Ruang ini berisi pemikiran, refleksi, dan perspektif yang saya susun sebagai bagian dari perjalanan profesional.
Saya menulis tentang industri, personal branding, dinamika sosial, serta pengalaman yang membentuk cara saya melihat dan menjalani profesi.
Bagi saya, menulis adalah proses merapikan gagasan. Setiap artikel merupakan catatan pemikiran yang berkembang seiring waktu.
Halaman ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan arsip ide dan sudut pandang yang merepresentasikan cara saya berpikir.
Banyak orang menganggap personal branding seorang Makeup Artist dimulai dan berakhir di Instagram. Saya memahami pandangan tersebut, karena Instagram juga menjadi tempat pertama saya membangun karier profesional.
Pada September 2015, saya memutuskan untuk berdiri di bawah nama sendiri dan tidak lagi bekerja sebagai asisten Makeup Artist. Saat itu saya belum memiliki banyak koneksi, belum memiliki nama besar, dan tentu saja belum memiliki ribuan pengikut. Yang saya miliki hanyalah keberanian untuk memulai.
Saya mengirim pesan langsung kepada banyak fotografer satu per satu melalui Instagram. Tujuannya sederhana: meminta kesempatan untuk ikut berkolaborasi dalam sesi test shoot model, terutama model internasional. Hasilnya tidak selalu menyenangkan.
Sebagian menolak. Sebagian mengatakan “nanti ya”. Sebagian lagi tidak pernah membalas hingga hari ini.
Namun dari sekian banyak pesan yang saya kirim, ada satu fotografer yang memberi saya kesempatan, yaitu Bosco Wijaya. Saat itu saya bahkan tidak meminta bayaran. Saya hanya meminta biaya transportasi dan makan selama sesi pemotretan. Kesempatan kecil tersebut menjadi titik awal yang mengubah banyak hal.
Ketika hasil riasan saya mulai muncul di portofolio fotografer dan agensi model, perlahan kepercayaan mulai tumbuh. Satu per satu fotografer mulai mengajak saya bekerja secara profesional. Saat itu tarif saya untuk sesi pemotretan hingga delapan jam masih berada di kisaran Rp500.000.
Menariknya, pekerjaan saya tidak hanya sebatas makeup dan hairdo. Dalam berbagai sesi editorial dan fashion, saya juga sering membantu mengarahkan pose model untuk kebutuhan beauty, editorial, maupun high fashion.
Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa reputasi tidak dibangun dalam semalam. Reputasi tumbuh dari hasil kerja yang konsisten, hubungan profesional yang baik, dan kesediaan untuk terus belajar.
Instagram Adalah Awal, Bukan Akhir
Saya tidak pernah berpikir bahwa Instagram tidak cukup penting. Justru di sanalah karier saya dimulai. Namun seiring waktu, saya menyadari bahwa kehadiran digital tidak bisa bergantung pada satu platform saja.
Saya mulai membangun website pribadi dan menghubungkannya dengan mesin pencari. Dari sana saya mulai mendapatkan calon klien yang menemukan saya melalui Google.
Ketika Google Business diluncurkan, saya termasuk salah satu yang cukup cepat memanfaatkannya. Saya mulai mengumpulkan ulasan dari klien dan membangun kehadiran bisnis yang lebih profesional di pencarian Google.
Saat itu saya juga menjalankan berbagai strategi sederhana. Beberapa klien memberikan ulasan secara sukarela, sementara sebagian lainnya mendapatkan potongan harga sebagai bentuk apresiasi setelah memberikan review yang jujur mengenai pengalaman mereka menggunakan jasa saya.
Ketika Instagram dan Google mulai menghadirkan sistem periklanan digital, saya juga ikut memanfaatkannya untuk memperluas jangkauan pasar.
Perubahan Cara Klien Mencari Makeup Artist
Jika dahulu sebagian besar klien menemukan saya melalui Instagram, situasinya kini berbeda.Saat ini banyak calon klien yang menemukan saya melalui Google terlebih dahulu. Bahkan semakin sering saya mendengar bahwa mereka menemukan nama saya melalui hasil pencarian yang dibantu teknologi AI sebelum akhirnya mengunjungi Instagram.
Perubahan ini menunjukkan bahwa perilaku konsumen terus berkembang.Mereka tidak lagi hanya melihat feed yang menarik. Mereka ingin mengetahui rekam jejak, ulasan, pengalaman, serta jejak profesional seseorang di internet.
Mengapa Saya Mulai Lebih Serius Menggunakan LinkedIn
Sebenarnya saya sudah menggunakan LinkedIn sejak lama. Awalnya saya melihat platform tersebut sebagai peluang untuk membuka kesempatan kerja yang lebih luas, termasuk kemungkinan kolaborasi internasional. Namun saya tidak terlalu fokus mengembangkannya.
Belakangan ini saya mulai memberi perhatian lebih besar kepada LinkedIn karena saya menyadari pentingnya personal branding yang kuat.
Bagi saya, LinkedIn bukan tempat untuk memamerkan hasil makeup semata. Platform ini memungkinkan saya berbagi pengalaman, pandangan, dan perjalanan profesional yang telah saya bangun selama bertahun-tahun.
Di era digital, reputasi tidak hanya dibangun melalui foto yang menarik, tetapi juga melalui pemikiran, pengalaman, dan kontribusi yang dapat dibagikan kepada orang lain.
Menulis Sebagai Bagian dari Personal Branding
Di luar dunia makeup, saya memiliki ketertarikan terhadap dunia tulis-menulis sejak masih duduk di bangku sekolah.
Kebiasaan tersebut bermula dari menulis diary yang diperkenalkan oleh ibu saya. Dari sana saya mulai tertarik pada sastra dan sempat bercita-cita menjadi wartawan maupun sastrawan. Meski tidak saya tekuni secara penuh sebagai profesi utama, menulis selalu menjadi bagian dari perjalanan saya.
Saat ini saya kembali aktif menulis. Awalnya sebagai bentuk healing dan refleksi pribadi. Namun seiring waktu saya menyadari bahwa tulisan juga dapat menjadi cara untuk berbagi pengalaman serta membangun kredibilitas profesiona

Tinggalkan Balasan