Cinta yang Tidak Kubawa Pulang

Pernahkah kamu mencintai seseorang dengan sepenuh hati, tetapi pada saat yang sama berharap perasaan itu tidak pernah ada?

Aku pernah….

NAMANYA Ze.

Ia adalah seseorang yang pernah membuatku merasa diterima tanpa perlu menjelaskan terlalu banyak hal mengenai diriku. Bersamanya, aku tidak harus menjadi laki-laki seperti yang diinginkan banyak orang. Aku tidak perlu berbicara lebih berat, berjalan lebih gagah, atau tertawa secukupnya hanya agar tidak dipandang berbeda. Di hadapan Ze, aku dapat menjadi diriku sendiri.

Namun, justru karena itulah aku takut.

Aku mencintainya. Tetapi semakin besar perasaanku kepadanya, semakin keras pula suara-suara di kepalaku bertanya: Akan dibawa ke mana hubungan ini? Pertanyaan itu terus berputar di dalam pikiranku. Mengikuti ke mana pun aku pergi, menyusup ke dalam tidur, bahkan hadir di antara percakapan-percakapan paling bahagia yang kami miliki.

Ada masa ketika aku ingin mengabaikan semuanya. Aku ingin menjalani hubungan kami tanpa memikirkan hari esok. Toh, cinta seharusnya cukup untuk membuat dua manusia tetap bertahan, bukan? Namun kehidupan tidak pernah sesederhana itu.

Aku dilahirkan dalam keluarga yang memandang kehidupan seperti sebuah garis lurus. Seorang anak laki-laki harus tumbuh menjadi pria dewasa, bekerja, menikahi perempuan, memiliki anak, lalu meneruskan nama keluarga. Tidak ada belokan. Tidak ada ruang untuk berhenti dan mempertanyakan apakah jalan itu benar-benar membuatnya bahagia. Dan aku, sebagai anak laki-laki dalam keluarga, diharapkan berjalan di atas garis yang sama.

“Kapan kamu bawa perempuan ke rumah?” tanya Mama suatu malam ketika kami sedang makan bersama.

Pertanyaan itu diucapkannya dengan ringan, seolah tidak ada apa-apa. Namun sendok yang kugenggam tiba-tiba terasa jauh lebih berat.

“Nanti, Ma,” jawabku singkat.

“Nanti itu kapan? Umur kamu terus bertambah.”

Aku tersenyum kecil, meski ada sesuatu yang terasa mengeras di dalam dada.

“Belum kepikiran.”

Papa yang sejak tadi diam kemudian meletakkan gelasnya di atas meja. “Laki-laki itu harus punya tujuan. Kerja sudah. Tinggal menikah. Jangan terlalu pilih-pilih perempuan.”

Aku mengangguk, kemudian melanjutkan makan tanpa benar-benar dapat merasakan apa pun. Mereka tidak tahu bahwa seseorang telah mengisi hatiku. Mereka juga tidak tahu bahwa orang itu bukan perempuan.

Kadang-kadang aku ingin mengatakannya. Aku ingin berdiri di hadapan mereka dan mengakui bahwa aku sedang mencintai seseorang. Bahwa aku juga mengenal rindu, cemburu, ketakutan, dan kebahagiaan seperti manusia lainnya. Namun aku tahu, mereka tidak akan mendengar kata cinta dari pengakuanku. Mereka hanya akan mendengar kesalahan.

Sejak kecil aku diajarkan bahwa laki-laki harus kuat. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang pernah mengajariku bagaimana cara menjadi kuat ketika dirimu sendiri dianggap sebagai sesuatu yang harus diperbaiki.

Aku berusaha memahami perasaanku kepada Ze. Berkali-kali kutanyakan kepada diriku sendiri apakah ini benar-benar cinta atau hanya sebuah kekeliruan yang terlalu lama kubiarkan tumbuh. Namun setiap kali menatap matanya, segala penyangkalan itu runtuh.

Aku mencintainya.

Sesederhana itu, sekaligus serumit itu.

Ze selalu memiliki cara untuk membuatku lupa bahwa dunia di luar sana mungkin tidak akan pernah menyediakan tempat bagi kami. Ia dapat tertawa hanya karena lelucon kecil yang bahkan tidak lucu. Ia bisa berbicara mengenai hal-hal sederhana, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang ingin kuingat selamanya. Bersamanya, waktu seperti berjalan lebih lambat.

Namun setelah aku pulang, semua ketakutan itu kembali.

Aku mulai membayangkan tahun-tahun yang akan datang. Aku membayangkan umur yang semakin bertambah, orang tuaku yang semakin renta, serta pertanyaan tentang pernikahan yang kelak tidak lagi disampaikan sebagai candaan. Aku membayangkan kerabat-kerabat yang akan berbisik, orang-orang yang memandang keluarga kami dengan cara berbeda, dan Papa yang mungkin tidak akan pernah menerimaku lagi sebagai anak laki-lakinya.

Lalu, untuk pertama kalinya, aku membayangkan seorang anak kecil memanggilku Papa. Bayangan itu membuatku semakin bingung. Apakah keinginanku memiliki keturunan benar-benar datang dari dalam diriku? Atau hanya lahir dari tuntutan yang terus-menerus ditanamkan kepadaku?

Aku tidak tahu.

Aku hanya tahu bahwa aku mulai ketakutan. Semakin kucintai Ze, semakin besar pula ketakutanku kehilangan seluruh kehidupan yang selama ini dipersiapkan keluargaku untukku. Namun ketika membayangkan harus meninggalkannya, ada bagian dalam diriku yang terasa ikut mati.

Aku berdiri di antara dua kehidupan.

Dan tidak satu pun darinya dapat kupilih tanpa melukai seseorang.

Pada suatu malam, aku dan Ze duduk berdampingan. Ia sedang bercerita dengan bersemangat mengenai sesuatu, tetapi aku tidak benar-benar mendengarnya. Aku hanya memperhatikan wajahnya, senyumnya, serta gerakan tangannya ketika menjelaskan sesuatu. Entah mengapa, saat itu aku merasa seperti sedang menghafalnya.

“Kenapa lihat aku begitu?” tanyanya.

Aku tersadar, kemudian tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

“Kamu aneh.”

Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Refleks, tanganku merangkul tubuhnya. Aku ingin menghentikan waktu. Aku ingin malam itu tidak pernah berakhir agar aku tidak perlu kembali menghadapi segala pertanyaan yang menungguku di rumah.

“Ze,” panggilku pelan.

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku tidak ada, kamu akan bagaimana?”

Ia mengangkat kepala, lalu menatapku dengan dahi berkerut.

“Maksud kamu?”

“Kalau kita harus berjauhan.”

“Ya, aku tunggu sampai kamu kembali.”

Jawabannya begitu mudah. Begitu yakin. Sedangkan aku telah dipenuhi keraguan.

“Kamu tidak akan lupa?”

“Kamu mau pergi ke mana sih?”

Aku tertawa kecil untuk menyembunyikan kegelisahan. “Cuma tanya.”

Ze kembali menyandarkan kepalanya. Sementara aku memeluknya lebih erat, seperti seorang pengecut yang diam-diam sedang bersiap meninggalkan seseorang, tetapi masih ingin menikmati kehangatannya untuk terakhir kali.

“Kalau kamu pergi,” katanya, “setidaknya bilang ke aku. Jangan menghilang begitu saja.”

Aku tidak menjawab. Sebab jauh di dasar hati, aku telah memutuskan untuk melakukan hal yang justru paling ditakutkannya.

Menghilang.

Bukan karena aku tidak mencintainya. Justru karena perasaanku terlalu dalam dan aku tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya jika masih harus mendengar suaranya. Aku tidak cukup kuat untuk mengatakan selamat tinggal. Karena itu, aku memilih menjadi kejam.

Beberapa minggu kemudian, aku menerima tawaran pekerjaan di kota lain. Seharusnya aku menceritakan kabar itu kepada Ze. Seharusnya aku mengajaknya bertemu, menjelaskan segala ketakutanku, kemudian memberinya kesempatan untuk marah atau membenciku. Namun aku tidak melakukan semua itu.

Aku mengganti nomor telepon, menutup beberapa akun media sosial, lalu pergi tanpa meninggalkan penjelasan apa pun.

Di dalam perjalanan menuju kota yang baru, aku duduk di dekat jendela sambil memandangi jalan yang perlahan berubah asing. Telepon genggamku berada dalam genggaman. Nomor Ze masih kuhafal di luar kepala meskipun telah kuhapus dari daftar kontak. Berkali-kali aku ingin menghubunginya. Berkali-kali pula aku mengurungkan niat.

Aku membayangkan ia menungguku. Mencari tahu ke mana aku pergi. Mungkin menelepon nomor lamaku berulang kali, lalu mengirimkan pesan-pesan yang tidak pernah sampai. Bayangan itu membuat dadaku nyeri.

“Maafkan aku, Ze,” bisikku kepada pantulan wajahku sendiri di kaca jendela.

Tidak ada jawaban. Hanya deru kendaraan dan pemandangan yang terus bergerak meninggalkan kota tempat cinta kami pernah tumbuh.

Aku meyakinkan diriku bahwa kepergian ini adalah keputusan terbaik. Jarak akan membantuku melupakan Ze. Waktu akan meluruhkan perasaanku. Di kota yang baru, aku akan belajar menjadi laki-laki sebagaimana yang diharapkan keluargaku. Aku akan bekerja, membangun kehidupan baru, bertemu seorang perempuan, kemudian menikah.

Setidaknya, itulah rencanaku.

Aku tidak menyadari bahwa tubuh manusia dapat berpindah sejauh apa pun, tetapi kenangan selalu tahu bagaimana caranya mengikuti.

Di kota yang baru, aku menemukan pekerjaan, kamar kontrakan, dan orang-orang yang tidak mengetahui masa laluku. Aku mulai mengenakan kehidupan baru seperti seseorang mengenakan pakaian yang belum tentu sesuai dengan ukuran tubuhnya.

Dari luar, aku tampak baik-baik saja.

Aku pergi bekerja setiap pagi, bercanda dengan rekan-rekan kantor, dan sesekali ikut makan bersama mereka. Aku menjawab telepon dari Mama dengan mengatakan bahwa hidupku baik dan pekerjaanku lancar. Namun setiap malam, ketika keramaian berhenti dan hanya tersisa kesunyian, wajah Ze kembali memenuhi pikiranku.

Aku masih mengingat cara ia tertawa. Cara ia memanggil namaku. Cara tubuhnya terasa begitu pas ketika berada di dalam pelukanku.

Sering kali tanganku bergerak hendak mengetik nomor yang masih kuhafal itu. Namun sebelum panggilan tersambung, aku selalu mematikannya. Aku datang ke kota ini untuk membenahi hidupku, bukan untuk mengulang kesalahan yang sama.

Begitulah aku menyebutnya saat itu: kesalahan.

Aku pikir jika terus mengucapkan kata itu, perasaanku kepada Ze akan berubah menjadi sesuatu yang dapat kubenci. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin keras aku menyangkal, semakin kuat kenangannya menghantamku.

Lalu, di tengah usahaku menjadi seseorang yang baru, aku bertemu Intan.

Ia bekerja di kantor yang sama denganku. Seorang perempuan cantik dengan rambut panjang dan senyum yang selalu terlihat tulus. Tidak ada yang berlebihan darinya, tetapi kehadirannya membuat orang merasa diperhatikan. Pada mulanya, aku tidak menganggapnya lebih dari rekan kerja.

Namun Intan selalu menemukan alasan untuk mendekat. Ia membawakan kopi ketika melihatku lembur, menyisakan kursi di sampingnya saat makan siang, dan mengirimkan pesan hanya untuk memastikan aku telah sampai di rumah. Perhatiannya sederhana, tetapi terus-menerus.

“Kamu ini sebenarnya sedang mendekati aku, ya?” tanyaku suatu hari, setengah bercanda.

Intan tersenyum tanpa terlihat malu.

“Kalau iya, memangnya tidak boleh?”

Aku terdiam. Untuk sesaat, wajah Ze muncul dalam pikiranku. Namun segera kutepis bayangan itu.

Mungkin inilah jawaban yang selama ini kucari. Mungkin Intan adalah jalan yang disediakan kehidupan agar aku dapat menjadi laki-laki sebagaimana mestinya. Dengannya, aku dapat membuat keluargaku bahagia. Aku dapat menikah, memiliki anak, dan menjalani masa depan yang tidak perlu kusembunyikan dari siapa pun.

Aku hanya perlu belajar membuka hati.

Aku hanya perlu berusaha mencintainya.

Dan pada saat itu aku belum memahami bahwa seseorang bisa memaksa tubuhnya berjalan menuju kehidupan baru, tetapi tidak selalu mampu memerintahkan hatinya meninggalkan tempat yang lama.*

SEJAK percakapan itu, kedekatanku dengan Intan berubah. Tidak ada pernyataan khusus yang menandai awal hubungan kami. Tidak ada pula kesepakatan yang benar-benar diucapkan. Kami hanya mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama, lalu membiarkan kebiasaan perlahan menyerupai perasaan.

Intan semakin sering menungguku menyelesaikan pekerjaan. Kami pulang bersama, makan malam di warung kecil dekat kantor, atau sekadar berjalan tanpa tujuan sambil membicarakan banyak hal. Ia bercerita mengenai keluarganya, masa kecilnya, cita-citanya, juga keinginannya memiliki rumah sederhana dengan halaman kecil yang dipenuhi tanaman.

Aku mendengarkan seluruh ceritanya dengan saksama. Namun setiap kali Intan berbicara mengenai masa depan, ada bagian dalam diriku yang merasa seperti seorang penyusup. Aku berada di dalam rencana-rencananya, sementara separuh hatiku masih tertinggal bersama seseorang yang bahkan tidak tahu ke mana aku pergi.

“Bayu,” panggil Intan suatu malam.

“Hm?”

“Kenapa terkadang kamu seperti sedang berada di tempat lain?”

Aku menoleh kepadanya. Kami sedang duduk di sebuah kedai yang hampir tutup. Di atas meja, dua cangkir kopi telah kehilangan kehangatannya.

“Maksud kamu?”

“Badan kamu ada di sini. Tapi pikiran kamu seperti jauh sekali.”

Aku berusaha tersenyum. “Mungkin cuma capek.”

“Kamu selalu menjawab begitu.”

“Karena aku memang capek.”

Intan menatapku cukup lama, seolah sedang berusaha membongkar sesuatu yang kusembunyikan di balik wajahku. Aku menunduk dan berpura-pura sibuk mengaduk kopi, meskipun gula di dalamnya telah lama larut.

“Kamu punya seseorang di kota asal?” tanyanya kemudian.

Pertanyaan itu membuat gerakan tanganku terhenti.

“Kenapa tanya begitu?”

“Entahlah. Aku hanya merasa seperti sedang bersaing dengan seseorang yang tidak pernah kamu ceritakan.”

Aku tertawa kecil, tetapi terdengar canggung. “Tidak ada siapa-siapa.”

Aku berdusta.

Bukan karena ingin mempermainkan Intan, melainkan karena aku tidak tahu bagaimana menjelaskan tentang Ze. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku datang ke kota ini untuk melarikan diri dari seorang laki-laki yang masih kucintai. Aku juga tidak sanggup mengakui bahwa perhatian Intan sedang kugunakan sebagai jembatan untuk menyeberang menuju kehidupan yang dianggap lebih benar.

“Benarkah?” tanyanya.

“Benar.”

Intan tersenyum, meskipun masih ada keraguan di dalam matanya. “Kalau begitu, aku masih punya kesempatan?”

Aku tidak segera menjawab. Wajah Ze kembali terlintas dalam pikiranku, disertai rasa bersalah yang menusuk. Namun di hadapanku ada Intan—seorang perempuan yang menawarkan perhatian tanpa menuntutku menjelaskan segala kerumitan dalam diriku.

Mungkin aku memang harus berhenti menoleh ke belakang. Mungkin selama ini aku gagal melupakan Ze karena tidak pernah benar-benar memberi kesempatan kepada orang lain untuk masuk. Aku telah pindah kota, mengganti nomor telepon, serta meninggalkan seluruh jejak kehidupan lama. Namun aku belum pernah mencoba mengisi kekosongan itu dengan sesuatu yang baru.

“Kamu punya kesempatan,” jawabku akhirnya.

Wajah Intan seketika dipenuhi senyum. Sementara aku membalasnya dengan senyum yang berusaha kubuat terlihat tulus. Entah mengapa, pada saat itu aku merasa baru saja menandatangani sebuah perjanjian tanpa sempat membaca seluruh isinya.

Sejak malam itu, kami mulai menjalani hubungan seperti pasangan pada umumnya. Intan tidak pernah meminta banyak hal. Ia hanya ingin aku hadir, mengabari ketika pulang terlambat, serta meluangkan waktu pada akhir pekan. Hal-hal sederhana yang semestinya mudah dilakukan, tetapi terkadang terasa berat karena aku terus-menerus membandingkan setiap kebersamaan kami dengan kenanganku bersama Ze.

Intan menyukai tempat-tempat ramai. Ia senang mengajakku berkeliling pusat perbelanjaan atau mencoba restoran yang baru dibuka. Ze justru lebih menyukai percakapan panjang di tempat yang tenang. Intan akan tertawa sambil menutup mulutnya. Sementara Ze tertawa tanpa peduli apakah orang lain akan memandanginya.

Aku tahu perbandingan itu tidak adil.

Intan bukan Ze. Ia tidak pernah meminta menjadi Ze. Namun diam-diam aku terus mencari serpihan seseorang yang telah kutinggalkan di dalam dirinya. Setiap kali tidak menemukannya, aku merasa kecewa, lalu membenci diriku sendiri karena telah menempatkan Intan di dalam perlombaan yang bahkan tidak diketahuinya.

Meski demikian, aku terus berusaha. Aku meyakinkan diri bahwa cinta tidak selalu muncul sebagai ledakan besar. Mungkin cinta dapat dibangun dari kebiasaan, perhatian, dan kesediaan untuk tetap tinggal. Jika aku terus bersama Intan, mungkin suatu saat nanti perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya.

Untuk pertama kalinya, aku memperkenalkan seorang perempuan kepada keluargaku.

Mama hampir tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya ketika mendengar aku sedang dekat dengan seseorang. Ia mengajukan begitu banyak pertanyaan melalui telepon—tentang pekerjaan Intan, keluarganya, usianya, hingga bagaimana kami pertama kali bertemu.

“Kapan dibawa ke rumah?” tanyanya penuh semangat.

“Nanti kalau ada waktu.”

“Jangan lama-lama. Mama ingin kenalan.”

Aku menghela napas kecil. “Iya, Ma.”

“Cantik?”

Aku melirik Intan yang sedang duduk tidak jauh dariku. Ia memperhatikanku dengan tatapan penasaran.

“Cantik.”

“Baik?”

“Baik.”

Mama terdiam sejenak sebelum berkata, “Mama senang akhirnya kamu menemukan perempuan yang cocok.”

Ada kelegaan yang begitu nyata dalam suaranya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa telah menjadi anak laki-laki yang berhasil memenuhi harapan keluarganya. Tidak ada pertanyaan yang harus kuhindari. Tidak ada identitas yang perlu kujelaskan. Aku dapat menyebut nama Intan dengan lantang tanpa takut keluarga akan memandangku sebagai sebuah kegagalan.

Seharusnya aku merasa bahagia.

Namun setelah percakapan berakhir, aku justru terdiam cukup lama.

“Kamu bilang apa ke Mama kamu?” tanya Intan.

“Dia ingin bertemu kamu.”

Intan tersenyum. “Kamu sudah cerita tentang kita?”

“Sudah.”

“Terus, Mama kamu bilang apa?”

“Dia senang.”

Intan menggenggam tanganku. “Aku juga senang.”

Aku memandang jemari kami yang saling bertaut. Tangan Intan terasa lembut dan hangat, tetapi di dalam pikiranku muncul tangan lain yang pernah kugenggam dengan perasaan berbeda.

Tangan Ze.

Segera kutepis kenangan itu. Aku tidak boleh terus hidup seperti ini. Aku telah memilih Intan dan harus memberikan ruang yang layak untuknya. Ia bukan obat yang dapat kugunakan ketika luka lama terasa sakit. Ia seorang manusia dengan perasaan yang dapat terluka karena kebimbanganku.

Beberapa bulan kemudian, aku membawa Intan pulang untuk bertemu keluargaku. Mama menyambutnya seperti seseorang yang telah lama dinantikan. Ia memasak begitu banyak makanan, mengajak Intan berbicara di dapur, lalu menunjukkan foto-fotoku semasa kecil yang seharusnya tidak perlu dilihat siapa pun.

Papa juga terlihat menyukainya. Ia tidak banyak bicara, tetapi beberapa kali aku melihatnya tersenyum ketika Intan menjawab pertanyaannya dengan sopan. Malam itu rumah kami dipenuhi percakapan mengenai pekerjaan, keluarga, dan rencana masa depan. Aku duduk di antara mereka sambil menyaksikan dua bagian kehidupanku perlahan menyatu.

Untuk sesaat, semuanya terasa sempurna.

Aku melihat kebahagiaan di wajah Mama. Aku melihat penerimaan di mata Papa. Di sampingku, Intan duduk dengan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya. Inilah kehidupan yang selama ini diharapkan semua orang untukku. Kehidupan yang wajar, tenang, dan tidak perlu disembunyikan.

Namun di tengah seluruh kebahagiaan itu, aku justru teringat kepada Ze. Aku membayangkan bagaimana keadaannya setelah aku menghilang. Apakah ia masih menungguku seperti yang pernah dikatakannya? Atau ia telah membenciku dan melanjutkan hidup bersama orang lain?

Anehnya, bayangan bahwa Ze mungkin telah melupakanku terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang seharusnya.

“Bayu.”

Suara Intan menyadarkanku.

“Iya?”

“Kamu melamun lagi.”

Aku tersenyum. “Maaf.”

“Kamu mikirin apa?”

“Tidak ada.”

Sekali lagi, aku berdusta.

Hubunganku dengan Intan terus berjalan. Perlahan, ia menjadi bagian dari keseharianku. Ia mengenal kebiasaan-kebiasaan kecilku, mengetahui minuman kesukaanku, serta dapat menebak kapan aku sedang tidak ingin berbicara. Di sisinya, aku menemukan ketenangan yang berbeda. Bukan perasaan menggebu-gebu seperti saat bersama Ze, melainkan ketenangan yang menyerupai rumah yang sedang berusaha kubangun.

Aku mulai menyayanginya.

Entah apakah itu cinta atau rasa terima kasih karena ia telah membantuku terlihat utuh, aku sendiri tidak tahu. Namun aku tidak ingin menyakitinya. Aku ingin menjadi laki-laki yang pantas bagi perhatian dan ketulusan yang diberikannya.

Pada suatu malam, hujan turun deras ketika aku mengantar Intan pulang. Jalanan tergenang dan kendaraan nyaris tidak bergerak. Karena hari semakin larut, Intan memintaku menunggu hujan reda di tempat tinggalnya.

Kami duduk di ruang tamu sambil berbicara mengenai hal-hal sederhana. Pakaianku sedikit basah, sedangkan Intan membawakanku handuk dan membuatkan minuman hangat. Tidak ada sesuatu yang direncanakan. Namun jarak yang semakin dekat, tatapan yang terlalu lama bertahan, serta perasaan yang selama berbulan-bulan kami jaga akhirnya membawa kami melewati batas.

Malam itu, Intan menyerahkan kepercayaannya kepadaku. Dan aku menerimanya dengan keyakinan bahwa mungkin inilah saatnya aku benar-benar meninggalkan masa lalu.

Namun ketika ia tertidur di sampingku, aku justru memandangi langit-langit kamar dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada kehangatan, rasa bersalah, juga ketakutan yang bercampur menjadi satu. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang baru saja terjadi merupakan bukti bahwa aku telah berubah.

Bahwa akhirnya aku telah menjadi laki-laki sebagaimana mestinya.

Tetapi mengapa wajah Ze masih muncul ketika aku memejamkan mata?

Aku menoleh kepada Intan. Wajahnya terlihat tenang di dalam tidur. Ia mempercayaiku sepenuhnya, sementara ada bagian dalam diriku yang belum pernah benar-benar kukenalkan kepadanya.

“Maafkan aku,” bisikku sangat pelan.

Aku sendiri tidak tahu kepada siapa permintaan maaf itu kutujukan. Kepada Intan karena telah mencintainya dengan hati yang belum sepenuhnya kosong, atau kepada Ze karena malam itu aku mencoba menghapusnya melalui tubuh orang lain.

Setelah malam tersebut, hubungan kami menjadi semakin serius. Intan mulai lebih sering menginap, hingga akhirnya kami memutuskan tinggal bersama. Keputusan itu kuanggap sebagai langkah berikutnya menuju kehidupan baru. Aku ingin membiasakan diri bangun di sampingnya, mendengar suaranya setiap pagi, serta menjalani rutinitas yang selama ini hanya kubayangkan.

Di mata orang lain, kami adalah pasangan yang bahagia.

Namun kebahagiaan sering kali hanya sesuatu yang tampak dari luar. Di balik pintu rumah, aku masih kerap terbangun pada tengah malam karena memimpikan Ze. Dalam mimpi itu, ia berdiri membelakangiku. Aku memanggil namanya berkali-kali, tetapi ia terus berjalan menjauh.

Aku ingin mengejarnya, tetapi kakiku tidak dapat bergerak.

Ketika terbangun, Intan biasanya masih tidur di sampingku. Aku akan memandanginya cukup lama, lalu mengingatkan diriku bahwa inilah kehidupan yang telah kupilih. Ze adalah masa lalu. Sedangkan Intan adalah masa depan yang seharusnya kuperjuangkan.

Hari-hari terus berjalan hingga pada suatu pagi aku mendapati Intan duduk sendirian di meja makan. Wajahnya pucat. Kedua tangannya menggenggam sebuah benda kecil yang tidak segera kukenali.

“Kamu kenapa?” tanyaku.

Intan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku dengan mata yang mulai dipenuhi air.

Aku melangkah mendekat. Di atas meja terdapat sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis merah yang terlihat begitu jelas.

Dadaku mendadak terasa kosong.

“Aku hamil, Bay,” ucapnya lirih.

Aku memandang benda itu cukup lama, seolah dua garis merah tersebut merupakan jalan yang membelah kehidupanku menjadi sebelum dan sesudah. Inilah sesuatu yang selama ini kukatakan kuinginkan: seorang anak, keturunan, serta kesempatan untuk membangun keluarga sebagaimana yang diharapkan orang tuaku.

Namun ketika kenyataan itu benar-benar hadir, yang kurasakan bukan hanya kebahagiaan.

Aku juga ketakutan.

“Bayu,” panggil Intan ketika aku tidak kunjung memberikan jawaban.

Aku mengangkat wajah. Ada kecemasan yang begitu besar di dalam tatapannya.

“Kamu menyesal?” tanyanya.

“Tidak.”

“Lalu kenapa kamu diam?”

Aku duduk di hadapannya, kemudian menggenggam kedua tangannya. Jemarinya terasa dingin dan sedikit gemetar.

“Aku cuma kaget.”

Air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku juga takut.”

Aku menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Intan menangis di dadaku, sementara tanganku mengusap rambutnya perlahan. Pada saat itulah aku menyadari bahwa segala keraguan tidak lagi hanya menyangkut diriku. Ada kehidupan lain yang tumbuh di dalam tubuhnya. Ada seorang anak yang kelak akan membutuhkan nama, rumah, serta seorang ayah yang bersedia bertanggung jawab.

Aku tidak dapat melarikan diri lagi.

“Aku akan bertanggung jawab,” kataku.

Intan mengangkat wajahnya. “Maksud kamu?”

“Kita menikah.”

Ia menatapku lekat-lekat, seolah ingin memastikan aku tidak mengatakannya karena terpaksa.

“Kamu yakin?”

Aku mengangguk. “Aku yakin.”

Kemudian Intan memelukku lebih erat. Ia menangis, tetapi kali ini aku dapat merasakan kelegaan di dalam tangisnya. Sementara di balik pelukan itu, aku memejamkan mata dan berusaha menerima bahwa jalan hidupku telah dipilihkan oleh sebuah kenyataan yang tidak mungkin kuabaikan.

Aku akan menikahi Intan.

Aku akan menjadi ayah.

Aku akan menjalani kehidupan yang selama ini diharapkan keluargaku.

Seharusnya tidak ada lagi alasan bagiku untuk memikirkan Ze. Namun justru setelah keputusan itu dibuat, kerinduanku kepadanya datang dengan kekuatan yang tidak pernah kuduga. Seolah hatiku mengetahui bahwa waktu yang tersisa untuk kembali menoleh kepadanya semakin sedikit.

Untuk pertama kalinya setelah setahun lebih menghilang, aku mulai mencari Ze kembali.**

KABAR kehamilan Intan disambut kebahagiaan oleh kedua keluarga kami. Mama menangis ketika mendengarnya, lalu berkali-kali mengucapkan syukur seolah penantiannya selama ini akhirnya mendapat jawaban. Papa menepuk pundakku dengan bangga dan mengatakan bahwa sebentar lagi aku akan menjadi kepala keluarga. Sementara keluarga Intan menerima keputusanku untuk menikahinya dengan perasaan lega, meskipun pernikahan harus dipersiapkan dalam waktu yang cukup singkat.

Semua orang terlihat bahagia.

Hanya aku yang masih berusaha memahami perasaanku sendiri.

Bukan karena aku tidak menginginkan anak itu. Sejak melihat dua garis merah pada alat tes kehamilan, ada perasaan aneh yang tumbuh di dalam diriku. Perasaan takut sekaligus ingin melindungi seseorang yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya. Aku mulai membayangkan tangan kecil yang menggenggam jariku, suara seorang anak memanggilku Papa, serta rumah yang dipenuhi langkah-langkah kecilnya.

Aku akan menjadi ayah.

Kalimat itu terdengar asing, tetapi perlahan menumbuhkan kehangatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Namun bersamaan dengan kebahagiaan tersebut, ada kesadaran lain yang tidak dapat kuhindari. Setelah menikahi Intan, tidak akan ada lagi jalan untuk kembali. Bukan berarti sebelumnya aku benar-benar memiliki kesempatan bersama Ze, tetapi pernikahan akan menjadikan batas di antara kami semakin nyata.

Jika selama ini aku hanya berlari menjauhinya, kini aku akan menutup seluruh jalan yang mungkin membawaku kembali kepadanya.

Persiapan pernikahan segera dimulai. Setiap hari dipenuhi pembicaraan tentang tanggal, gedung, pakaian, undangan, makanan, serta segala hal yang belum pernah kupikirkan sebelumnya. Intan menjalani semuanya dengan antusias. Ia mengumpulkan gambar-gambar dekorasi yang disukainya, memilih warna pakaian, dan mencatat nama orang-orang yang harus diundang.

Aku berusaha mengimbanginya. Aku menemani Intan mendatangi beberapa tempat, memilih cincin, dan duduk berjam-jam mendengarkan pembicaraan kedua keluarga. Namun terkadang, di tengah keramaian itu, pikiranku justru melayang kepada Ze.

Aku membayangkan apa yang sedang dilakukannya. Apakah ia masih tinggal di tempat yang sama? Apakah nomor teleponnya belum berubah? Apakah ia masih menyimpan kenangan tentang kami, atau justru telah membuang semuanya sejak lama?

Pada suatu sore, aku dan Intan sedang memilih undangan pernikahan. Di hadapan kami terdapat beberapa contoh kertas dengan warna serta desain yang berbeda. Intan menunjukkan dua pilihan kepadaku, tetapi aku tidak benar-benar memperhatikannya.

“Menurut kamu, yang ini atau yang itu?” tanyanya.

Aku menunjuk salah satunya secara asal. “Yang itu.”

“Yang mana?”

Aku tersadar bahwa kedua contoh undangan tersebut terletak berdekatan. “Yang sebelah kanan.”

Intan menatapku. “Kamu bahkan tidak lihat.”

“Aku lihat.”

“Warnanya apa?”

Aku terdiam.

Intan meletakkan kedua contoh undangan itu di atas meja. Wajahnya yang semula bersemangat perlahan berubah muram.

“Kamu sebenarnya ingin menikah sama aku atau tidak?”

Pertanyaannya membuat dadaku menegang. Beberapa orang di sekitar kami menoleh, tetapi segera kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

“Kenapa kamu tanya begitu?”

“Karena setiap kali kita membicarakan pernikahan, kamu seperti tidak benar-benar berada di sini.”

“Aku hanya sedang banyak pikiran.”

“Kamu selalu bilang begitu, Bay.”

Aku menghela napas dan menggenggam tangannya. “Aku sedang memikirkan pekerjaan, biaya pernikahan, juga anak kita. Semuanya datang bersamaan. Wajar kalau aku sedikit tertekan.”

Intan menatapku lekat-lekat, seperti berusaha memutuskan apakah ia akan mempercayai jawabanku.

“Kamu tidak terpaksa menikahi aku karena aku hamil, kan?”

“Tidak.”

“Kalau aku tidak hamil, kamu tetap akan menikahi aku?”

Pertanyaan itu menghantam bagian dalam diriku yang paling rapuh. Aku ingin segera menjawab iya, tetapi suara itu seperti tertahan di tenggorokan. Hanya beberapa detik, tetapi cukup lama bagi Intan untuk menangkap keraguanku.

“Kamu tidak bisa jawab?” tanyanya lirih.

“Aku pasti akan menikahi kamu. Mungkin tidak secepat ini, tetapi hubungan kita memang menuju ke sana.”

Aku mengatakannya sambil menatap matanya. Aku tidak tahu apakah itu sebuah kejujuran atau hanya jawaban yang perlu didengarnya. Namun bukankah sejak awal aku memang menjadikan Intan sebagai jalan menuju kehidupan yang ingin kubangun? Bukankah aku telah memperkenalkannya kepada keluargaku bahkan sebelum mengetahui kehamilannya?

Aku ingin mempercayai ucapanku sendiri.

Intan akhirnya mengangguk, meskipun keraguan belum sepenuhnya meninggalkan wajahnya. Ia kembali mengambil contoh undangan, lalu kami melanjutkan pembicaraan seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi. Namun sejak saat itu, aku menyadari bahwa Intan mulai memperhatikan setiap perubahan sikapku. Ia mulai peka ketika aku terlalu lama melamun atau terlihat gelisah setelah menerima telepon.

Aku harus lebih berhati-hati.

Aku juga harus segera mengakhiri sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar kuakhiri.

Malam itu, setelah Intan tertidur, aku duduk sendirian di ruang tamu. Di tanganku terdapat secarik kertas berisi nomor telepon lama Ze yang kutulis berdasarkan ingatan. Aku telah menghafal nomor itu begitu lama hingga rasanya mustahil melupakannya.

Berkali-kali aku mengetiknya ke dalam telepon. Berkali-kali pula kuhapus sebelum menekan tombol panggilan. Aku takut nomor itu sudah tidak aktif. Namun aku jauh lebih takut jika seseorang menjawab dan suara yang kurindukan benar-benar terdengar dari seberang sana.

Apa yang akan kukatakan?

Bahwa aku akan menikah?

Bahwa perempuan yang akan kunikahi sedang mengandung anakku?

Bahwa setelah meninggalkannya tanpa penjelasan selama setahun lebih, aku tiba-tiba ingin kembali hanya untuk menghancurkan harapannya sekali lagi?

Aku meletakkan telepon di atas meja, lalu meremas wajahku dengan kedua tangan. Seharusnya aku membiarkan Ze hidup tanpa kehadiranku. Jika ia telah berhasil melupakan aku, kemunculanku hanya akan membuka luka lama.

Namun ada sesuatu dalam diriku yang terus mendesak untuk menemuinya.

Aku ingin melihatnya sekali lagi sebelum menikah. Aku ingin mendengar suaranya, memastikan keadaannya baik-baik saja, lalu menjelaskan alasan kepergianku. Setidaknya, itulah yang terus kukatakan kepada diriku sendiri.

Padahal jauh di dalam hati, aku tahu ada alasan lain yang lebih jujur.

Aku merindukannya.

Kerinduan itu tidak hilang ketika aku bersama Intan. Tidak lenyap setelah kami tinggal serumah. Bahkan tidak mati ketika di dalam tubuh Intan tumbuh seorang anak yang akan membawa namaku. Ia hanya bersembunyi di balik kesibukan dan ketakutan, menunggu saat aku lengah untuk kembali muncul ke permukaan.

Akhirnya, aku menekan tombol panggilan.

Nada sambung terdengar.

Satu kali.

Dua kali.

Kemudian panggilan terputus tanpa jawaban.

Aku mengembuskan napas panjang. Entah lega atau kecewa. Beberapa menit kemudian, aku mencobanya kembali. Hasilnya tetap sama.

Tidak ada jawaban.

Aku menatap layar telepon cukup lama. Mungkin nomor itu sudah tidak digunakan. Mungkin Ze melihat nomor asing dan memilih mengabaikannya. Atau mungkin kehidupan memang sedang memberiku peringatan agar tidak mengusik masa lalu.

Aku hampir menyerah ketika tiba-tiba telepon bergetar di tanganku. Nomor yang baru saja kuhubungi muncul di layar.

Jantungku berdegup begitu kencang.

Aku membiarkan telepon itu berdering beberapa saat karena tidak tahu apakah aku benar-benar siap menjawabnya. Namun sebelum panggilan berakhir, aku menekan tombol hijau.

“Halo?”

Suara itu membuat tubuhku seketika membeku.

Suara Ze.

Tidak banyak yang berubah. Suaranya masih terdengar seperti yang kuingat, meskipun kini ada kehati-hatian di dalamnya.

“Halo?” ulangnya. “Siapa ini?”

Aku membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Selama setahun lebih aku membayangkan saat ini. Namun ketika benar-benar mendengar suaranya, seluruh kalimat yang telah kususun mendadak lenyap.

“Kalau tidak bicara, saya tutup.”

“Ze.”

Hening.

Aku dapat mendengar napasnya tertahan dari seberang sana. Beberapa detik berlalu, tetapi tidak satu pun dari kami berbicara.

“Ini aku,” lanjutku pelan.

Aku mendengar embusan napas yang berat. “Bayu?”

“Iya.”

Kembali terjadi keheningan. Kali ini terasa lebih panjang dan menyesakkan. Aku tidak tahu apa yang sedang dirasakan Ze. Mungkin marah, terkejut, atau justru tidak ingin mendengar suaraku lagi.

“Kamu dapat nomor aku dari mana?” tanyanya akhirnya.

“Aku masih hafal.”

“Oh.”

Hanya itu jawabannya. Tidak ada kemarahan atau kegembiraan yang dapat kutangkap. Sikapnya yang begitu datar justru membuatku semakin gugup.

“Kamu apa kabar?”

“Setelah setahun lebih menghilang, itu yang pertama kali kamu tanyakan?”

Aku memejamkan mata. Ada luka yang terasa jelas dalam nada suaranya.

“Maaf.”

“Kamu ke mana saja?”

“Aku pindah ke kota lain.”

“Aku tahu kamu pindah. Yang aku tidak tahu, kenapa kamu harus menghilang seperti orang mati.”

Aku tidak segera menjawab. Semua alasan yang selama ini terdengar masuk akal di dalam pikiranku tiba-tiba terasa begitu pengecut ketika harus kuucapkan kepadanya.

“Aku perlu menjauh.”

“Dari siapa? Dari aku?”

“Dari semuanya.”

Ze tertawa kecil, tetapi tidak terdengar bahagia. “Kamu berhasil.”

“Apa?”

“Menjauh.”

Aku dapat merasakan dinding yang dibangunnya melalui setiap jawaban singkat itu. Aku pantas mendapatkannya. Aku telah pergi tanpa penjelasan, lalu berharap ia tetap menjadi Ze yang sama ketika aku kembali.

“Ze, aku ingin bertemu.”

“Untuk apa?”

“Ada sesuatu yang perlu aku jelaskan.”

“Lewat telepon saja.”

“Aku tidak bisa membicarakannya lewat telepon.”

“Kenapa? Waktu meninggalkan aku, kamu bahkan tidak membutuhkan telepon.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan. Aku terdiam cukup lama sambil menahan sesak yang mulai memenuhi dada.

“Aku tahu aku salah.”

“Bukan salah, Bay. Kamu memilih.”

“Iya. Aku memilih pergi.”

“Lalu sekarang kamu memilih kembali?”

“Aku tidak kembali,” jawabku lirih.

Setelah mengucapkan kalimat itu, aku langsung menyesalinya. Namun semuanya telah terlambat. Aku mendengar Ze menarik napas panjang.

“Kalau kamu tidak kembali, untuk apa kita bertemu?”

“Aku hanya ingin melihat kamu.”

“Supaya apa?”

Aku tidak dapat memberikan jawaban yang tidak akan terdengar egois. Aku ingin melihatnya karena rindu. Aku ingin memastikan bahwa masih ada tempat untukku di dalam hatinya, meskipun aku sendiri akan segera menjadi milik kehidupan yang lain.

“Aku harus menjelaskan semuanya secara langsung.”

“Aku tidak butuh penjelasan.”

“Tapi aku membutuhkannya.”

“Jadi, semua ini tetap tentang kamu?”

Aku kembali terdiam.

Ze benar. Aku menghubunginya bukan hanya untuk memberikan penjelasan, melainkan juga untuk meringankan beban di dalam diriku. Aku ingin ia memahami alasanku agar aku tidak perlu menjalani pernikahan dengan perasaan sebagai manusia paling kejam di dunia.

Namun di balik seluruh alasan itu, ada sesuatu yang tidak sanggup kukatakan melalui telepon: Aku ingin memeluknya sekali lagi.

“Sekali saja, Ze,” pintaku. “Setelah itu kalau kamu tidak ingin bertemu atau mendengar kabar dariku lagi, aku akan mengerti.”

“Aku sudah berusaha melupakan kamu.”

“Apa kamu sudah berhasil?”

Ze tidak menjawab.

Keheningannya membuat sesuatu bergetar di dalam dadaku. Aku tahu seharusnya aku tidak merasa lega, tetapi bagian paling egois dalam diriku bersyukur karena mungkin ia belum sepenuhnya melupakanku.

“Kapan kamu ke sini?” tanyanya akhirnya.

“Beberapa hari lagi.”

“Hubungi aku kalau sudah sampai.”

Panggilan berakhir tidak lama kemudian. Aku masih menempelkan telepon ke telinga meskipun suara Ze tidak lagi terdengar. Ada kelegaan karena akhirnya aku berhasil menemukannya, tetapi bersamaan dengan itu muncul ketakutan yang jauh lebih besar.

Aku akan bertemu Ze.

Aku akan melihat wajah yang selama setahun lebih berusaha kulupakan. Aku akan mengatakan kepadanya bahwa aku segera menikah dan telah tinggal serumah dengan calon istriku. Aku akan menghancurkan harapan yang mungkin masih disimpannya sejak kepergianku.

Malam-malam berikutnya terasa semakin berat. Aku berbaring di samping Intan sambil memikirkan pertemuan yang akan datang. Setiap kali ia bergerak dalam tidurnya dan mendekatkan tubuh kepadaku, rasa bersalah menjalar di seluruh dadaku.

Aku tidak berselingkuh. Setidaknya, belum.

Namun pikiranku telah berjalan menuju seseorang yang lain. Dan aku tidak tahu apakah pengkhianatan selalu dimulai dari tubuh, atau justru sejak seseorang diam-diam menyediakan ruang di dalam hatinya bagi nama yang seharusnya telah ditinggalkan.

Beberapa hari kemudian, aku berpamitan kepada Intan dengan alasan harus menyelesaikan urusan pekerjaan di kota asalku. Ia sedang berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut ketika aku memasukkan pakaian ke dalam tas.

“Berapa lama?” tanyanya.

“Cuma dua hari.”

“Tidak bisa setelah pernikahan?”

“Harus sekarang.”

Intan menoleh. “Urusan apa?”

“Ada beberapa dokumen lama yang harus aku urus.”

Ia mengangguk, tetapi tatapannya menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya percaya. Aku mendekatinya, lalu mengecup keningnya.

“Jaga diri baik-baik.”

“Kamu juga.”

Tanganku sempat menyentuh perutnya yang belum terlalu terlihat. Di sana tumbuh seorang anak yang akan mengubah seluruh kehidupanku. Seketika muncul keinginan untuk membatalkan perjalanan. Aku seharusnya tetap berada di sisi Intan, mempersiapkan pernikahan kami, dan melupakan Ze untuk selamanya.

Namun jika aku tidak pergi sekarang, mungkin seumur hidup aku akan bertanya-tanya tentang apa yang seharusnya kukatakan kepadanya.

“Aku akan segera pulang,” ucapku.

Intan menatapku cukup lama. “Bayu.”

“Iya?”

“Setelah urusan ini selesai, kamu benar-benar pulang ke aku, kan?”

Pertanyaannya membuat dadaku bergetar. Seolah tanpa mengetahui apa pun, Intan dapat merasakan bahwa perjalanan ini bukan semata-mata tentang pekerjaan.

Aku menggenggam kedua tangannya.

“Aku pulang.”

Kali ini, aku tidak berdusta. Apa pun yang terjadi ketika bertemu Ze, pada akhirnya aku harus kembali. Intan mengandung anakku dan beberapa minggu lagi akan menjadi istriku. Tidak ada perasaan, kenangan, atau kerinduan yang dapat mengubah kenyataan itu.

Aku meninggalkan tempat tinggal kami pada pagi hari. Sepanjang perjalanan, pemandangan di balik jendela membawa kembali ingatan tentang hari ketika aku pergi setahun lebih sebelumnya. Dulu aku meninggalkan kota itu sambil berjanji akan melupakan Ze. Kini aku kembali dengan hati yang masih dipenuhi namanya.

Ketika akhirnya tiba, kota itu tampak sama, tetapi aku merasa telah berubah menjadi seseorang yang lain. Aku bukan lagi Bayu yang dahulu bebas memeluk Ze tanpa memikirkan siapa pun. Aku datang sebagai calon suami dan calon ayah yang diam-diam ingin menemui laki-laki dari masa lalunya.

Aku menghubungi Ze dan mengabarkan bahwa aku telah sampai. Kami menyepakati waktu untuk bertemu malam itu. Hingga beberapa jam sebelum pertemuan, aku masih belum tahu bagaimana akan menyampaikan semuanya.

Aku hanya tahu bahwa pertemuan tersebut mungkin menjadi kesempatan terakhirku untuk menatapnya dari dekat.

Malam mulai turun ketika aku berdiri di depan tempat tinggal Ze. Tanganku terangkat hendak mengetuk pintu, tetapi berhenti di udara. Jantungku berdegup keras, sementara napasku terasa tidak teratur.

Di balik pintu itu ada seseorang yang pernah kucintai, kutinggalkan, dan gagal kulupakan.

Beberapa saat kemudian, aku akhirnya mengetuk.

Pintu perlahan terbuka.

Ze berdiri di hadapanku.

Selama beberapa detik, kami hanya saling menatap tanpa kata. Wajahnya masih seperti yang tersimpan di dalam ingatanku, tetapi sorot matanya telah berubah. Ada kerinduan, kebahagiaan, kemarahan, dan luka yang bercampur dalam satu tatapan.

Saat melihatnya, seluruh keyakinan yang kubangun selama setahun lebih runtuh dalam sekejap.

Aku masih mencintainya.

Dan malam itu, aku harus mengatakan bahwa beberapa minggu lagi aku akan menikahi orang lain.**

SELAMA beberapa detik, kami hanya berdiri dan saling menatap. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum, bahkan tidak ada gerakan untuk mendekat. Seolah jarak setahun lebih telah berubah menjadi dinding yang tidak dapat dihancurkan hanya dengan satu pertemuan.

Ze tampak sama seperti yang kuingat, tetapi sekaligus berbeda. Wajahnya terlihat lebih dewasa. Tatapannya masih menyimpan kehangatan yang kukenal, hanya saja kini ada kehati-hatian di dalamnya. Seolah ia sedang berdiri di hadapan seseorang yang sangat dirindukan, tetapi juga berpotensi melukainya kembali.

“Kamu benar-benar datang,” ucapnya.

Aku mengangguk. “Iya.”

“Kukira kamu akan menghilang lagi.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuatku menunduk. Bahkan sebelum pertemuan ini benar-benar dimulai, aku sudah kembali diingatkan pada kesalahan yang tidak mungkin kuhapus.

Aku kembali mengangkat wajah dan menatapnya. Mata kami bertemu lebih lama daripada sebelumnya. Tidak ada lagi kalimat yang mampu kuucapkan. Seluruh kata yang telah kupersiapkan selama perjalanan mendadak kehilangan makna ketika akhirnya aku benar-benar berdiri di hadapannya.

Ze pun tidak berkata apa-apa. Namun melalui sorot matanya, aku dapat melihat kerinduan yang selama ini berusaha disembunyikannya. Kerinduan yang sama seperti yang terus kubawa ke kota baru, ke dalam pekerjaanku, ke tempat tinggalku bersama Intan, bahkan ke dalam rencana pernikahan yang sebentar lagi akan kujalani.

Aku melangkah mendekatinya.

Ze tidak mundur.

Tanpa meminta izin, aku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Sesaat tubuhnya menegang, seperti masih ragu apakah ia harus menerima atau menolakku. Namun perlahan, kedua tangannya terangkat dan membalas pelukanku.

Erat.

Aku memejamkan mata dan membenamkan wajah di bahunya. Aroma tubuhnya masih sama. Aroma yang selama setahun lebih hanya dapat kujumpai di dalam mimpi. Seketika seluruh jarak, waktu, dan kebohongan yang kubangun seperti runtuh di antara tubuh kami.

Tidak ada kemarahan dalam pelukan itu. Tidak ada pula tuntutan agar aku menjelaskan ke mana saja aku pergi. Hanya ada dua manusia yang pernah saling mencintai, kemudian dipisahkan oleh ketakutan salah satunya.

Aku tidak tahu berapa lama kami berdiri seperti itu. Mungkin hanya beberapa detik. Namun bagiku, pelukan itu terasa seperti kepulangan setelah perjalanan panjang yang melelahkan.

“Aku boleh masuk?” tanyaku setelah kami perlahan melepaskan pelukan.

Ze menggeser tubuhnya dan membiarkanku melewati pintu. Aroma ruangan itu terasa familier. Beberapa benda masih berada di tempat yang sama seperti ketika terakhir kali aku datang. Sofa di ruang tamu, meja kecil di sudut ruangan, serta jendela kaca yang menghadap ke luar—semuanya seolah menyimpan sisa kehidupan yang pernah kutinggalkan begitu saja.

Aku duduk di sofa, sementara Ze mengambilkan minuman. Ketika ia kembali, kami berusaha berbicara seperti dua orang yang hanya lama tidak bertemu. Ia menanyakan pekerjaanku, kota tempatku tinggal, serta bagaimana kehidupanku selama setahun lebih. Aku menjawab sebisaku tanpa segera menyentuh alasan utama kedatanganku.

Perlahan, kekakuan di antara kami mulai menghilang. Ze menceritakan beberapa kejadian yang kulewatkan. Sesekali ia tertawa, dan suara itu membuatku kembali mengingat malam-malam lama ketika kami dapat berbicara berjam-jam tanpa merasa kehabisan waktu.

Untuk beberapa saat, aku hampir lupa bahwa aku datang untuk berpamitan.

Aku menatap wajahnya diam-diam, menghafal setiap perubahan yang ada. Cara Ze menggerakkan tangan ketika berbicara masih sama. Tawanya masih terdengar lepas. Bahkan cara ia menatapku masih sanggup membuat seluruh pertahananku runtuh.

Aku bahagia.

Namun kebahagiaan itu terasa seperti sesuatu yang kucuri dari kehidupan orang lain. Di kota yang baru, Intan sedang menungguku pulang. Di dalam tubuhnya tumbuh anakku. Sementara di tempat ini, aku kembali menjadi Bayu yang pernah percaya bahwa cinta saja sudah cukup.

Aku tahu setelah malam ini tidak akan ada kehidupan yang benar-benar kembali sama. Aku akan mengatakan kepadanya bahwa aku hendak menikah. Aku akan menjelaskan bahwa perempuan yang sedang mengandung anakku menungguku pulang. Kemudian aku akan menyaksikan sendiri bagaimana kebahagiaan di wajah Ze perlahan runtuh karena keputusan yang kubuat.

Namun sebelum semua itu terjadi, aku ingin membiarkan waktu berhenti sedikit lebih lama. Aku ingin mendengar tawanya, memandangi wajahnya, dan berpura-pura bahwa kepulanganku kali ini benar-benar untuk menjemputnya.

Padahal aku datang hanya untuk mengembalikan cinta yang pernah dititipkannya kepadaku.

Cinta yang selama setahun lebih kubawa ke mana-mana, tetapi tidak mungkin kubawa pulang ke dalam pernikahanku.

Aku mencintai Ze. Perasaan itu tidak pernah hilang dan mungkin tidak akan pernah benar-benar mati. Namun sesaat lagi aku harus mengatakan sebuah kenyataan yang akan mengubah kebahagiaan malam ini menjadi perpisahan.

Aku akan menikah.

Dan untuk pertama kalinya aku memahami bahwa seseorang dapat kembali kepada orang yang dicintainya, bukan untuk tinggal, melainkan hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.***


Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca