THE SAINT FADES AFTER DARK
Love goes in many ways.
Having sex doesn’t make you a hoe,
and waiting didn’t turn you into a housewife.
We are human, we have hormones, urges,
wants, needs, and desires.
Moral superiority doesn’t make you better than anyone. Pretending to be pure doesn’t erase desire. Hypocrisy wears many faces!
Disclaimer:
Inti dari tulisan ini bukan membenarkan s*k bebas, melainkan satir, metaforis, dan sarkasme gelap tentang bagaimana manusia sering berpura-pura lebih suci dari orang lain, padahal hasrat dan dorongan manusianya pada dasarnya sama. Dan perempuan di sini hanya digunakan sebagai simbol dari bagaimana masyarakat memberi label moral terhadap desire.
Target kritik utamanya sebenarnya adalah:
- virtue signaling,
- moral performance,
- standar ganda dalam relasi seksual,
- dan kemunafikan sosial di komunitas yang sebenarnya sama-sama punya desire.
Jika dipahami lebih dalam, kalimat:
“Having sex doesn’t make you a hoe”
bukan sekadar tentang perempuan. “Hoe” di sini adalah metafora untuk:
- label sosial,
- stigma,
- dan penghakiman moral terhadap orang yang terbuka soal hasrat.
Sedangkan:
“waiting didn’t turn you into a housewife”
adalah sindiran untuk orang yang merasa:
- lebih bermoral,
- lebih “proper”,
- lebih layak dihormati,
hanya karena berhasil menjaga citra purity tertentu. Padahal kenyataannya cukup sederhana: banyak orang bukan benar-benar menolak s*ks — mereka hanya menolak terlihat “murahan”.
Bagian satir paling kuat justru tersembunyi dalam paradoks ini: Orang sering membuat standar moral yang bahkan mereka sendiri akan langgar dalam kondisi tertentu.
Dan secara spesifik, sindiran ini juga ditujukan pada sebagian komunitas gay modern di Indonesia yang sering berkata:
“aku cuma mau s*x atau intimacy sama pacar.”
Namun ironinya, standar moral itu sering berubah ketika validasi, ketertarikan fisik (ketampanan, bentuk tubuh yang attracktive), privilege attraction, atau fantasi yang tepat datang mengetuk. Dan di situlah kemunafikan mulai terlihat meluntur seketika.
Hal yang sama juga terlihat pada istilah “NFF / not for free” di dating apps (padahal physical appearance minus), yang cenderung memperlakukan hubungan seksual seolah transaksi satu arah. Padahal pada akhirnya kedua pihak sama-sama punya desire, sama-sama mencari validasi, dan sama-sama menikmati.
Ya, kecuali memang visual dan social value-mu berada di “Top Tier”, mungkin saja itu berubah jadi privilege, bukan lagi bahan lelucon.
The Saint Fades After Dark: Mengapa Kita Sering Berpura-pura Lebih Suci?
Di media sosial, saya menulis sebuah poster dengan latar merah menyala bertuliskan The Saint Fades After Dark. Di bawahnya terdapat kalimat yang cukup provokatif:
Love goes in many ways. Having sex doesn’t make you a hoe, and waiting didn’t turn you into a housewife. We are human, we have hormones, urges, wants, needs, and desires.
Sekilas, banyak orang mungkin akan menganggapnya sebagai ajakan untuk membenarkan seks bebas atau merelatifkan nilai moral. Namun, menurut saya, pemahaman seperti itu justru berhenti pada permukaan. Poster tersebut dapat dibaca sebagai sebuah satir, metafora, dan sarkasme gelap mengenai kecenderungan manusia membangun citra moral yang sering kali tidak selalu sejalan dengan realitas dirinya.
Sebelum melanjutkan pembahasan, saya perlu memberikan satu penegasan penting. Tulisan ini bukan bertujuan membenarkan seks bebas, bukan pula mengajak mengabaikan nilai-nilai moral yang dianut setiap individu maupun masyarakat. Fokus tulisan ini justru berada pada fenomena sosial yang lebih luas, yaitu bagaimana manusia kerap menjadikan moralitas sebagai identitas yang dipertontonkan, sementara hasrat, kelemahan, dan kontradiksi tetap menjadi bagian dari kodrat manusia.
Kalimat “Having sex doesn’t make you a hoe” bukan sekadar berbicara mengenai perempuan ataupun aktivitas seksual. Dalam konteks ini, kata hoe dapat dipahami sebagai simbol dari label sosial yang diberikan kepada seseorang karena pilihan hidup atau cara ia mengekspresikan dirinya. Sebaliknya, kalimat “waiting didn’t turn you into a housewife” juga tidak sedang merendahkan pilihan seseorang untuk menunggu atau menjaga diri. Kalimat tersebut merupakan sindiran terhadap anggapan bahwa seseorang otomatis menjadi lebih baik, lebih suci, atau lebih layak dihormati hanya karena berhasil mempertahankan citra tertentu di hadapan masyarakat.
Di sinilah letak ironi yang menarik. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering kali lebih cepat menilai penampilan moral seseorang daripada memahami kompleksitas manusia itu sendiri. Label “baik”, “nakal”, “bermoral”, atau “tidak bermoral” sering kali diberikan berdasarkan apa yang tampak di permukaan, bukan berdasarkan keseluruhan karakter ataupun konsistensi nilai yang dijalankan seseorang.
Fenomena tersebut dalam psikologi sosial memiliki kemiripan dengan konsep virtue signaling. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang menampilkan citra sebagai individu yang memiliki standar moral tinggi, bukan semata-mata karena ingin menjalankan nilai tersebut, tetapi juga karena ingin memperoleh pengakuan sosial. Dengan kata lain, moralitas tidak lagi hanya menjadi prinsip hidup, melainkan juga menjadi bagian dari strategi membangun reputasi.
Media sosial memperlihatkan fenomena ini dengan sangat jelas. Orang dapat menampilkan citra sebagai pribadi yang menjunjung nilai tertentu, mengecam perilaku orang lain, atau menghakimi pilihan hidup seseorang. Namun, pada saat yang sama, kehidupan pribadi setiap individu sering kali jauh lebih kompleks daripada narasi yang mereka tampilkan kepada publik. Tidak semua orang yang terlihat suci benar-benar bebas dari konflik batin, sebagaimana tidak semua orang yang terbuka mengenai kelemahannya layak menerima stigma.
Hasrat sendiri bukanlah sesuatu yang asing bagi manusia. Keinginan untuk dicintai, diterima, diinginkan, atau memiliki kedekatan emosional maupun fisik merupakan bagian dari pengalaman manusia yang telah dibahas dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari psikologi hingga filsafat. Persoalannya bukan terletak pada ada atau tidaknya hasrat tersebut, melainkan bagaimana seseorang memilih bersikap terhadapnya. Namun dalam praktik sosial, yang sering kali dinilai bukanlah cara seseorang mengelola hasrat, melainkan seberapa baik ia mampu mempertahankan citra bahwa dirinya tidak memiliki hasrat sama sekali.
Barangkali karena itulah judul The Saint Fades After Dark terasa begitu kuat. “Orang suci” dalam judul tersebut bukan harus dipahami secara harfiah, melainkan sebagai metafora tentang identitas moral yang perlahan memudar ketika tidak lagi berada di bawah sorotan publik. Saat pengawasan sosial menghilang, batas antara mereka yang merasa lebih suci dan mereka yang mereka hakimi sering kali menjadi jauh lebih tipis daripada yang dibayangkan.
Lalu pertanyaannya menjadi sederhana, tetapi tidak mudah dijawab: apakah moralitas yang selama ini kita lihat benar-benar lahir dari prinsip yang diyakini, atau hanya dari citra yang ingin dipertahankan di hadapan orang lain?
Hasrat adalah Bagian dari Kodrat Manusia
Salah satu kesalahpahaman yang paling sering muncul dalam diskusi mengenai moralitas adalah anggapan bahwa orang yang bermoral tidak memiliki hasrat. Padahal, keberadaan hasrat dan keputusan untuk bertindak berdasarkan hasrat merupakan dua hal yang berbeda. Memiliki desire adalah bagian dari kodrat manusia, sedangkan bagaimana seseorang mengelolanya merupakan wilayah etika, nilai, dan pilihan pribadi.
Dalam psikologi, desire dipahami sebagai dorongan yang muncul secara alami, baik dalam bentuk kebutuhan akan kedekatan emosional, penerimaan sosial, pengakuan, maupun ketertarikan seksual. Dorongan tersebut tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu, tetapi merupakan bagian dari pengalaman hampir setiap manusia. Bahkan berbagai teori psikologi motivasi menempatkan kebutuhan akan kasih sayang, afeksi, dan relasi sebagai salah satu kebutuhan mendasar setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi.
Karena itu, memiliki hasrat bukanlah sebuah penyimpangan moral. Yang menjadi persoalan bukanlah keberadaan hasrat itu sendiri, melainkan bagaimana seseorang memilih meresponsnya. Seseorang dapat memiliki keinginan yang kuat, tetapi tetap memutuskan untuk tidak bertindak karena mempertimbangkan nilai yang diyakininya, komitmen terhadap pasangan, norma agama, ataupun alasan pribadi lainnya. Sebaliknya, seseorang juga dapat mengaku tidak memiliki keinginan apa pun, tetapi kenyataannya hanya sedang menyembunyikan dorongan tersebut demi mempertahankan citra tertentu.
Di sinilah moralitas sering kali disalahpahami. Moral bukanlah kemampuan menghapus naluri manusia. Moral justru terlihat ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya tanpa perlu menyangkal bahwa dorongan itu memang ada. Menolak mengakui keberadaan hasrat tidak membuat seseorang otomatis lebih bermoral, sebagaimana mengakui bahwa manusia memiliki hasrat juga tidak otomatis menjadikannya tidak bermoral.
Sayangnya, dalam kehidupan sosial, pengakuan terhadap hasrat sering kali dianggap sebagai kelemahan. Banyak orang merasa lebih aman membangun kesan bahwa dirinya “berbeda” atau “lebih bersih” dibandingkan orang lain. Akibatnya, percakapan tentang seksualitas, ketertarikan, maupun kebutuhan emosional sering dibungkus dengan kepura-puraan. Yang dipertahankan bukan lagi nilai moralnya, melainkan citra moralnya.
Fenomena ini terlihat di berbagai lingkungan sosial, termasuk dalam relasi pertemanan, komunitas, hingga aplikasi kencan. Tidak sedikit orang yang menyatakan memiliki prinsip yang sangat tegas mengenai hubungan intim, tetapi prinsip tersebut berubah ketika situasi, ketertarikan, atau keuntungan tertentu hadir. Hal ini tidak selalu berarti mereka tidak memiliki nilai, melainkan menunjukkan bahwa manusia jauh lebih kompleks daripada citra yang mereka tampilkan kepada publik.
Pada akhirnya, moralitas tidak menghapus keberadaan desire. Ia hanya memberikan batas dan pertimbangan mengenai bagaimana hasrat tersebut dijalankan. Mungkin karena itulah ukuran kedewasaan seseorang bukan terletak pada seberapa keras ia menyangkal bahwa dirinya memiliki keinginan, melainkan pada seberapa jujur ia mengakuinya dan seberapa bertanggung jawab ia memilih untuk bertindak.
Moral Performance: Ketika Kesucian Menjadi Identitas Sosial
dan Moral Menjadi Sebuah Pertunjukan
Di era media sosial, moralitas tidak lagi selalu hadir sebagai nilai yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam banyak situasi, moralitas juga berubah menjadi identitas yang ditampilkan kepada publik. Apa yang diyakini secara pribadi belum tentu sama dengan apa yang ditampilkan di ruang sosial. Akibatnya, tidak sedikit orang lebih sibuk mengelola bagaimana dirinya dipersepsikan dibandingkan merefleksikan apakah prinsip yang mereka tunjukkan benar-benar dijalankan secara konsisten.
Fenomena ini sering disebut sebagai moral performance, yaitu ketika ekspresi moral lebih berfungsi sebagai pertunjukan sosial daripada cerminan keyakinan pribadi. Bukan berarti setiap orang yang berbicara tentang moral sedang berpura-pura, tetapi ada kecenderungan bahwa pengakuan sebagai pribadi yang “baik” sering kali memiliki nilai sosial tersendiri. Ia dapat menghadirkan rasa diterima, dihormati, bahkan dianggap memiliki kualitas pribadi yang lebih tinggi dibandingkan orang lain.
Pada titik inilah moralitas mulai bergeser. Yang dipertahankan bukan lagi prinsip, melainkan reputasi. Label Moral yang Dibentuk oleh Masyarakat
Salah satu cara masyarakat mempertahankan sistem moralnya adalah melalui pemberian label. Label bukan hanya berfungsi sebagai deskripsi, tetapi juga sebagai alat untuk menentukan siapa yang dianggap pantas dihormati dan siapa yang dianggap layak menerima stigma.
Istilah seperti hoe, “murahan”, “playboy“, “good girl”, atau housewife material merupakan contoh bagaimana masyarakat mencoba menyederhanakan manusia ke dalam kategori-kategori moral tertentu. Ironisnya, label tersebut sering kali diberikan bukan berdasarkan keseluruhan karakter seseorang, melainkan hanya dari sebagian kecil informasi yang diketahui publik.
Seseorang yang terbuka mengenai pengalaman seksualnya dapat dengan cepat diberi cap negatif. Sebaliknya, seseorang yang mampu menjaga citra kesucian sering memperoleh penghargaan sosial, meskipun tidak seorang pun benar-benar mengetahui bagaimana kehidupan pribadinya berlangsung.
Padahal manusia jauh lebih kompleks daripada label yang dilekatkan kepadanya. Kehidupan seseorang tidak dapat diukur hanya dari satu keputusan, satu hubungan, atau satu fase kehidupannya. Namun masyarakat sering kali lebih menyukai narasi yang sederhana karena lebih mudah dipahami sekaligus lebih mudah digunakan untuk menghakimi.
Kesucian sebagai Identitas Sosial
Tidak sedikit orang sebenarnya tidak sedang mengejar moralitas, melainkan mengejar identitas sebagai orang yang bermoral. Perbedaan keduanya sangat tipis, tetapi memiliki konsekuensi yang besar. Moralitas berfokus pada bagaimana seseorang menjalankan nilai-nilai yang diyakininya, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Sebaliknya, identitas moral lebih banyak bergantung pada bagaimana orang lain memandang dirinya.
Inilah sebabnya mengapa sebagian orang tampak sangat keras mengkritik perilaku orang lain, tetapi menjadi jauh lebih permisif ketika situasi serupa terjadi pada dirinya sendiri. Standar yang sebelumnya tampak mutlak perlahan berubah menjadi relatif karena kini yang dipertaruhkan bukan lagi citra orang lain, melainkan kepentingan pribadi.
Fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Psikologi sosial telah lama menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya berdasarkan niat, sementara menilai orang lain berdasarkan tindakan. Kita cenderung memberi ruang bagi kesalahan diri sendiri karena memahami alasan di baliknya, tetapi tidak selalu memberikan ruang yang sama kepada orang lain.
Mengapa Citra Lebih Penting daripada Kejujuran?
Pertanyaan yang menarik kemudian muncul: mengapa banyak orang lebih memilih mempertahankan citra daripada mengakui kenyataan?
Jawabannya mungkin terletak pada cara masyarakat memberikan penghargaan. Dalam banyak budaya, termasuk masyarakat Indonesia, citra moral sering kali memiliki nilai sosial yang sangat tinggi. Orang yang dianggap “baik” memperoleh kepercayaan lebih besar, lebih mudah diterima dalam lingkungan tertentu, dan lebih jarang menjadi sasaran penilaian negatif.
Sebaliknya, mengakui bahwa diri sendiri juga memiliki kelemahan, kontradiksi, atau hasrat sering kali dipandang sebagai bentuk kegagalan moral. Akibatnya, banyak orang memilih menyembunyikan sisi manusiawinya dan membangun narasi yang lebih dapat diterima secara sosial.
Padahal, kejujuran terhadap diri sendiri tidak selalu berarti kehilangan moralitas. Mengakui bahwa manusia memiliki kelemahan justru dapat menjadi langkah awal untuk membangun integritas. Sebab integritas tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari kesediaan untuk hidup selaras dengan nilai yang diyakini tanpa perlu membangun citra yang berbeda dari kenyataan.
Barangkali di sinilah paradoks terbesar moralitas modern. Kita hidup pada masa ketika terlihat bermoral sering kali lebih dihargai daripada benar-benar berusaha menjadi manusia yang jujur terhadap dirinya sendiri.
Standar Ganda di Era Dating Apps, Media Sosial dan Ketika Validasi Menjadi Mata Uang Sosial
Perkembangan media sosial dan dating apps telah mengubah cara manusia membangun hubungan. Jika dahulu perkenalan lebih banyak terjadi melalui lingkungan pertemanan, sekolah, atau pekerjaan, kini interaksi sering kali dimulai dari sebuah foto profil, beberapa baris deskripsi, dan kesan pertama yang terbentuk dalam hitungan detik.
Dalam ruang digital, validasi menjadi sesuatu yang sangat bernilai. Like, match, komentar, jumlah pengikut, hingga perhatian dari orang yang dianggap menarik dapat memberikan pengalaman psikologis yang memperkuat rasa diterima. Tidak mengherankan apabila banyak orang, secara sadar maupun tidak, mulai menyesuaikan cara mereka menampilkan diri agar memperoleh respons yang diinginkan.
Masalahnya, ketika validasi menjadi tujuan utama, prinsip yang sebelumnya terlihat kokoh tidak jarang mulai bergeser. Standar moral yang semula terdengar tegas terkadang menjadi jauh lebih fleksibel ketika dihadapkan pada peluang memperoleh perhatian, afeksi, atau pengakuan dari seseorang yang dianggap memiliki nilai lebih tinggi.
Fenomena ini bukan berarti semua orang kehilangan prinsip. Namun, ia menunjukkan bahwa manusia sering kali lebih kompleks daripada narasi moral yang mereka bangun tentang dirinya sendiri.
Halo Effect: Ketika Ketertarikan Mengubah Penilaian
Psikologi mengenal sebuah konsep yang disebut halo effect, yaitu kecenderungan seseorang memberikan penilaian positif terhadap individu hanya karena memiliki satu karakteristik yang dianggap menarik, seperti wajah yang rupawan, tubuh yang proporsional, status sosial, popularitas, atau kesuksesan ekonomi.
Efek ini bekerja secara halus. Seseorang yang dianggap menarik secara fisik sering kali diasumsikan lebih baik, lebih jujur, lebih cerdas, bahkan lebih layak dipercaya, meskipun tidak ada hubungan langsung antara penampilan dan karakter seseorang.
Dalam konteks relasi, halo effect juga dapat memengaruhi standar moral. Prinsip yang sebelumnya tampak mutlak terkadang menjadi lebih longgar ketika dihadapkan pada seseorang yang sesuai dengan preferensi fisik, memiliki status sosial tertentu, atau dianggap memiliki social value yang tinggi.
Ironisnya, perubahan tersebut sering kali tidak disadari. Orang tetap merasa dirinya konsisten, padahal ukuran yang digunakan telah berubah mengikuti siapa yang sedang berada di hadapannya.
Fenomena “NFF” (Not For Free) dan Paradoks Nilai Diri
Di berbagai dating apps, termasuk pada sebagian pengguna di komunitas gay maupun heteroseksual, tidak sulit menemukan istilah seperti NFF (Not For Free). Istilah ini digunakan dengan beragam makna, mulai dari candaan, bentuk penyaringan calon pasangan, hingga penegasan bahwa perhatian atau hubungan intim dianggap memiliki “harga” tertentu.
Fenomena ini menarik karena memperlihatkan bagaimana relasi antarmanusia kadang diperlakukan layaknya sebuah negosiasi nilai. Penampilan fisik, kondisi ekonomi, status pekerjaan, popularitas, hingga gaya hidup dapat menjadi faktor yang menentukan bagaimana seseorang memosisikan dirinya maupun orang lain.
Perlu dipahami bahwa fenomena ini tidak mewakili seluruh komunitas gay ataupun seluruh pengguna dating apps. Sebagian orang menggunakannya sebagai humor, sebagian lain benar-benar menjadikannya bagian dari cara mereka membangun relasi. Hal serupa juga dapat ditemukan dalam komunitas heteroseksual maupun berbagai ruang sosial lainnya.
Yang menarik untuk diamati bukanlah keberadaan istilah tersebut, melainkan pola pikir yang menyertainya. Banyak orang berbicara mengenai hubungan yang tulus, tetapi pada saat yang sama tetap melakukan penilaian berdasarkan daya tarik fisik, status sosial, atau bentuk validasi yang dapat diperoleh dari lawan bicaranya.
Ketika Prinsip Berubah Mengikuti Siapa yang Datang
Barangkali bagian paling ironis dari seluruh fenomena ini adalah kenyataan bahwa standar moral sering kali berubah bukan karena nilai yang dianut berubah, melainkan karena objeknya berubah.
Tidak sedikit orang yang dengan yakin mengatakan bahwa mereka hanya ingin membangun hubungan intim dengan pasangan yang serius. Pernyataan tersebut tentu merupakan pilihan yang sah dan patut dihormati. Namun, dalam praktiknya, tidak jarang muncul situasi ketika prinsip yang sama menjadi lebih lentur jika dihadapkan pada seseorang yang sangat menarik, memiliki status sosial tinggi, atau memenuhi fantasi tertentu.
Sebaliknya, terhadap orang yang dianggap kurang menarik, standar moral tersebut kembali ditegakkan dengan sangat ketat. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, keputusan tidak sepenuhnya ditentukan oleh prinsip, tetapi juga dipengaruhi oleh ketertarikan, peluang, dan nilai sosial yang dilekatkan kepada orang lain.
Hal ini bukan berarti semua orang bersikap munafik. Manusia memang dipengaruhi oleh emosi, ketertarikan, dan berbagai bias kognitif. Namun, kesadaran akan bias tersebut penting agar kita tidak terlalu mudah mengklaim diri sebagai pribadi yang memiliki prinsip mutlak, sementara keputusan yang kita ambil ternyata sangat bergantung pada konteks.
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan tentang siapa yang memilih menunggu dan siapa yang memilih tidak. Persoalannya adalah apakah standar yang kita gunakan benar-benar berlaku untuk semua orang, atau hanya berlaku ketika hal itu tidak mengganggu keinginan kita sendiri. Di sanalah batas tipis antara prinsip dan kepentingan pribadi mulai terlihat dengan sangat jelas.
Ketika Orang Suci Memudar Setelah Gelap
Seluruh pembahasan dalam seri ini pada akhirnya bermuara pada satu pertanyaan sederhana: apa yang sebenarnya kita sebut sebagai moralitas? Apakah moralitas adalah citra yang berhasil kita pertahankan di hadapan orang lain, atau prinsip yang tetap kita pegang ketika tidak ada seorang pun yang melihat?
Sejak awal, tulisan ini tidak pernah dimaksudkan untuk membenarkan seks bebas, mendorong perilaku seksual tertentu, ataupun merendahkan pilihan hidup siapa pun. Setiap individu memiliki latar belakang, keyakinan agama, nilai budaya, dan prinsip pribadi yang patut dihormati. Seseorang berhak memilih untuk menunggu hingga menikah, membangun hubungan yang berkomitmen, atau menetapkan batasan-batasan tertentu dalam hidupnya. Sebaliknya, orang lain juga tidak semestinya dihakimi hanya berdasarkan asumsi atau label yang dilekatkan kepadanya.
Kritik utama dalam tulisan ini bukanlah tentang seksualitas, melainkan tentang kecenderungan manusia menjadikan moralitas sebagai alat untuk mengukur nilai orang lain sambil menempatkan dirinya pada posisi yang lebih tinggi. Di sinilah virtue signaling, moral performance, dan standar ganda sering kali bertemu. Moral tidak lagi berfungsi sebagai kompas untuk mengarahkan perilaku, tetapi berubah menjadi atribut sosial yang dipamerkan demi memperoleh pengakuan dan legitimasi.
Ironisnya, manusia sering kali lebih keras menghakimi dosa yang tampak daripada memahami pergulatan yang tidak terlihat. Kita dengan mudah memberi cap “murahan”, “tidak bermoral”, atau “bukan pasangan yang baik” kepada orang lain, sementara pada saat yang sama kita memberikan begitu banyak alasan untuk memaklumi keputusan yang kita ambil sendiri. Ketika orang lain melanggar prinsip, kita menyebutnya sebagai kelemahan karakter. Ketika diri sendiri melakukannya, kita menyebutnya sebagai situasi yang rumit.
Media sosial memperbesar paradoks tersebut. Kita hidup pada zaman ketika citra dapat dibangun dengan sangat rapi. Seseorang dapat terlihat bijaksana melalui unggahan, tampak religius melalui kutipan, atau terlihat memiliki standar moral tinggi melalui pernyataan-pernyataan yang dibagikan kepada publik. Namun tidak ada satu pun unggahan yang mampu menggambarkan seluruh kompleksitas manusia. Di balik layar, setiap orang tetap bergumul dengan ketakutan, kebutuhan akan penerimaan, rasa kesepian, godaan, dan berbagai bentuk hasrat yang merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Mungkin itulah makna yang paling menarik dari kalimat The Saint Fades After Dark. “Orang suci” dalam kalimat tersebut bukan sedang menggambarkan individu tertentu, melainkan simbol dari topeng yang sering kita kenakan ketika berada di bawah sorotan sosial. Ketika malam tiba—atau ketika tidak ada lagi mata yang mengawasi—topeng itu perlahan memudar, memperlihatkan bahwa kita semua tetap manusia dengan segala kontradiksi yang kita miliki.
Kesadaran akan kenyataan tersebut seharusnya tidak membuat kita menjadi permisif terhadap segala tindakan. Sebaliknya, ia mengajak kita untuk lebih rendah hati dalam memandang diri sendiri dan lebih berhati-hati ketika menghakimi orang lain. Mengakui bahwa manusia memiliki desire bukan berarti menghapus tanggung jawab moral. Mengakui adanya kelemahan bukan berarti membenarkan setiap pilihan. Justru dari pengakuan itulah seseorang dapat membangun integritas yang lebih jujur daripada sekadar mempertahankan citra kesempurnaan.
Barangkali masyarakat tidak membutuhkan lebih banyak orang yang terlihat suci. Yang lebih dibutuhkan adalah individu-individu yang berani bersikap konsisten terhadap nilai yang mereka yakini tanpa merasa perlu merendahkan pilihan hidup orang lain untuk meninggikan dirinya sendiri.
Sebab pada akhirnya, moralitas tidak diuji ketika seseorang tidak memiliki kesempatan untuk melanggar prinsipnya. Moralitas diuji ketika kesempatan itu datang, tetapi ia tetap memilih bertindak sesuai nilai yang diyakininya. Karena yang membuat seseorang bermoral bukanlah ketiadaan hasrat, melainkan bagaimana ia mengelola hasrat tersebut tanpa perlu berpura-pura lebih suci daripada orang lain.***

Tinggalkan Balasan