Ada satu hal yang selalu saya ingat ketika melihat hasil pekerjaan saya hari ini: saya tidak memulai perjalanan dari dunia makeup.
Banyak orang mengenal saya sebagai seorang makeup artist. Mereka melihat hasil karya yang saya bagikan di media sosial, berbagai proyek beauty, editorial, fashion, commercial campaign, hingga special effects makeup (SFX). Namun, yang sering kali tidak terlihat adalah perjalanan panjang yang membawa saya sampai ke titik ini. Tidak ada jalan yang lurus. Tidak ada kisah yang sepenuhnya mudah. Semua dibangun dari proses yang panjang, pekerjaan yang silih berganti, kegagalan, rasa ragu, dan keyakinan untuk terus belajar.
Jauh sebelum mengenal beauty editorial atau special effects makeup, saya adalah seseorang yang menyukai dunia menulis. Ketertarikan itu tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah. Saya senang membaca, mengamati orang-orang di sekitar saya, lalu menuangkannya dalam bentuk cerita. Saya aktif mengisi majalah dinding sekolah, mencoba menyusun kalimat demi kalimat, sekaligus belajar memahami bagaimana sebuah cerita mampu menyampaikan emosi kepada pembacanya.
Saat itu saya belum pernah membayangkan akan menjadi seorang makeup artist. Dunia yang saya kenal hanyalah dunia kata-kata. Saya percaya bahwa tulisan mampu menghidupkan karakter, membangun suasana, dan membuat seseorang melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Tanpa saya sadari, kemampuan itu kelak menjadi bekal yang sangat berharga ketika saya memasuki industri kreatif.
Setelah lulus sekolah pada tahun 2006, kehidupan membawa saya ke arah yang sama sekali berbeda. Saya mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saya pernah menjadi kasir di sebuah restoran Chinese food, bekerja sebagai staf gudang, hingga berjualan kue tradisional di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan.
Jika mengingat masa itu sekarang, saya tidak melihatnya sebagai pekerjaan yang rendah ataupun tidak berarti. Justru dari pekerjaan-pekerjaan tersebut saya belajar mengenai disiplin, tanggung jawab, dan bagaimana menghargai setiap proses. Saya belajar bahwa pekerjaan apa pun layak dihormati selama dilakukan dengan jujur. Saya juga belajar menghadapi berbagai karakter manusia, memahami cara berkomunikasi, serta menyadari bahwa setiap orang sedang berjuang dengan cerita hidupnya masing-masing.
Di tengah rutinitas bekerja, saya tetap menulis. Dunia literasi tidak pernah benar-benar saya tinggalkan. Menulis menjadi ruang untuk berpikir sekaligus cara saya menjaga mimpi tetap hidup. Pada tahun 2010, salah satu cerpen saya dimuat di Story Teen Lit Magz. Bagi sebagian orang mungkin itu hanyalah sebuah publikasi kecil, tetapi bagi saya, momen tersebut menjadi pengingat bahwa mimpi yang terus dipelihara akan selalu menemukan jalannya.
Dua tahun kemudian, perjalanan saya kembali berubah. Pada tahun 2012 saya bergabung sebagai Public Relations di Bara Kebaya. Di sinilah saya mulai mengenal dunia fashion, fotografi, branding, media, dan komunikasi visual secara lebih dekat.
Saya melihat bagaimana sebuah koleksi busana dipersiapkan, bagaimana konsep pemotretan dibangun, bagaimana warna, pencahayaan, dan styling dipilih dengan pertimbangan yang matang. Saya menyadari bahwa sebuah visual yang baik tidak pernah tercipta secara kebetulan. Di balik satu foto yang terlihat sederhana, ada banyak proses kreatif yang saling mendukung satu sama lain.
Pengalaman tersebut perlahan mengubah cara saya memandang dunia kreatif. Saya mulai memahami bahwa sebuah karya visual juga mampu bercerita, sama seperti sebuah tulisan. Bedanya, jika tulisan menggunakan kata-kata, maka visual menggunakan bentuk, warna, ekspresi, cahaya, dan komposisi.
Dari sanalah ketertarikan saya terhadap dunia makeup mulai tumbuh.
Awalnya saya hanya merasa tertarik melihat bagaimana perubahan kecil pada wajah dapat mengubah keseluruhan karakter seseorang. Semakin saya belajar, semakin saya memahami bahwa makeup bukan sekadar aktivitas mempercantik wajah. Makeup adalah bahasa visual. Ia mampu membangun suasana, memperkuat identitas, menghidupkan konsep, bahkan membantu menyampaikan pesan tanpa harus mengucapkan satu kata pun.
Perjalanan menuju profesi makeup artist tentu tidak terjadi dalam semalam. Saya belajar dari banyak pengalaman, mengamati para profesional, terus berlatih, menerima kritik, memperbaiki teknik, dan berusaha memahami bahwa setiap wajah memiliki karakter yang berbeda. Tidak ada satu formula yang bisa diterapkan kepada semua orang. Setiap proyek selalu mengajarkan sesuatu yang baru.
Seiring waktu, saya mulai terlibat dalam berbagai proyek beauty, fashion editorial, commercial campaign, hingga special effects makeup. Setiap bidang memiliki tantangan yang berbeda. Beauty mengajarkan presisi dan detail. Fashion editorial menuntut kemampuan menerjemahkan konsep menjadi visual. Commercial campaign membutuhkan konsistensi terhadap identitas sebuah merek. Sementara SFX mengajak saya mengeksplorasi kreativitas tanpa batas.
Dari semua bidang tersebut, special effects makeup memiliki tempat yang istimewa bagi saya.
Bagi saya, SFX memiliki kesamaan dengan dunia menulis yang saya cintai sejak lama. Seorang penulis membangun karakter melalui kata-kata, sedangkan makeup artist membangunnya melalui visual. Seorang penulis menciptakan tokoh yang membuat pembaca percaya terhadap cerita. Makeup artist melakukan hal yang sama melalui riasan, prostetik, tekstur, warna, dan detail yang membuat penonton percaya terhadap karakter yang mereka lihat.








Pada akhirnya, saya menyadari bahwa saya tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia menulis. Bentuknya saja yang berubah.
Hubungan saya dengan dunia literasi tetap berjalan hingga beberapa tahun kemudian. Pada tahun 2022, saya terlibat dalam proses penerbitan buku Sekolah Sambil Kerja di Australia karya Erick Octavian sebagai ghostwriter, editor, sekaligus penata letak. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa identitas kreatif seseorang tidak harus dibatasi oleh satu profesi. Seseorang dapat tetap menulis, mengedit, berkarya secara visual, dan terus berkembang di berbagai bidang yang saling melengkapi.
Semakin jauh perjalanan ini berlangsung, semakin saya memahami bahwa kreativitas sebenarnya saling terhubung. Kemampuan menyusun cerita membantu saya membangun konsep makeup. Pengalaman di bidang public relations membantu saya memahami komunikasi dan personal branding. Dunia editorial mengajarkan pentingnya estetika. Sementara pengalaman bekerja di berbagai bidang mengajarkan saya untuk tetap rendah hati dan menghargai setiap kesempatan.
Hari ini saya melihat seluruh perjalanan itu sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Dari kasir restoran, staf gudang, penjual kue, penulis, public relations, editor, ghostwriter, hingga menjadi seorang professional makeup artist.
Tidak satu pun perjalanan itu terasa sia-sia.
Setiap fase memberi saya sesuatu yang tidak mungkin saya pelajari jika hanya berjalan di satu jalur. Semua pengalaman tersebut membentuk cara saya berpikir, cara saya bekerja, dan cara saya memandang setiap karya yang saya hasilkan hari ini.
Saya percaya bahwa hidup tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Kadang kita harus melewati jalan yang memutar, mencoba berbagai peran, bahkan merasa tersesat, sebelum akhirnya menemukan tempat yang benar-benar sesuai dengan diri kita.
Sering kali kita baru memahami arti sebuah perjalanan setelah melihatnya dari kejauhan.
Saat berada di tengah proses, kita hanya melihat kesulitan, kebingungan, atau ketidakpastian. Namun ketika menoleh ke belakang, barulah terlihat bahwa setiap langkah ternyata saling terhubung dan membentuk cerita yang utuh.
Saya tidak menyesali satu pun fase yang pernah saya jalani.
Karena tanpa pengalaman sebagai pekerja restoran, saya mungkin tidak akan memahami arti melayani dengan tulus. Tanpa bekerja di gudang, saya mungkin tidak akan belajar tentang disiplin dan ketelitian. Tanpa menjadi penjual kue, saya mungkin tidak akan memahami arti kerja keras. Tanpa menulis, saya mungkin tidak akan memahami bagaimana membangun karakter. Tanpa public relations, saya mungkin tidak akan mengenal dunia visual. Dan tanpa semua perjalanan itu, saya mungkin tidak akan menjadi pribadi yang sama seperti hari ini.
Perjalanan panjang ini juga membentuk cara saya memandang industri di era digital. Baca refleksi saya tentang peran AI dalam profesi makeup artist: Makeup Artist di Era AI: Ketika Kuas Bertemu Branding dan Teknologi. Dan jika kamu ingin tahu mengapa reputasi lebih penting dari sekadar followers, baca juga: Mengapa Makeup Artist Perlu Membangun Reputasi, Bukan Sekadar Akun Instagram Estetik.
Karena itulah saya memilih untuk menolak lupa.
Sebab setiap langkah, sekecil apa pun, telah menjadi bagian dari cerita yang membawa saya ke tempat saya berdiri sekarang.

Tinggalkan Balasan