Cinta Dua Mars

Pernahkah kamu merasa:

Terampas untuk kemudian terhempas?

Menyerah untuk kemudian merasa kalah? Aku pernah…

ADA cinta yang pernah terpatri antara aku dan Bayu. Namun terhalang oleh ruang dan waktu, hingga aku sempat terpisah darinya. Dan karena egoku, kemudian cinta itu pun membeku.

Lalu, musim harus berganti musim, agar langit biru beralih kelabu. Agar air menguap, tersimpan dalam bentuk awan, membeku, lalu mencair jadi hujan. Waktu pun berputar, hari bergeser, dan setahun berlalu. Meninggalkan semua kenangan bersama harapan yang belum sempat tergapai.

Kini, dia yang kurindu telah kembali setelah setahun lebih menghilang. Aku merasa sangat bahagia karena bisa kembali mematri cinta pada lubuk hatinya. Aku berharap kali ini aku dan dia bisa bersatu. Benar-benar bersatu.

Kami mengarungi malam dengan sejuta cahaya dari wajah kebahagian, dan menepis semua kabut rindu yang selama ini menyelubungi hati. Dia mampu membangkitkan semangat hidupku yang sempat redup, dan membuat apa saja menjadi penuh makna hanya dalam waktu beberapa jam. Dan kami pun terus bercanda tanpa peduli pada malam yang mulai menebar aroma pekatnya menuju puncak larut. Namun perlahan canda itu mulai meluntur saat kutangkap makna di balik kata-katanya.

“Aku mau menikah,” ucap Bayu tercekat. “Dan sekarang aku sudah tinggal serumah dengan calon istriku.” Sambungnya.

Aku kaget. Rasanya begitu nyeri saat mendengar ucapannya itu. Aku merasa hampa. Dadaku sesak. Antara percaya dan tidak, tetapi itulah yang muncul dari sudut bibirnya.

“Kamu mau menikah?” tanyaku hati-hati, sembari menjaga intonasi suaraku agar tidak tampak ada emosi kesedihan yang terselip.

“Ya.” Bayu mengangguk dan tertunduk.

“Kamu bercanda kan?” Bayu terdiam, dan tidak menjawab pertanyaanku. “Bilang ke aku kalau kamu cuma bercanda, Bay!” desakku. Aku masih tidak percaya, dan berharap dia meyakinkanku bahwa aku salah dengar.

Bayu mengangkat mukanya, “Aku serius, Ze.”

Otakku masih saja membandel. Aku berusaha mencari kebohongan yang mungkin terperangkap dalam kilatan matanya. Tetapi sayang, mata itu justru menyorotkan kejujuran mutlak. Aku tercekat diam. Sementara dadaku bergemuruh, bergumul dengan kepedihan yang mulai menjalari relung hatiku. Di atas sofa ruang tamu, untuk beberapa menit lamanya kami terdiam. Sibuk bergumul dengan perasaan masing-masing.

“Jadi, selama ini aku menunggu dan berharap sebentuk cinta yang semu? Dan sejauh ini aku seolah boneka buat kamu?” pertanyaanku lah yang akhirnya memecah kebisuan di antara kami.

“Tidak, Ze. Jangan menuding aku sekejam itu.”

“Lantas apa?” tuntutku.

“Oke! Apa kamu pikir aku juga tidak terbebani oleh keadaan ini? Bukan cuma kamu yang merasa tidak adil, aku juga, Ze. Mencintai seseorang tetapi tidak bisa memilikinya secara utuh!” Suara Bayu terdengar putus asa.

“Kalau kamu memang mencintai aku, kenapa tidak kamu perjuangkan hubungan kita?”

“Aku tahu, Ze! Tetapi ini juga berkaitan erat dengan masa depan aku,” sanggahnya.

“Oh, secara tidak langsung kamu mau bilang bahwa hubungan kita tidak punya masa depan?” Nada suaraku terasa naik satu oktaf.

“Ze…, aku… aku hanya ingin mencoba membenahi hidupku! Aku ingin ada perubahan dalam hidupku. Iya, aku masih sayang kamu. Cinta kamu. Tapi.. aku, aku… aku sadar, hubungan ini tidak mungkin berlanjut. Karena akhir-akhir ini aku juga mulai berpikir kalau suatu saat nanti aku menginginkan keturunan. Penerus generasiku kelak, Ze.” Bayu bicara terpatah-patah.

Aku menatapnya dengan lesu. Sungguh, aku tidak menyangka jika itu alasannya.

“Well…,” Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Sakit rasanya. Jelas saja, aku memang tidak bisa memberikan itu pada Bayu, jika melihat kondisiku saat ini. Dan aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. “Lalu.., buat apa kamu mencintai aku selama ini? Buat apa kamu curahkan perasaan yang seakan-akan begitu kuat pada aku?” Perasaan perih semakin menikam ke dalam hatiku. Sedih. Kata-kata cinta yang pernah terucap dulu seketika remuk redam dalam satu helaan napas dan kedipan mata. Dan nyanyian hati berubah sunyi-senyap. Mimpi-mimpi yang melelahkan kian meredup. Inilah dia samudra kepedihan yang sesungguhnya, yang siap melumatku hingga tidak berbentuk. Aku hancur!

Ini sungguh tidak adil untukku. Setahun lamanya dia tidak berkabar dan membuatku merasa kehilangan, namun saat dia kembali justru harus kuterima kenyataan lain. Aku harus kehilangan dia lagi. Mungkin tidak hanya setahun. Selamanya…

“Kamu tidak pernah mencintai aku, kan?”

“Ze…, Sungguh, perasaan aku ke kamu itu benar adanya. Aku benar-benar mencintai kamu, aku sayang sama kamu, Ze!” Bayu menatapku lekat-lekat. Berusaha meyakinkanku. Sementara aku berusaha menerjemahkan kalimat yang disampaikannya. Apakah pernyataan itu untuk menyamankan perasaanku semata?

“Apa kamu juga bilang ke calon istrimu, kalau kamu juga mencintai dia?” tanyaku menantang, seraya tersenyum kecut.

Bayu terdiam. Dia bagai terjebak oleh ucapannya sendiri. Sejenak aku melihat dia memijat-mijat keningnya. Di satu sisi aku iba melihatnya. Tapi di sisi lain aku merasa hancur, kecewa, dan terluka serupa puing-puing. Di sini aku merasa seperti sedang diuji oleh kehidupan. Untuk menyikapi segala masalah dengan lebih bijak. Karena aku bukan anak kecil lagi.

“Kenapa diam? Jawab dong!” desakku.

“Aku…, aku juga mencintai dia!”

Aku tersenyum getir. “Klasik sekali cara kamu berdusta. Satu hati mencintai dua jiwa, itu mustahil. Aku akui, kamu jauh lebih dewasa dari aku, tapi aku tidak tolol. Aku rasa kamu tidak perlu membohongi aku dengan cara itu. Apa kamu takut aku terluka terlampau dalam?” Aku mengamati reaksinya. “Terlambat! Aku sudah hancur.”

“Maafkan aku.”

“Kamu tahu, Bay? Sejak kamu menghilang, aku merasa tersiksa. Kamu meninggalkan aku begitu saja, tanpa jejak, tanpa keputusan yang jelas. Dengan segenap kebodohan, aku tetap setia menjaga cinta yang pernah kamu titipkan. Bahkan, aku rela menunggu kamu dengan sabar. Aku nunggu! Karena aku percaya kamu bakalan kembali buat aku. Tapi sayang, dugaan aku terlalu salah.” Aku beranjak dari sofa dan melangkah ke sisi jendela kaca. “Asal kamu tahu, saat kamu menelepon aku siang tadi, aku bahagia sekali. Aku merasa kamu kembali buat aku. Tapi ternyata…, ” Aku tidak sanggup meneruskan kalimatku. Perlahan, air mataku mulai turun. Aku tidak sanggup lagi membendungnya. Aku luapkan semua emosi yang menyesak di dadaku, dengan derai air mata. Aku biarkan derainya membasahi seluruh permukaan pipiku. Karena aku terlalu lelah untuk menyekanya.

Melihatku menangis, Bayu beranjak mendekatiku. Menarik tubuhku ke dalam pelukannya, lantas mendekapku. Erat. Rasanya aku ingin berontak dari dekapannya, tetapi aku terlalu rapuh untuk melakukannya.

“Maaf, ya. Aku selalu membuat kamu menangis,” bisiknya. Aku biarkan jemarinya membelaiku lembut. Sementara malam terus berarak melaju ke puncak larut. Tak mau diajak berlambat-lambat.

Aku mulai betah dalam dekapan hangat Bayu. Tanpa kusadari, hujan turun dengan derasnya. Membuatku bertanya, sedang marah kah ia? Atau ia turut merasakan kesedihanku dan berkabung bersamaku? Sementara itu kami saling berpelukan. Kemudian ia membimbingku kembali duduk di sofa. Selanjutnya kami kembali terdiam. Hanyut dengan suasana hati masing-masing. Namun jemarinya tetap mengusap-usap rambutku. Penuh kasih sayang.

Tanpa kusadari, angan-anganku terbang jauh melambung tinggi menerobos jutaan jam, ribuan hari yang pernah hadir, namun mengendap bersama sang waktu yang berputar.

Beberapa belas tahun yang silam…

Ze kecil yang polos duduk meringkuk dalam kesenduan yang teramat dalam tanpa bisa berbuat apa-apa, ketika menyaksikan pertengkaran sengit kedua orang tuanya. Dia menangis. Kesedihan mengoyak segenap jiwanya yang masih kuncup.

Pakkk

Sebuah tamparan mendarat di pipi Mama. Keras. Bahkan teramat keras. Kemudian disusul beberapa tendangan. Lalu terdengar jeritan Mama yang membuat Ze kecil semakin miris dan menciut. Untunglah Mama sosok yang kuat. Padahal saat itu Mama tengah mengandung tujuh bulan, tetapi sanggup bertahan tanpa keguguran. Ze kecil hanya dapat meringkuk pilu, menyesali kejadian itu, tanpa sanggup menolong Mama.

Pertengkaran itu bermula sejak Papa ketahuan selingkuh. Kemudian Ze kecil kerap mendapati mereka bertengkar. Setiap hari, setiap jam. Dan malam itu adalah puncak dari segala pertengkaran yang akhirnya menjadi sebuah kekerasan fisik.

Mama menyerah. Ze kecil menatap dari kejauhan. Tiba-tiba dilihatnya tangan Mama meraih sebuah botol kaleng racun serangga. Ze memekik panik. Sejurus kemudian langsung menghambur ke hadapan Mama. Ze kecil berusaha keras merampas botol itu dari tangan Mama. Namun tenaganya tidak sanggup melawan kerasnya pertahanan Mama.

“Paaaa…!” Ze menjerit, tapi Papa yang diharapkannya justru tidak berusaha menyelamatkan Mama.

……………

“Kamu menangis lagi?” pertanyaan Bayu menyentakku dari lamunan.

Tanpa kusadari, terkenang lagi masa itu. Masa yang sengaja kukubur, sebab terlalu perih untuk dikenang. Aku menggeram dan meremas rambutku, berusaha menghalau memori pahit itu. Selalu saja memori itu terpanggil, setiap kualami sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan. Aku muak.

“Kamu kenapa?” tanya Bayu panik sambil mendekapku.

“Tidak apa-apa,” bisikku pelan.

“Sudah dong, jangan menangis lagi, ya?” Kemudian dia mengusap air mataku. Sementara aku masih terbenam dalam dekapannya dengan pikiran tidak tentu arah.

Entah sudah berapa lama Bayu mengoceh, aku tidak sadar. Hal terakhir yang aku tangkap: “Ze, begini saja. Biarkan aku menikah…, tapi aku juga akan coba mempertahankan hubungan kita. Sampai mungkin… tiba saatnya kamu bisa melupakan aku. Menemukan cinta sejati kamu yang sesungguhnya. Kamu juga harus berubah, Ze! Bagaimana?”

“Maksud kamu?” tanyaku bingung.

“Apa kamu mau aku duakan?”

“Kamu belum gila, kan?” Aku terkejut oleh usulannya. Kudorong tubuhnya, dan melepas dekapannya. “Aku tidak bisa, Bay. Lebih baik aku yang mengalah!” kataku tegas, seraya menatapnya lekat.

“Tapi…?”

“Aku tidak bisa, Bay!” Kupotong kalimatnya. “Lagipula…., betapa hancurnya dia kelak, jika sampai mengetahui hubungan kita. Hubungan kita yang.., yang….! Akhhhh…! Aku yakin hatinya akan hancur, melebihi yang aku rasakan sekarang.”

Bayu terdiam. Ia membalas tatapanku lekat-lekat. Sungguh ini hal yang paling menyulitkan buatku. Aku tidak rela Bayu meninggalkanku. Terlebih-lebih menduakanku!

“Aku tahu bagaimana rasanya disakiti, dikhianati bahkan dibohongi,” Sulit sekali kuucapkan ini. “Mungkin kita ditakdirkan bukan untuk bersama….”

Lalu kami sama-sama terdiam. Seolah mencerna isi hati kami masing-masing. Bayu dengan pikirannya, yang entah apa. Dan aku yang terpuruk dengan kesakitan luar biasa. Mungkin butuh waktu yang teramat panjang untuk mengobati luka ini.

Entah berapa lama kami saling berdiam diri. Sampai kusadari aku harus menguatkan hatiku. Bagaimanapun sulitnya. Harus! Kemudian Bayu beranjak mendekatiku lalu memelukku dari belakang.

“Maafkan aku…”

Lama sekali aku baru bisa menjawab, setelah berusaha menguatkan hatiku. “Bersyukurlah.., kamu telah menjumpai jalan kebahagiaan yang hakiki. Kamu telah menemukan cinta yang sebenarnya. Bukan cinta yang salah.”

“Cinta tak pernah salah, Ze…”

Aku menatapnya sedih. “Cinta memang tidak pernah salah. Tapi kita yang salah menempatkannya. Entahlah, Bay! Harusnya aku bahagia dengan melihat kamu bahagia. Tetapi aku juga tidak bisa mengingkari kenyataan yang sesungguhnya, bahwa aku juga terluka. Seandainya aku bisa seperti kamu…,”

“Sebenarnya kamu bisa kok, kalau kamu mau berusaha,” ujar Bayu. “Seperti yang aku lakukan selama ini. Maaf, sebenarnya saat kemarin kita berpisah itu, aku belajar banyak hal. Termasuk mencoba membenahi sisi cinta aku sebagai laki-laki.”

Aku tersenyum kecut. “Seandainya saat akan dilahirkan aku bisa memilih jalan takdirku, aku tidak akan memilih dilahirkan seperti ini. Jujur saja dari kecil aku benci terhadap Papa,” ujarku kemudian. “Aku terbiasa dekat dengan Mama. Di masa kanak-kanak, aku lebih memilih boneka ketimbang mobil-mobilan. Ketika anak-anak lain gemar bermain tembak-tembakan, aku lebih suka main masak-masakan. Sampai kini aku hanya ingin jujur terhadap diri sendiri. Sekalipun orang-orang akan menganggap itu salah.”

Aku dapat merasakan Bayu juga tersenyum mendengar kisahku. Lalu Bayu menciumku. Aku tidak mengelak lagi. Kemudian, kupejamkan mataku dan kuhirup aroma tubuhnya. Aroma yang tidak akan kujumpai lagi. Karena aku tahu ini adalah kesempatan terakhir aku bisa memilikinya. Dan malam itu adalah malam terakhirku bersama Bayu. Setelah ini aku harus belajar melupakannya. Pedih. Sangat. Tapi aku juga terlalu mencintainya. Biarlah kenangan bersamanya tetap tersimpan indah di dasar hati.

Tuhan, maafkan aku yang telah menjalani cinta terlarang. Cinta yang menyimpang. Cinta yang ditentang. Karena aku juga laki-laki!***

(Pernah dimuat di Story Teenlit Magazine Edisi 24 April 2010 dengan judul: Jalan Cinta)

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “CInta Dua Mars”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/ratnajuwita4997/6a37e7d6ed64156b005f5842/cinta-dua-mars

Kreator: Zeffazetira Kilok

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com


Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca