dengan diagnosis Anxiety Disorder Unspecified (F41.9). Tetapi petugas di sana mengingatkanku dalam percakapan kami bahwa ada kemungkinan aku mengarah ke Skizofrenia.

Perjalanan berlanjut ke psikiater, di mana aku mulai menjalani pengobatan dengan Fluoxetine di pagi hari dan Clobazam di malam hari. Namun, fase awalnya tidak mudah. Aku mengalami mimpi yang terasa sangat nyata, tidur yang sangat panjang, pandangan yang sempat terasa buram, serta pikiran yang justru semakin tidak terkendali.

Yang paling berat adalah munculnya kembali memori-memori lama yang selama ini aku tekan. Seolah semuanya kembali tanpa diminta.

Di saat yang sama, kecemasan itu sendiri tidak mereda.

Ada momen yang benar-benar membuatku takut pada diriku sendiri. Saat sedang mengendarai motor, tiba-tiba muncul dorongan di dalam kepala untuk menabrakkan diri ke truk yang sedang melaju. Aku panik dan langsung menepi. Di kesempatan lain, muncul juga dorongan untuk meminum semua obat sekaligus.

Itu bukan aku. Tapi rasanya seperti ada sesuatu di dalam kepala yang memaksakan hal itu.

Seiring waktu, aku juga mulai merasa tidak nyaman berada di keramaian. Ada perasaan seolah diperhatikan, dinilai, bahkan menjadi pusat perhatian. Di satu sisi aku sadar itu mungkin hanya perasaanku, tetapi di sisi lain, rasa cemasnya tetap nyata.

Memasuki minggu kedua pengobatan, aku berharap ada evaluasi. Namun yang aku terima hanya resep yang sama, tanpa pendalaman lebih lanjut. Setiap kali mencoba menjelaskan kondisiku, pembicaraanku sering terpotong. Aku mulai merasa seolah-olah apa yang aku alami dianggap berlebihan atau bahkan tidak nyata.

Ketika keluar dari ruangan dokter, tanganku gemetar. Di momen itu, aku menyadari satu hal dengan sangat jelas: aku membutuhkan bantuan dari seseorang yang benar-benar mau mendengarkan.

Dengan tangan yang masih gemetar karena tremor akibat serangan cemas dan panik atau sering di sebut Spike, aku kembali menghubungi pihak puskesmas yang kebetulan kami memang bertukar kontak whatsapp saat kunjungan pertamaku dan kuceritakan semua kondisiku saat itu lalu meminta rujukan ke psikolog. Syukurnya pihak puskesmas sigap dan langsung membuatkanku jadwal bertemu psikolog untuk keesokan paginya. Di sana, Puskesmas Pusat Kecamatan, untuk pertama kalinya, aku diminta untuk benar-benar bercerita—bukan hanya tentang apa yang terjadi sekarang, tetapi juga tentang masa lalu.

Aku pun mulai membuka semuanya.

Aku bercerita tentang tahun 2013, saat aku mengalami depresi berat. Saat itu, aku sering terbangun di tengah malam, menangis tanpa sebab yang jelas, meringkuk sambil memeluk diri sendiri, dan merasakan kehampaan yang sangat dalam. Semua itu dipicu oleh hubungan yang toxic, yang meninggalkan trauma begitu kuat hingga sekadar berpapasan dengan orang tersebut (mantan) bisa memicu rasa panik dan ketakutan.

Pada masa itu, aku sempat ditangani oleh seorang dokter muda yang sedang menjalani masa koas di RS Sumber Waras, bahkan kondisiku sempat diangkat sebagai bagian dari penelitiannya.

Di sesi yang sama, aku juga mengungkapkan hal yang selama ini aku simpan rapat-rapat. Bahwa dulu aku pernah memiliki teman imajinasi—lebih tepatnya, pacar imajinasi—yang aku kenal dengan nama Kevin. Beberapa teman dekatku mengetahui hal ini. Pada satu titik, aku bahkan sempat mempercayai bahwa dia nyata. Aku paham pasti ada saja teman-teman yang bertanya kapan Kevin mulai ada dan terbentuk?! Jawabannya aku tidak tahu. Mungkin ketika memasuki usia awal 20 an atau bahkan remaja, entahlah. Bahkan kapan ia mulai memudar pun aku tidak ingat secara pasti.

Tanpa ada hal yang aku sadari, bahwa aku pernah mencoba mencari sosok tersebut di dunia nyata, menjalin hubungan dengan beberapa orang dengan harapan menemukan kesamaan. Namun tentu saja, tidak pernah ada yang benar-benar sama. Dan itu meninggalkan rasa frustrasi yang sulit dijelaskan.

Dari sesi tersebut, aku mendapatkan diagnosis F32.3 – Depressive Episode with Psychotic Symptoms, yang berarti depresi berat yang disertai gejala psikotik. Aku kemudian disarankan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan melalui MMPI test di RSUD, karena fasilitas tersebut tidak tersedia di puskesmas.

Aku menjalani tes itu.

Aku akhirnya menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa melalui tes MMPI-2 di RSUD Pesanggrahan pada 13 Maret 2026. Hasilnya tertuang dalam Surat Keterangan Kesehatan Jiwa dengan dengan kesimpulan yang tidak ringan untuk diterima: Tidak Sehat Rohani.

Kesimpulan “Tidak Sehat Rohani” tentu bukan kalimat yang mudah dibaca. Jujur saja, ada bagian dari diriku yang sempat menolak mempercayainya. Namun ketika aku membuka lembar demi lembar hasil pemeriksaan itu, aku mulai menyadari bahwa angka-angka tersebut bukan sedang menghakimi diriku. Mereka sedang menjelaskan sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal aku jelaskan dengan kata-kata.

Yang selama ini hanya terasa sebagai “perasaan aneh”, ternyata memiliki pola yang cukup konsisten. Kecemasan yang datang tanpa sebab, pikiran yang terus berputar, kesulitan membedakan mana rasa takut yang realistis dan mana yang lahir dari pikiranku sendiri, semuanya muncul berulang di berbagai skala pemeriksaan. Seolah-olah untuk pertama kalinya ada seseorang yang berhasil memetakan kekacauan di dalam kepalaku menjadi sesuatu yang dapat dibaca secara objektif.

Aku tidak lagi sedang berhadapan dengan sekadar dugaan. Untuk pertama kalinya, pengalaman-pengalaman yang selama ini hanya kupendam memperoleh penjelasan yang memiliki dasar psikologis.

Kesimpulan tersebut bukan sekadar label, melainkan rangkuman dari hasil pemeriksaan psikologis dan wawancara klinis yang memotret kondisi mental yang selama ini aku rasakan, namun sulit aku jelaskan secara utuh.

Dalam hasil tersebut, disebutkan adanya gejala gangguan jiwa bermakna yang secara nyata sudah mengganggu fungsi dan aktivitas sehari-hari. Apa yang sebelumnya terasa seperti kekacauan di dalam kepala, kini tergambar dalam bentuk yang lebih terstruktur dan terukur.

Beberapa aspek kondisi mental menunjukkan tingkat risiko yang tinggi. Kecemasan dan kecenderungan fobia berada pada kategori risiko tinggi, dengan indikasi bahwa rasa cemas yang muncul bukan lagi sekadar perasaan sementara, melainkan sudah berdampak langsung pada fungsi hidup. Hal serupa juga terlihat pada fungsi somatik, di mana gejala emosional muncul berulang dan mulai memengaruhi kondisi fisik.

Salah satu hasil yang paling menarik perhatianku berada pada Content Scale. Skala Anxiety (ANX) memperoleh nilai T-score sebesar 90, sementara skala Depression (DEP) berada pada angka 88. Angka tersebut menjelaskan mengapa selama berbulan-bulan aku merasa tubuhku selalu berada dalam keadaan siaga, bahkan ketika tidak ada ancaman nyata di sekitarku.

Selama ini aku sering mengira kecemasan hanyalah bagian dari kepribadianku. Aku terbiasa hidup dengan dada yang sesak, pikiran yang terus mencari kemungkinan terburuk, dan tubuh yang sulit benar-benar rileks. Karena berlangsung begitu lama, aku bahkan lupa bagaimana rasanya hidup tanpa kecemasan.

Kini aku memahami bahwa rasa takut itu bukan sekadar sifat. Ia sudah berkembang menjadi kondisi yang secara nyata memengaruhi cara otakku bekerja.

Dalam aspek hubungan sosial, hasilnya juga menunjukkan risiko tinggi. Kesulitan dalam relasi tidak lagi bersifat ringan, melainkan sudah memengaruhi cara aku berinteraksi dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Salah satu bagian yang paling menggambarkan kondisi tersebut adalah profil kepribadian yang teridentifikasi sebagai Code Type 87-4. Dalam interpretasi klinis, tipe ini sering dikaitkan dengan menurunnya kemampuan berpikir asosiatif serta kesulitan dalam memaknai realitas secara utuh.

Di dalamnya juga ditemukan adanya gejala depresi, kegelisahan yang tidak selalu memiliki sumber yang jelas, serta munculnya ide untuk menyakiti diri sendiri—sesuatu yang belakangan ini memang sempat aku rasakan.

Selain itu, terdapat kecenderungan perasaan tidak aman, sikap yang lebih tertutup, serta riwayat kecurigaan terhadap orang lain. Hal-hal ini tidak hanya hadir sebagai perasaan, tetapi juga mulai memengaruhi cara aku melihat dan merespons lingkungan.

Dari sisi fungsi sehari-hari, hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya hambatan dalam adaptasi. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, termasuk menjalankan beberapa hal sekaligus, menjadi jauh lebih sulit. Ritme kerja pun tercatat tidak stabil, dengan tingkat ketelitian yang sering menurun akibat pengaruh kondisi emosional.

Melalui hasil ini, apa yang selama ini terasa abstrak dan sulit dijelaskan akhirnya mendapatkan bentuk yang lebih jelas. Tes tersebut tidak hanya memberikan diagnosis, tetapi juga memotret secara objektif beban mental yang selama ini aku rasakan—beban yang diam-diam memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan.

Dan dari sana, semakin banyak hal yang terungkap. Bahwa apa yang aku alami bukan sekadar kecemasan. Ada depresi episodik, ada gejala psikotik dengan nilai yang cukup tinggi, ada trauma, ada fobia dan ada indikasi kondisi yang perlu ditelaah lebih lanjut.

Bagian lain yang membuatku cukup lama terdiam adalah munculnya skor Bizarre Mentation (BIZ) sebesar 98, kemudian diperkuat oleh skala Psychoticism pada PSY-5 yang mencapai 91, serta RC8 (Aberrant Experiences) sebesar 83.

Awalnya aku sempat takut membaca istilah-istilah tersebut. Kata “psikotik” sering kali dipahami secara keliru oleh masyarakat seolah identik dengan kehilangan kontak sepenuhnya terhadap realitas. Padahal spektrumnya jauh lebih luas daripada itu.

Dalam konteks yang aku alami, hasil tersebut justru membantu menjelaskan mengapa dahulu aku pernah memiliki pengalaman yang begitu nyata dengan sosok Kevin—pacar imajinasi yang bahkan sempat kupercayai benar-benar ada. Ia juga menjelaskan mengapa terkadang pikiranku dapat membangun narasi yang terasa begitu meyakinkan, meskipun kemudian aku mampu menyadari bahwa pengalaman tersebut kemungkinan berasal dari kondisi psikologis yang sedang memburuk.

Membaca hasil itu memang menyakitkan. Namun pada saat yang sama, ada sedikit rasa lega. Setidaknya kini aku tahu bahwa semua itu bukan karena aku “gila”, melainkan karena ada proses psikologis yang memang sedang terjadi dan membutuhkan penanganan yang tepat.

Merasa penanganan dokter psikiater sebelumnya belum tepat, dan syarat BPJS baru bisa mengajukan pindah setelah tiga bulan, maka aku akhirnya memutuskan untuk melanjutkan ke psikiater swasta di luar jalur BPJS. Aku membawa semua dokumen yang aku miliki—rujukan, hasil pemeriksaan psikolog, hingga hasil tes.

Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar didengar.

Penanganan yang aku terima pun terasa lebih sesuai. Perlahan, kondisi itu mulai berubah. Aku mulai merasa lebih stabil, lebih tenang, dan perlahan kembali merasa menjadi seperti versi diriku yang dulu lagi.

Spike hampir tidak pernah muncul, sesenggukkan tertahan masih sesekali ada meski sangat jarang. Secara keseluruhan kondisiku mulai stabil perlahan. Aku sangat bersyukur memiliki banyak sahabat yang peduli dalam membantuku untuk bangkit dan kembali pulih. Bahkan yang membuat aku terenyuh, mereka diam-diam mengumpulkan dana untuk membantu pengobatanku. Sebab, harga obat dan konsul itu cukup menguras dompet untuk jalur swasta.

Ya, itulah pengalaman yang dapat aku bagikan untuk teman-teman.

Mencari Pertolongan: Langkah Kecil yang Mengubah Arah

Dari semua proses yang aku jalani, ada satu hal yang ingin aku sampaikan dengan jelas: mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian.

Bagi siapa pun yang mungkin sedang berada di fase yang mirip—merasa cemas berlebihan, pikiran tidak pernah benar-benar tenang, mengalami gangguan tidur, kelelahan mental yang terus-menerus, atau bahkan mulai muncul dorongan yang tidak terkendali—itu adalah tanda bahwa kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Di Indonesia, akses terhadap layanan kesehatan mental sebenarnya sudah jauh lebih terbuka dan mudah dijangkau. Salah satu pintu pertama yang bisa diakses adalah melalui Puskesmas terdekat.

Melalui Puskesmas, baik Puskesmas Pembantu atau bahkan Puskesmas Pusat Kecamatan. Di sana kamu bisa melakukan pemeriksaan awal, mendapatkan penilaian medis, serta rujukan ke psikolog atau psikiater jika dibutuhkan. Layanan ini dapat diakses melalui:

  • BPJS Kesehatan, bagi yang terdaftar dalam jaminan kesehatan nasional
  • Jalur mandiri (umum), bagi yang ingin langsung berkonsultasi tanpa menggunakan BPJS

Pengalaman yang aku rasakan sendiri, pelayanan di Puskesmas saat ini sudah jauh berkembang—lebih cepat, lebih responsif, dan tenaga kesehatannya sangat membantu dalam mengarahkan langkah berikutnya.

Adapun beberapa kondisi yang sebaiknya tidak diabaikan dan perlu segera dikonsultasikan antara lain:

Kecemasan atau kesedihan yang berlangsung terus-menerus dan semakin intens, pikiran yang terasa tidak terkendali atau mengganggu aktivitas sehari-hari, gangguan tidur yang berkepanjangan, perasaan lelah secara mental yang tidak kunjung membaik, munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau dorongan yang terasa bukan seperti diri sendiri.

Tidak semua hal harus menunggu sampai “parah” untuk ditangani. Justru, semakin dini seseorang mencari bantuan, semakin besar kemungkinan untuk pulih dengan lebih baik.

Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukan tentang menjadi “baik-baik saja” setiap saat—melainkan tentang berani mengenali ketika kita tidak baik-baik saja, dan mengambil langkah untuk memperbaikinya.

Salam Sehat.

Sometimes, the most relaxed face is the result of the fiercest battles inside. Living alongside anxiety disorder, depressive episodes, and psychosis isn’t about “getting fixed” overnight—it’s about learning to stay grounded when reality feels blurry.

Jujur, aku baru berani membuka ini semua—bahwa selama ini aku sedang berjuang dengan sesuatu yang bahkan dulu aku sendiri tidak benar-benar pahami.

Awalnya terasa kecil, hampir tidak berarti. Aku sering tiba-tiba merasa cemas tanpa alasan yang jelas. Ada sensasi sedih yang seperti tertahan di dada, lalu sesekali keluar dalam bentuk sesenggukan kecil… padahal aku tidak sedang sedih, tidak ada kejadian apa pun yang menyakitkan.

Sensasi itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Dulu aku menganggapnya hanya sebagai firasat—seolah akan terjadi sesuatu. Tapi kenyataannya, tidak pernah ada apa-apa. Semuanya berlalu begitu saja, dan aku menganggapnya normal.

Aku juga terbiasa hidup dengan pikiran yang tidak pernah benar-benar diam. Dialog di dalam kepala sudah seperti pentas teater, overthinking, kesulitan fokus, sulit untuk tidur karena isi kepala terlalu riuh dan kecenderungan mudah terdistraksi menjadi bagian dari keseharian. Awalnya aku pikir semua orang juga mengalaminya.

Seiring berjalannya waktu, semuanya mulai berubah ketika memasuki November hingga Desember 2025, dimana ada badai yang begitu hebat mengguncang kehidupanku dan membuatku mulai goyah. Intensitasnya meningkat. Frekuensinya bertambah. Dan perlahan, semuanya menjadi jauh lebih melelahkan. Mungkin karena aku terbiasa memendam semua persoalanku dan enggan bercerita. Karena bagiku semua orang memiliki persoalannya sendiri sehingga itu membentuk karakterku yang selalu terlihat tegar dan baik-baik saja di hadapan orang lain, padahal di dalam diriku ada terlalu banyak guncangan yang membuatku rapuh.

Memasuki Januari, kondisi itu mencapai titik yang sulit diabaikan. Sesenggukan, kecemasan, dan pikiran yang tidak pernah berhenti bisa muncul hampir setiap jam. Semuanya terasa menumpuk menjadi satu, menciptakan kelelahan yang bukan hanya fisik, tetapi juga mental.

Saat itu, aku masih menyangkal. Aku meyakinkan diri bahwa ini hal biasa. Bahwa mungkin semua orang juga merasakannya.

Ternyata tidak.

Adikku menjadi orang pertama yang benar-benar menyadari perubahan itu. Ia melihat aku menjadi lebih gelisah, lebih mudah panik, dan seperti selalu berada dalam keadaan waspada. Dari situlah, untuk pertama kalinya aku mendengar kalimat yang akhirnya mengubah arah langkahku: “Kak, kamu membutuhkan bantuan profesional.” —Ujarnya.

Aku pun pergi ke puskesmas. Dari sana, aku mendapatkan rujukan pertama dengan diagnosis Anxiety Disorder Unspecified (F41.9). Tetapi petugas di sana mengingatkanku dalam percakapan kami bahwa ada kemungkinan aku mengarah ke Skizofrenia.

Perjalanan berlanjut ke psikiater, di mana aku mulai menjalani pengobatan dengan Fluoxetine di pagi hari dan Clobazam di malam hari. Namun, fase awalnya tidak mudah. Aku mengalami mimpi yang terasa sangat nyata, tidur yang sangat panjang, pandangan yang sempat terasa buram, serta pikiran yang justru semakin tidak terkendali.

Yang paling berat adalah munculnya kembali memori-memori lama yang selama ini aku tekan. Seolah semuanya kembali tanpa diminta.

Di saat yang sama, kecemasan itu sendiri tidak mereda.

Ada momen yang benar-benar membuatku takut pada diriku sendiri. Saat sedang mengendarai motor, tiba-tiba muncul dorongan di dalam kepala untuk menabrakkan diri ke truk yang sedang melaju. Aku panik dan langsung menepi. Di kesempatan lain, muncul juga dorongan untuk meminum semua obat sekaligus.

Itu bukan aku. Tapi rasanya seperti ada sesuatu di dalam kepala yang memaksakan hal itu.

Seiring waktu, aku juga mulai merasa tidak nyaman berada di keramaian. Ada perasaan seolah diperhatikan, dinilai, bahkan menjadi pusat perhatian. Di satu sisi aku sadar itu mungkin hanya perasaanku, tetapi di sisi lain, rasa cemasnya tetap nyata.

Memasuki minggu kedua pengobatan, aku berharap ada evaluasi. Namun yang aku terima hanya resep yang sama, tanpa pendalaman lebih lanjut. Setiap kali mencoba menjelaskan kondisiku, pembicaraanku sering terpotong. Aku mulai merasa seolah-olah apa yang aku alami dianggap berlebihan atau bahkan tidak nyata.

Ketika keluar dari ruangan dokter, tanganku gemetar. Di momen itu, aku menyadari satu hal dengan sangat jelas: aku membutuhkan bantuan dari seseorang yang benar-benar mau mendengarkan.

Dengan tangan yang masih gemetar karena tremor akibat serangan cemas dan panik atau sering di sebut Spike, aku kembali menghubungi pihak puskesmas yang kebetulan kami memang bertukar kontak whatsapp saat kunjungan pertamaku dan kuceritakan semua kondisiku saat itu lalu meminta rujukan ke psikolog. Syukurnya pihak puskesmas sigap dan langsung membuatkanku jadwal bertemu psikolog untuk keesokan paginya. Di sana, Puskesmas Pusat Kecamatan, untuk pertama kalinya, aku diminta untuk benar-benar bercerita—bukan hanya tentang apa yang terjadi sekarang, tetapi juga tentang masa lalu.

Aku pun mulai membuka semuanya.

Aku bercerita tentang tahun 2013, saat aku mengalami depresi berat. Saat itu, aku sering terbangun di tengah malam, menangis tanpa sebab yang jelas, meringkuk sambil memeluk diri sendiri, dan merasakan kehampaan yang sangat dalam. Semua itu dipicu oleh hubungan yang toxic, yang meninggalkan trauma begitu kuat hingga sekadar berpapasan dengan orang tersebut (mantan) bisa memicu rasa panik dan ketakutan.

Pada masa itu, aku sempat ditangani oleh seorang dokter muda yang sedang menjalani masa koas di RS Sumber Waras, bahkan kondisiku sempat diangkat sebagai bagian dari penelitiannya.

Di sesi yang sama, aku juga mengungkapkan hal yang selama ini aku simpan rapat-rapat. Bahwa dulu aku pernah memiliki teman imajinasi—lebih tepatnya, pacar imajinasi—yang aku kenal dengan nama Kevin. Beberapa teman dekatku mengetahui hal ini. Pada satu titik, aku bahkan sempat mempercayai bahwa dia nyata. Aku paham pasti ada saja teman-teman yang bertanya kapan Kevin mulai ada dan terbentuk?! Jawabannya aku tidak tahu. Mungkin ketika memasuki usia awal 20 an atau bahkan remaja, entahlah. Bahkan kapan ia mulai memudar pun aku tidak ingat secara pasti.

Tanpa ada hal yang aku sadari, bahwa aku pernah mencoba mencari sosok tersebut di dunia nyata, menjalin hubungan dengan beberapa orang dengan harapan menemukan kesamaan. Namun tentu saja, tidak pernah ada yang benar-benar sama. Dan itu meninggalkan rasa frustrasi yang sulit dijelaskan.

Dari sesi tersebut, aku mendapatkan diagnosis F32.3 – Depressive Episode with Psychotic Symptoms, yang berarti depresi berat yang disertai gejala psikotik. Aku kemudian disarankan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan melalui MMPI test di RSUD, karena fasilitas tersebut tidak tersedia di puskesmas.

Aku menjalani tes itu.

Aku akhirnya menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa melalui tes MMPI-2 di RSUD Pesanggrahan pada 13 Maret 2026. Hasilnya tertuang dalam Surat Keterangan Kesehatan Jiwa dengan dengan kesimpulan yang tidak ringan untuk diterima: Tidak Sehat Rohani.

Kesimpulan tersebut bukan sekadar label, melainkan rangkuman dari hasil pemeriksaan psikologis dan wawancara klinis yang memotret kondisi mental yang selama ini aku rasakan, namun sulit aku jelaskan secara utuh.

Dalam hasil tersebut, disebutkan adanya gejala gangguan jiwa bermakna yang secara nyata sudah mengganggu fungsi dan aktivitas sehari-hari. Apa yang sebelumnya terasa seperti kekacauan di dalam kepala, kini tergambar dalam bentuk yang lebih terstruktur dan terukur.

Beberapa aspek kondisi mental menunjukkan tingkat risiko yang tinggi. Kecemasan dan kecenderungan fobia berada pada kategori risiko tinggi, dengan indikasi bahwa rasa cemas yang muncul bukan lagi sekadar perasaan sementara, melainkan sudah berdampak langsung pada fungsi hidup. Hal serupa juga terlihat pada fungsi somatik, di mana gejala emosional muncul berulang dan mulai memengaruhi kondisi fisik.

Dalam aspek hubungan sosial, hasilnya juga menunjukkan risiko tinggi. Kesulitan dalam relasi tidak lagi bersifat ringan, melainkan sudah memengaruhi cara aku berinteraksi dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Pada bagian kepribadian dan kinerja, hasil MMPI juga menunjukkan risiko tinggi dalam aspek hubungan interpersonal. Kemampuan bekerja sama, sensitivitas terhadap orang lain, fleksibilitas menghadapi perubahan, hingga kontrol amarah memperoleh kategori risiko tinggi.

Menariknya, hal ini bukan berarti aku senang bermusuhan dengan orang lain. Justru yang sering terjadi adalah sebaliknya. Aku terlalu lama memendam semuanya sendirian. Aku menghindari konflik, memilih diam, lalu membiarkan tekanan itu terus menumpuk hingga akhirnya meledak dalam bentuk kecemasan, kelelahan emosional, atau ledakan emosi yang bahkan membuatku sendiri terkejut.

Aku mulai memahami bahwa diam bukan selalu bentuk kedewasaan. Kadang-kadang, diam hanyalah cara seseorang bertahan ketika ia tidak lagi tahu bagaimana menjelaskan isi kepalanya kepada orang lain.

Salah satu bagian yang paling menggambarkan kondisi tersebut adalah profil kepribadian yang teridentifikasi sebagai Code Type 87-4. Dalam interpretasi klinis, tipe ini sering dikaitkan dengan menurunnya kemampuan berpikir asosiatif serta kesulitan dalam memaknai realitas secara utuh.

Di dalamnya juga ditemukan adanya gejala depresi, kegelisahan yang tidak selalu memiliki sumber yang jelas, serta munculnya ide untuk menyakiti diri sendiri—sesuatu yang belakangan ini memang sempat aku rasakan.

Selain itu, terdapat kecenderungan perasaan tidak aman, sikap yang lebih tertutup, serta riwayat kecurigaan terhadap orang lain. Hal-hal ini tidak hanya hadir sebagai perasaan, tetapi juga mulai memengaruhi cara aku melihat dan merespons lingkungan.

Dari sisi fungsi sehari-hari, hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya hambatan dalam adaptasi. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, termasuk menjalankan beberapa hal sekaligus, menjadi jauh lebih sulit. Ritme kerja pun tercatat tidak stabil, dengan tingkat ketelitian yang sering menurun akibat pengaruh kondisi emosional.

Hasil MMPI juga menunjukkan bahwa kondisi ini ternyata telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupanku. Pada Restructured Clinical Scale, RC7 (Dysfunctional Negative Emotions) memperoleh skor 85. Skala ini menggambarkan individu yang mengalami emosi negatif secara terus-menerus, sulit merasa tenang, serta cenderung hidup dalam keadaan tegang berkepanjangan.

Saat membacanya, aku langsung teringat bagaimana setiap hari pikiranku terasa penuh. Bahkan ketika tidak ada masalah, tubuhku tetap bersiap menghadapi sesuatu yang buruk. Aku selalu merasa harus waspada terhadap kemungkinan yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Tidak mengherankan jika kemudian kualitas tidurku menurun, konsentrasi mudah pecah, dan tenaga seolah habis hanya untuk bertahan menjalani hari.

Melalui hasil ini, apa yang selama ini terasa abstrak dan sulit dijelaskan akhirnya mendapatkan bentuk yang lebih jelas. Tes tersebut tidak hanya memberikan diagnosis, tetapi juga memotret secara objektif beban mental yang selama ini aku rasakan—beban yang diam-diam memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan.

Dan dari sana, semakin banyak hal yang terungkap. Bahwa apa yang aku alami bukan sekadar kecemasan. Ada depresi episodik, ada gejala psikotik dengan nilai yang cukup tinggi, ada trauma, ada fobia dan ada indikasi kondisi yang perlu ditelaah lebih lanjut.

Merasa penanganan dokter psikiater sebelumnya belum tepat, dan syarat BPJS baru bisa mengajukan pindah setelah tiga bulan, maka aku akhirnya memutuskan untuk melanjutkan ke psikiater swasta di luar jalur BPJS. Aku membawa semua dokumen yang aku miliki—rujukan, hasil pemeriksaan psikolog, hingga hasil tes.

Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar didengar.

Penanganan yang aku terima pun terasa lebih sesuai. Perlahan, kondisi itu mulai berubah. Aku mulai merasa lebih stabil, lebih tenang, dan perlahan kembali merasa menjadi seperti versi diriku yang dulu lagi.

Spike hampir tidak pernah muncul, sesenggukkan tertahan masih sesekali ada meski sangat jarang. Secara keseluruhan kondisiku mulai stabil perlahan. Aku sangat bersyukur memiliki banyak sahabat yang peduli dalam membantuku untuk bangkit dan kembali pulih. Bahkan yang membuat aku terenyuh, mereka diam-diam mengumpulkan dana untuk membantu pengobatanku. Sebab, harga obat dan konsul itu cukup menguras dompet untuk jalur swasta.

Ada satu hasil lain yang cukup membuatku merenung, yaitu tingginya skor pada skala Treatment (TRT) yang mencapai 96. Dalam interpretasi MMPI, skor yang tinggi pada skala ini sering menunjukkan bahwa seseorang dapat merasa pesimis terhadap proses terapi, mempertanyakan efektivitas pertolongan, atau mengalami kesulitan membangun kepercayaan dalam hubungan terapeutik.

Ketika membaca penjelasan tersebut, aku langsung teringat pengalaman saat bertemu psikiater pertama. Aku berkali-kali mencoba menjelaskan apa yang sedang kurasakan, tetapi pembicaraan terasa terpotong sebelum selesai. Saat itu aku pulang dengan perasaan bahwa mungkin tidak ada yang benar-benar memahami apa yang sedang terjadi di kepalaku.

Ironisnya, hasil MMPI justru menggambarkan pengalaman itu dengan cukup akurat. Bukan karena aku menolak dibantu, melainkan karena aku memang membutuhkan ruang yang aman untuk benar-benar didengarkan. Dan ketika akhirnya bertemu tenaga profesional yang mau mendengar tanpa tergesa-gesa menyimpulkan, proses pemulihan itu perlahan mulai berjalan.

Ya, itulah pengalaman yang dapat aku bagikan untuk teman-teman.

Mencari Pertolongan: Langkah Kecil yang Mengubah Arah

Dari semua proses yang aku jalani, ada satu hal yang ingin aku sampaikan dengan jelas: mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian.

Bagi siapa pun yang mungkin sedang berada di fase yang mirip—merasa cemas berlebihan, pikiran tidak pernah benar-benar tenang, mengalami gangguan tidur, kelelahan mental yang terus-menerus, atau bahkan mulai muncul dorongan yang tidak terkendali—itu adalah tanda bahwa kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Di Indonesia, akses terhadap layanan kesehatan mental sebenarnya sudah jauh lebih terbuka dan mudah dijangkau. Salah satu pintu pertama yang bisa diakses adalah melalui Puskesmas terdekat.

Melalui Puskesmas, baik Puskesmas Pembantu atau bahkan Puskesmas Pusat Kecamatan. Di sana kamu bisa melakukan pemeriksaan awal, mendapatkan penilaian medis, serta rujukan ke psikolog atau psikiater jika dibutuhkan. Layanan ini dapat diakses melalui:

  • BPJS Kesehatan, bagi yang terdaftar dalam jaminan kesehatan nasional
  • Jalur mandiri (umum), bagi yang ingin langsung berkonsultasi tanpa menggunakan BPJS

Pengalaman yang aku rasakan sendiri, pelayanan di Puskesmas saat ini sudah jauh berkembang—lebih cepat, lebih responsif, dan tenaga kesehatannya sangat membantu dalam mengarahkan langkah berikutnya.

Adapun beberapa kondisi yang sebaiknya tidak diabaikan dan perlu segera dikonsultasikan antara lain:

Kecemasan atau kesedihan yang berlangsung terus-menerus dan semakin intens, pikiran yang terasa tidak terkendali atau mengganggu aktivitas sehari-hari, gangguan tidur yang berkepanjangan, perasaan lelah secara mental yang tidak kunjung membaik, munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau dorongan yang terasa bukan seperti diri sendiri.

Tidak semua hal harus menunggu sampai “parah” untuk ditangani. Justru, semakin dini seseorang mencari bantuan, semakin besar kemungkinan untuk pulih dengan lebih baik.

Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukan tentang menjadi “baik-baik saja” setiap saat—melainkan tentang berani mengenali ketika kita tidak baik-baik saja, dan mengambil langkah untuk memperbaikinya.

Salam Sehat.


Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca