PARADOKS SANG PION – II

Seri 2 dari 2 — Rahasia Papan Terakhir

Hujan turun tipis ketika mereka meninggalkan kawasan pergudangan. Tidak ada seorang pun yang banyak berbicara sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta. Richard memandang keluar jendela, tetapi pikirannya masih tertinggal di gudang kosong itu. Rekaman suara, kartu identitas Bagas, hingga bidak kuda hitam berinisial A.W. terasa seperti kepingan puzzle yang seharusnya saling melengkapi. Anehnya, semakin banyak kepingan yang mereka temukan, gambar utuhnya justru semakin kabur.

Alvero duduk di kursi belakang dengan bidak kuda hitam berada di telapak tangannya. Sejak meninggalkan gudang, ia terus memutar bidak itu perlahan tanpa sekalipun mengucapkan pendapatnya. Nadira yang duduk di samping hanya sesekali melirik, mengetahui bahwa setiap kali Alvero terdiam terlalu lama, biasanya ia sedang membongkar sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

“Apa yang sedang kamu pikirkan?” akhirnya Nadira bertanya.

Alvero tidak langsung menjawab. Ia baru mengangkat wajah ketika mobil berhenti di lampu merah.

“Aku sedang mencoba mengingat satu hal.”

“Apa?”

“Kesalahan pertama yang kita buat.”

Richard menoleh dari kursi depan. “Bukankah semuanya sudah jelas? Bagas memasang perangkat, lalu seseorang berusaha mengarahkan kita kepada Adrian.”

“Itulah masalahnya.” Alvero menghela napas pelan. “Kita terlalu cepat menerima bahwa Bagas memang memasang perangkat.”

Richard mengernyit. “Rekamannya mengatakannya.”

“Rekaman itu mengatakan seseorang mengaku memasang perangkat.”

“Maksudmu suaranya bukan Bagas?”

“Bisa saja Bagas.” Alvero kembali memandang bidak kuda di tangannya. “Tetapi rekaman itu tidak membuktikan kapan percakapan itu terjadi.”

Mobil kembali berjalan. Keheningan memenuhi kabin. Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, Richard menyadari bahwa mereka belum memiliki satu pun fakta yang benar-benar berdiri sendiri. Semua yang mereka yakini selalu berasal dari sesuatu yang ditinggalkan orang lain.

***

Keesokan paginya Alvero meminta Richard mengatur pertemuan dengan Adrian Wibisana. CEO Neuratek itu tidak menolak. Ia bahkan mempersilakan mereka datang ke kantor pusat Neuratek pada pukul 10.00 tanpa meminta alasan lebih dahulu.

Gedung Neuratek jauh berbeda dari Menara Altamira. Tidak ada marmer mengilap atau lobi megah. Interiornya didominasi kayu terang dan kaca, dengan ruang kerja terbuka yang dipenuhi para pengembang perangkat lunak. Suasananya lebih menyerupai laboratorium riset dibandingkan kantor perusahaan bernilai triliunan rupiah.

Seorang sekretaris mengantar mereka menuju ruang kerja di lantai paling atas. Pintu terbuka perlahan. Adrian Wibisana berdiri di dekat jendela sambil menuangkan kopi ke dalam dua cangkir. Usianya baru melewati empat puluh tahun, tetapi sorot matanya memperlihatkan ketenangan seseorang yang telah terlalu lama hidup berdampingan dengan tekanan.

“Pak Richard,” sapanya lebih dahulu.

Richard mengangguk singkat. Adrian kemudian memandang Alvero. “Dan Anda pasti Pak Alvero.”

“Kita belum pernah bertemu.”

“Belum.” Adrian tersenyum tipis. “Tetapi saya sudah mendengar nama Anda beberapa kali.”

“Dari Reno?”

Senyum Adrian tidak berubah. “Dari banyak orang.”

Ia mempersilakan mereka duduk. Tidak ada pengacara, tidak ada staf. Hanya empat orang di dalam ruangan itu: Richard, Nadira, Alvero, dan Adrian.

***

Beberapa detik pertama berlalu tanpa pertanyaan. Adrian justru mendorong secangkir kopi ke arah Alvero. “Anda tidak minum gula, bukan?”

Richard langsung menoleh. Alvero tidak menyentuh cangkir itu. “Dari mana Anda tahu?”

“Saya membaca.”

“Membaca apa?”

“Wawancara lama Anda.”

Alvero tersenyum tipis. “Itu sepuluh tahun lalu.”

“Kebiasaan orang jarang berubah.”

Alvero akhirnya duduk. “Begitu juga kebohongan.”

Kalimat itu membuat suasana di ruangan berubah. Adrian meletakkan cangkirnya pelan. “Apakah saya sedang berbohong?”

“Saya belum tahu.”

“Lalu?”

“Saya hanya ingin melihat bagaimana Anda menjawab.”

Adrian tertawa kecil. “Saya mulai mengerti kenapa Reno menghubungi Anda.”

Richard yang sejak tadi diam akhirnya mengeluarkan bidak kuda hitam dari kantong barang bukti dan meletakkannya di atas meja. “Kami menemukannya.”

Adrian menatap benda itu beberapa detik. Ia tidak tampak terkejut. “Bentuknya bagus.”

“Anda mengenalnya?”

“Bidak catur.”

Richard mulai kehilangan kesabaran. “Jangan bermain kata.”

Adrian mengangkat pandangan. “Saya tidak sedang bermain.”

“Di bawahnya ada inisial Anda.”

“Belum tentu.”

“A.W.”

“Di Indonesia ada ribuan nama dengan inisial itu.”

Richard hendak membalas, namun Alvero mengangkat tangan. “Pak Adrian.”

“Ya.”

“Kalau saya bertanya apakah Anda mengenal Bagas Wiratama, apa jawaban Anda?”

“Saya tidak mengenalnya.”

“Terlalu cepat.”

“Karena jawabannya memang singkat.”

Alvero mengangguk. “Kalau saya bertanya lagi… apakah Bagas pernah bekerja untuk Anda?”

Adrian tidak langsung menjawab. Jeda itu sangat singkat—mungkin hanya dua detik, tetapi cukup bagi Alvero. “Tidak.”

“Kali ini Anda berpikir.”

“Saya sedang memastikan definisi bekerja.”

“Menarik.” Alvero menyandarkan tubuh. “Orang yang jujur biasanya langsung menjawab karena ia mengingat.” Tatapannya tidak lepas dari Adrian. “Orang yang berhati-hati… lebih dulu memilih jawaban yang aman.”

Ruangan kembali tenang. Adrian tersenyum—bukan senyum orang yang terpojok, melainkan senyum seseorang yang baru menemukan lawan sepadan.

“Akhirnya.”

Richard mengernyit. “Akhirnya apa?”

Adrian memandang Alvero. “Reno benar.”

“Apa maksud Anda?”

“Saya kira dia melebih-lebihkan.”

“Tentang?”

Adrian menyandarkan tubuhnya. “Tentang kemampuan Anda melihat permainan.”

Alvero tetap tenang. “Kalau begitu bantu saya.”

“Membantu apa?”

“Melihat papan yang sama.”

Adrian menggeleng pelan. “Itulah masalahnya, Pak Alvero.” Ia menunjuk bidak kuda hitam di atas meja. “Sejak awal…” Tatapannya berpindah kepada Richard. “…Anda semua mengira sedang bermain catur.”

Richard tidak memahami maksudnya. “Lalu?”

Adrian tersenyum tipis. “Padahal seseorang sudah mengganti papannya.”

Keheningan yang mengikuti kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada semua tuduhan yang pernah mereka dengar. Alvero tidak menjawab. Namun untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan yang selama ini sama sekali tidak pernah muncul di kepalanya: bagaimana jika seluruh penyelidikan mereka memang sejak awal diarahkan untuk menemukan jawaban yang salah?

Tidak ada yang segera menanggapi. Hanya suara hujan yang mulai membasahi kaca jendela, menciptakan irama pelan yang justru membuat suasana terasa semakin menekan.

Alvero tidak memalingkan pandangannya dari Adrian. Selama bertahun-tahun menangani berbagai kasus korporasi, ia terbiasa menghadapi orang yang berbohong, gugup, marah, atau terlalu percaya diri. Namun Adrian berbeda. Ia tidak berusaha mengendalikan percakapan. Ia justru membiarkan lawannya berjalan menuju kesimpulan sendiri, seolah yakin setiap pertanyaan akan membawa mereka ke tempat yang sama.

“Kalau begitu,” kata Alvero akhirnya, “jelaskan papan yang sebenarnya.”

Adrian tersenyum tipis. “Itu bukan tugas saya.”

“Reno datang menemui Anda malam sebelum rapat.”

“Benar.”

“Dia ingin membatalkan akuisisi.”

“Benar.”

“Kenapa?”

Adrian mengambil cangkir kopinya, tetapi tidak meminumnya. Jemarinya hanya memutar perlahan pegangan cangkir, seperti seseorang yang sedang memilih kenangan mana yang layak diceritakan. “Karena dia akhirnya menemukan hubungan yang selama ini tidak pernah ia cari.”

Richard mengernyit. “Hubungan apa?”

“Mahardika Capital.”

Nama itu membuat Richard terdiam. Nadira menoleh cepat ke arahnya. Selama penyelidikan berlangsung, nama tersebut belum pernah muncul, tetapi dari perubahan wajah Richard, Alvero tahu nama itu bukan sesuatu yang asing.

“Anda mengenalnya,” kata Alvero.

Richard mengangguk pelan. “Mahardika adalah perusahaan investasi lama. Bangkrut hampir dua puluh tahun lalu.”

“Hanya itu yang Anda ingat?”

Richard menghela napas panjang. “Saya pernah bekerja di sana sebelum mendirikan Altamira.”

Alvero memandangnya beberapa saat. “Kenapa tidak pernah Anda ceritakan?”

“Karena saya tidak melihat hubungannya.”

Adrian tersenyum tipis. “Itulah kesalahan semua orang.”

***

Richard memejamkan mata sesaat. Ingatannya kembali pada sebuah gedung tua di kawasan Kuningan, dua puluh tahun silam. Mahardika Capital pernah menjadi salah satu perusahaan investasi paling agresif di Indonesia. Mereka tumbuh cepat, membeli perusahaan di berbagai sektor, lalu tiba-tiba runtuh setelah serangkaian transaksi yang tidak pernah benar-benar dijelaskan kepada publik.

Richard keluar enam bulan sebelum perusahaan itu bangkrut. Reno masuk tiga bulan setelah Richard keluar. Mereka tidak pernah bekerja bersama.

“Reno menemukan arsip Mahardika?” tanya Richard.

“Bukan.” Adrian menggeleng. “Dia menemukan nama-nama yang tidak pernah hilang.”

“Maksud Anda?”

“Perusahaan bisa berganti nama.” Tatapan Adrian bergeser kepada Alvero. “Direksi bisa pensiun.”

“Lalu?”

“Pemilik modal jarang benar-benar pergi.”

Kalimat itu menggantung di udara lebih lama daripada yang seharusnya.

***

Nadira membuka tablet yang sedari tadi berada di pangkuannya. “Saya sudah meminta tim melakukan pencarian terhadap Mahardika setelah Pak Richard menyebut namanya.” Ia memperbesar bagan kepemilikan beberapa perusahaan. “Mahardika memang sudah bubar.” Jarinya bergeser ke bawah. “Tetapi sebagian asetnya dibeli oleh tiga perusahaan berbeda.”

“Salah satunya?” tanya Alvero.

“Lentera Analitika.”

Richard menoleh kepada Helena yang tidak ikut dalam pertemuan itu, tetapi namanya seolah kembali hadir di tengah ruangan. “Lentera…”

“Ya,” Nadira mengangguk. “Perusahaan yang disebut Bu Helena.”

Alvero mulai memahami sesuatu. “Lalu dua lainnya?”

“Satu sudah dilikuidasi.”

“Dan?”

Nadira berhenti beberapa detik. “Neuratek.”

Richard memandang Adrian. “Jadi ini semua tentang akuisisi?”

“Bukan.” Adrian menjawab tenang. “Akuisisi hanya akibat.”

“Lalu penyebabnya?”

Adrian tersenyum tipis. “Kalian masih bertanya pertanyaan yang salah.”

***

Alvero berdiri dan berjalan menuju jendela. Dari lantai paling atas gedung Neuratek, Jakarta tampak tenang, seolah tidak pernah menyimpan rahasia sebesar itu. Ia mengingat kembali semua yang telah mereka temukan: pion hitam, angka 08.43, Bagas, gudang, rekaman, bidak kuda. Semuanya terlalu rapi. Ia memejamkan mata, lalu tiba-tiba membukanya kembali.

“Reno tidak meninggalkan petunjuk.”

Richard menoleh. “Apa?”

“Dia…” Alvero menggeleng pelan. “…meninggalkan jalur.”

“Maksudmu?”

“Dia tahu kita akan mengikuti setiap petunjuk.”

Nadira mulai memahami arah pikirannya. “Jadi semua ini… bukan untuk menemukan pembunuh.”

Alvero menatap Adrian. “Tetapi untuk menemukan seseorang.”

Adrian tidak menjawab. Diamnya menjadi jawaban yang jauh lebih kuat.

***

“Kenapa memilih saya?” tanya Alvero.

“Itu pertanyaan yang seharusnya Anda ajukan sejak awal.”

“Kenapa bukan Richard?”

“Karena Richard bagian dari papan.”

“Daniel?”

“Sudah terlalu jauh.”

“Helena?”

“Dia menjaga hukum.”

“Lalu saya?”

Adrian tersenyum. “Karena Anda satu-satunya orang yang tidak memiliki kepentingan.”

Alvero menggeleng. “Itu bukan alasan.”

“Bukan,” Adrian mengakui. “Itu hanya syarat.”

“Lalu alasan sebenarnya?”

Adrian berdiri dan berjalan menuju rak buku di belakang mejanya. Dari sana ia mengambil sebuah map cokelat tua yang mulai kusam dimakan usia. Tanpa membukanya, ia meletakkan map itu di atas meja.

“Ini yang dicari Reno.”

Richard memandang map tersebut. “Kenapa tidak kau berikan sejak awal?”

“Karena saya ingin tahu…” Tatapan Adrian beralih kepada Alvero. “…apakah orang yang dipilih Reno memang layak dipilih.”

Alvero tidak segera membuka map itu. “Kalau saya gagal?”

“Berarti Reno salah.”

“Dan kalau saya berhasil?”

Adrian tersenyum. “Berarti permainan benar-benar berakhir.”

***

Perjalanan pulang berlangsung jauh lebih sunyi dibandingkan saat mereka datang. Map cokelat itu berada di pangkuan Alvero. Tidak seorang pun membukanya selama berada di dalam mobil. Richard beberapa kali ingin bertanya, tetapi mengurungkannya. Nadira memandang jalan di depan dengan pikiran yang sama kacaunya.

Sesampainya di kantor Altamira, mereka langsung menuju ruang kerja Richard. Pintu dikunci, tirai ditutup, dan Alvero meletakkan map di atas meja. Ia membuka pengait logamnya perlahan. Di dalamnya hanya ada beberapa lembar dokumen lama, daftar nama, dan sebuah foto hitam putih yang mulai pudar.

Richard mengambil foto itu lebih dahulu. Tangannya langsung berhenti dan wajahnya berubah pucat. “Itu…”

Nadira mendekat. Foto tersebut memperlihatkan jajaran direksi Mahardika Capital dua puluh tahun silam. Richard mengenali hampir semua wajah. Namun ada satu orang yang membuat napasnya tercekat. Pria itu berdiri di barisan belakang—masih muda, masih berambut hitam, tetapi wajahnya tidak mungkin salah.

“Itu…” Richard menelan ludah. “…ayah Daniel.”

Alvero tidak terkejut. Ia justru memandangi daftar nama yang berada di bawah foto. Di samping satu nama terdapat tanda centang merah yang dibuat menggunakan tinta yang mulai memudar. Nama itu bukan Richard, bukan Daniel, bukan Adrian, melainkan Reno Sasmita.

Alvero mengangkat kepala perlahan. “Reno…” gumamnya lirih, “…ternyata tidak sedang menyelidiki pembunuhnya.”

Richard menatapnya. “Lalu?”

Alvero menutup map itu perlahan. “Ia sedang mencari… siapa yang masih hidup.”

***

Tidak seorang pun menyentuh map cokelat itu selama hampir satu menit. Ruangan kerja Richard yang biasanya dipenuhi suara diskusi kini hanya diisi dengung pelan pendingin ruangan. Hujan di luar mulai reda, menyisakan tetesan air yang mengalir di balik dinding kaca Menara Altamira. Map tua bertuliskan Mahardika Capital tergeletak di tengah meja, seperti benda yang selama puluhan tahun menunggu seseorang cukup berani untuk membukanya.

Richard mengusap wajahnya perlahan. Sejak melihat foto direksi Mahardika beberapa saat lalu, ingatan yang selama ini terkubur mulai bermunculan satu demi satu. Nama-nama lama, ruang rapat yang telah lama dibongkar, aroma kertas arsip, hingga wajah-wajah yang pernah ia anggap sebagai mentor kini kembali memenuhi kepalanya.

“Aku pikir semuanya sudah berakhir…” gumamnya lirih.

Alvero mengangkat pandangan. “Belum pernah berakhir.”

Richard menatapnya.

“Yang berubah hanya nama perusahaannya.” Tidak ada seorang pun yang membantah.

***

Alvero membuka isi map dengan hati-hati. Sebagian besar dokumen telah menguning dimakan usia. Beberapa lembar berupa laporan audit internal, sisanya salinan akta perusahaan, struktur kepemilikan saham, serta korespondensi yang sebagian tintanya mulai memudar.

Nadira membantu menyusun lembar-lembar itu berdasarkan tanggal. Semakin banyak dokumen dibuka, semakin jelas pola yang selama ini tersembunyi. Mahardika Capital memang dinyatakan bangkrut dua puluh tahun lalu. Namun sebelum proses likuidasi selesai, sebagian besar asetnya telah dipindahkan melalui serangkaian perusahaan baru. Nama perusahaan berubah, direksi berganti, kepemilikan saham berpindah berkali-kali, tetapi beberapa tanda tangan tetap muncul pada setiap dokumen.

“Tidak mungkin…” bisik Richard.

“Apa?” tanya Nadira.

Richard menunjuk satu nama. “Itu komisaris Mahardika.”

Nadira membaca dokumen berikutnya. Nama yang sama muncul kembali—kali ini sebagai penasihat perusahaan lain. Beberapa tahun kemudian… sebagai pemegang saham. Lalu… menghilang. Tidak benar-benar hilang, hanya digantikan oleh perusahaan keluarga.

Alvero mulai menyusun seluruh dokumen di atas meja. Setiap nama dihubungkan dengan garis. Perusahaan demi perusahaan, transaksi demi transaksi. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, meja Richard berubah menjadi sebuah peta. Bukan peta perusahaan, melainkan peta sebuah jaringan.

***

Daniel datang hampir bersamaan ketika Nadira selesai menyusun dokumen terakhir. Wajahnya tampak lelah. Sejak mengetahui nama ayahnya muncul dalam foto Mahardika, ia tidak kembali ke ruangannya. Ia menghabiskan waktu berjam-jam mencari arsip keluarga yang bahkan tidak pernah ingin diketahuinya.

“Aku menemukannya,” katanya pelan.

Richard mengangkat kepala. “Apa?”

“Surat pengunduran diri ayahku.” Daniel meletakkan sebuah map tipis di atas meja. “Tanggalnya… seminggu sebelum Mahardika dinyatakan bangkrut.”

Richard membuka surat tersebut. Isinya singkat. Ayah Daniel menyatakan mengundurkan diri karena tidak menyetujui beberapa keputusan dewan direksi. Tidak ada penjelasan, tidak ada tuduhan, tidak ada nama. Namun di bagian bawah terdapat satu kalimat yang membuat Alvero berhenti membaca:

Saya tidak ingin menjadi bagian dari permainan ini.

Alvero perlahan menutup surat itu. “Kalimat yang sama.”

Richard memandangnya bingung. “Maksudmu?”

“Reno.” Alvero mengingat kembali ucapan Reno di ruang rapat. “Aku tidak bisa melanjutkan.” Saat itu semua orang mengira Reno sedang mundur. Padahal… ia sedang menolak masuk lebih jauh ke dalam permainan yang sama.

***

Helena tiba hampir menjelang malam. Tidak ada ekspresi terkejut ketika melihat dokumen Mahardika memenuhi meja Richard. Ia hanya menarik kursi, duduk perlahan, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tasnya.

Richard langsung mengenalnya. “Itu…”

Helena mengangguk. “Yang saya ambil dari ruang rapat hari itu.”

Richard menatapnya lama. “Kenapa baru sekarang?”

“Saya menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Orang yang tepat.”

Daniel tertawa hambar. “Semua orang sekarang bilang begitu.”

Helena tidak menanggapinya. Ia mendorong amplop tersebut ke arah Alvero. “Buka.”

Alvero membuka perekat amplop perlahan. Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas—bukan laporan, bukan kontrak, melainkan tulisan tangan. Tulisan yang langsung dikenali Richard.

“Itu tulisan Reno.”

Alvero membaca bagian atas surat itu tanpa bersuara. Beberapa detik kemudian ia mengangkat wajah. “Dia memang menulis untukku.”

Richard menarik napas panjang. “Bacakan.”

Alvero mengangguk pelan. Ia mulai membaca dengan suara tenang:

Untuk Alvero Rendrata,

Kalau kamu membaca surat ini, berarti aku gagal.

Aku tahu kamu akan mencari pembunuhku. Jangan lakukan itu. Pembunuh hanya mengakhiri hidup seseorang. Yang harus kamu cari adalah orang yang membuat kematianku menjadi mungkin.

Kalau kamu sudah sampai pada surat ini, berarti kamu sudah bertemu Richard, Helena, Daniel… mungkin juga Adrian.

Jangan menyalahkan mereka terlalu cepat. Mereka bukan musuhmu. Sebagian bahkan tidak sadar sedang memainkan peran yang telah dipilihkan untuk mereka bertahun-tahun lalu.

Daniel menundukkan kepala. Helena memejamkan mata. Richard menggenggam ujung meja tanpa sadar. Kalimat dalam surat itu terasa jauh lebih berat daripada tuduhan apa pun.

***

Alvero membalik halaman berikutnya. Di bagian bawah terdapat tulisan yang jauh lebih kecil, seolah Reno sengaja menuliskannya belakangan:

Kalau sampai di sini kamu masih mengira ini tentang Mahardika… berarti aku masih gagal menjelaskan semuanya.

Alvero berhenti. Nadira mengangkat kepala. “Apa maksudnya?”

Tidak ada yang menjawab, sebab mereka semua baru menyadari satu hal. Selama ini mereka menganggap Mahardika adalah tujuan penyelidikan, padahal menurut Reno, Mahardika hanya pintu masuk.

Alvero membalik halaman terakhir surat itu. Namun… bagian bawahnya kosong. Tidak ada lagi tulisan, tidak ada tanda tangan, tidak ada penjelasan. Hanya sebuah bekas lipatan yang menunjukkan bahwa dulu pernah ada sesuatu diselipkan di sana—sesuatu yang kini telah hilang.

Alvero memandang Helena. “Ada halaman lain.”

Helena mengangguk pelan. “Ada.”

“Di mana?”

Helena menghela napas panjang. Tatapannya berpindah kepada Richard, kemudian kepada Daniel. “Reno tidak pernah memberikannya kepadaku.”

“Lalu siapa?”

Helena menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar. “Adrian.”

Alvero melipat kembali surat Reno dengan hati-hati. Kini ia mengerti. Surat itu memang ditujukan kepadanya. Tetapi Reno sengaja memecah jawabannya menjadi dua bagian. Bagian pertama berada di tangan Helena, sedangkan bagian terakhir masih disimpan Adrian Wibisana.

***

Tidak ada yang beranjak dari ruang kerja Richard setelah nama Adrian kembali disebut. Jam dinding menunjukkan hampir pukul 21.00. Sebagian besar lantai direksi telah kosong, hanya lampu koridor yang masih menyala redup. Kota di balik kaca berubah menjadi lautan cahaya, tetapi di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti sejak surat Reno dibacakan.

Alvero melipat kembali surat tersebut dan memasukkannya ke dalam amplop putih. Ia tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak membaca kalimat terakhir Reno. Mahardika bukan tujuan. Berarti selama ini mereka masih berdiri di lapisan paling luar dari permainan yang sesungguhnya.

“Aku akan menemui Adrian,” katanya akhirnya.

Richard langsung mengangguk. “Aku ikut.”

“Tidak.”

Richard mengernyit. “Kenapa?”

“Karena kalau Reno benar, Adrian hanya akan berbicara kepada orang yang memang ingin dia temui.”

Daniel berdiri dari kursinya. “Kalau dia menolak?”

Alvero tersenyum tipis. “Dia tidak akan menolak.”

Malam semakin larut ketika Alvero tiba di kantor Neuratek. Hampir seluruh lantai telah kosong. Lampu di ruang kerja Adrian masih menyala, seolah pria itu memang sudah mengetahui akan ada seseorang yang datang.

Pintu terbuka sebelum Alvero mengetuk. “Aku sudah menunggumu,” kata Adrian tenang.

“Kau tahu aku akan datang?”

“Bukan tahu.” Adrian mempersilakannya masuk. “Aku berharap.”

Ruangan itu sama seperti pagi tadi. Meja kerja tetap rapi. Cangkir kopi telah berganti dengan secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

Alvero tidak duduk. “Aku datang mengambil halaman terakhir.”

Adrian tidak menjawab. Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah map tipis berwarna hitam, lalu meletakkannya di atas meja tanpa mendorongnya.

“Apa Reno benar-benar mempercayaimu?” tanya Alvero.

“Ya.”

“Kenapa?”

Adrian tersenyum kecil. “Karena aku satu-satunya orang yang menolak membaca halaman terakhir.”

Alvero memandangnya tajam. “Apa maksudmu?”

“Reno pernah menawarkan surat itu kepadaku.”

“Lalu?”

“Aku menolaknya.”

“Kenapa?”

“Karena surat itu bukan untukku.”

Adrian menyandarkan tubuhnya. “Reno sudah tahu hidupnya tidak akan panjang.”

“Kau tahu?”

“Tidak.” Adrian menggeleng pelan. “Aku hanya tahu dia sudah mengambil keputusan.”

“Keputusan apa?”

“Menjadi pion.”

***

Alvero akhirnya duduk. “Aku belum mengerti.”

Adrian membuka papan catur kecil yang berada di sudut rak bukunya. Bidak-bidak masih tersusun lengkap. Ia mengambil satu pion hitam, lalu meletakkannya di tengah papan.

“Semua orang menganggap pion adalah bidak paling lemah.” Ia menggeser pion itu satu langkah. “Karena geraknya pendek.” Satu langkah lagi. “Karena tidak bisa mundur.” Satu langkah lagi. “Karena selalu dikorbankan.” Adrian memandang Alvero. “Padahal justru pion… adalah satu-satunya bidak yang sejak awal tahu bahwa setiap langkahnya hanya menuju dua kemungkinan.”

“Menang?”

“Bukan. Mati. Atau… berubah.”

Alvero mulai memahami arah pembicaraan itu. “Reno sengaja mengorbankan dirinya.”

“Bukan.” Adrian menggeleng. “Dia tahu dirinya akan dikorbankan.”

“Lalu kenapa tidak melawan?”

“Karena kalau dia melawan…” Tatapan Adrian jatuh pada surat di atas meja. “…surat itu tidak akan pernah sampai kepadamu.”

Adrian akhirnya mendorong map hitam tersebut. “Ini halaman terakhir.”

Alvero membukanya perlahan. Di dalam hanya ada dua lembar: lembar pertama berupa tulisan tangan Reno, lembar kedua gambar papan catur. Tidak ada nama pembunuh, tidak ada daftar transaksi, tidak ada bukti. Hanya susunan bidak.

Alvero membaca surat itu perlahan:

Kalau kamu membaca halaman ini, berarti Adrian akhirnya percaya kepadamu.

Jangan mencari siapa yang membunuhku. Orang itu hanya tangan.
Jangan mencari siapa yang memerintahkannya. Orang itu hanya mulut.
Carilah siapa yang membuat semua orang merasa tidak punya pilihan.

Adrian tersenyum tipis. “Dia bahkan menulis namaku.”

Alvero menatap kalimat itu cukup lama. Reno tidak sedang mencari pelaku; ia sedang menunjuk sebuah sistem.

Telepon Adrian tiba-tiba berdering. Ia melihat layar sebentar, lalu mengangkatnya. “Halo.” Beberapa detik ia hanya mendengarkan. Ekspresinya berubah. Ia memutus sambungan.

“Ada apa?” tanya Alvero.

“Bagas.”

Alvero langsung berdiri. “Ditemukan?”

Adrian mengangguk. “Masih hidup.”

***

Bagas ditemukan di sebuah rumah singgah milik gereja kecil di pinggiran Bogor. Tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan foto identitasnya. Bahu kirinya masih diperban, sementara wajahnya dipenuhi memar yang mulai menguning.

Komisaris Arman sudah berada di lokasi ketika Alvero dan Adrian tiba. Bagas berusaha bangkit dari ranjang, tetapi Arman menahannya. “Kau aman.”

Bagas memandang Alvero. Matanya langsung berkaca-kaca. “Saya… saya tidak membunuh Pak Reno.”

Tidak ada seorang pun yang menyela. Bagas menggenggam selimut erat.

“Saya cuma disuruh mematikan kamera.”

“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Arman.

Bagas menggeleng. “Saya tidak pernah bertemu.”

“Lalu?”

“Semua lewat pesan.”

“Perangkat di ruang rapat?”

“Saya hanya memasangnya.”

“Apa isinya?”

“Saya tidak tahu.”

“Kau dibayar?”

Bagas mengangguk. “Lima puluh juta.”

“Lalu setelah itu?”

“Saya mau menyerahkan diri.” Bagas mulai menangis. “Tapi… seseorang lebih dulu menemukan saya.”

Alvero mendekat. “Siapa?”

Bagas menutup mata. “Saya tidak tahu namanya.”

“Coba ingat.”

“Dia cuma bilang satu kalimat.”

“Apa?”

Bagas membuka mata perlahan. Wajahnya pucat. “Dia bilang…” Suara Bagas bergetar.

Permainan sudah selesai. Sekarang giliran pion terakhir bergerak.

Kalimat itu membuat Alvero membeku. Ia pernah membaca kalimat yang hampir sama pada kertas kosong yang ditinggalkan Reno: pion pertama sudah bergerak. Kini ada seseorang yang mengatakan pion terakhir.

Alvero memandang Adrian. Tanpa perlu berbicara, keduanya memahami hal yang sama: permainan itu ternyata memang sudah memasuki langkah terakhir.

***

Malam hampir berakhir ketika Alvero kembali ke Menara Altamira bersama Richard, Daniel, Helena, Nadira, dan Komisaris Arman. Tidak ada lagi pembicaraan selama perjalanan. Pengakuan Bagas menghapus satu dugaan besar yang selama ini menjadi arah penyelidikan. Ia memang mematikan kamera pengawas dan memasang perangkat di ruang rapat, tetapi ia tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia hanyalah orang yang menerima pekerjaan tanpa memahami permainan yang sedang dimainkan.

Begitu pintu ruang rapat utama terbuka, Richard berhenti melangkah. Ruangan itu tampak sama seperti pagi ketika Reno mengundurkan diri. Kursi-kursi masih berada pada tempatnya, layar presentasi masih menggantung di dinding, dan meja oval yang dulu menjadi saksi keheningan kini terasa jauh lebih asing daripada sebelumnya.

“Kenapa kita kembali ke sini?” tanya Daniel.

Alvero berjalan menuju kursi yang dulu ditempati Reno. “Karena permainan ini dimulai di ruangan ini.”

Richard menggeleng pelan. “Bukan.” Tatapannya menyapu seluruh ruangan. “Permainan ini hanya terlihat oleh kita di ruangan ini.”

***

Alvero mengeluarkan pion hitam dari sakunya, lalu meletakkannya tepat di atas meja. Di sebelahnya ia meletakkan bidak kuda hitam yang ditemukan di gudang. Dua bidak, dua petunjuk. Selama ini mereka menganggap keduanya adalah pesan yang berbeda. Kini Alvero justru melihat hubungan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

“Pion bergerak lurus,” katanya pelan.

“Kuda melompat,” sahut Nadira.

“Benar.” Alvero mengangguk. “Reno memberi pion kepadaku.” Ia memandang semua orang. “Sedangkan orang lain meninggalkan kuda.”

Richard mulai memahami. “Artinya?”

“Reno ingin aku mengikuti langkah yang benar.” Alvero menyentuh bidak kuda. “Sedangkan seseorang yang lain ingin aku melompat.”

“Melompat ke Adrian,” gumam Daniel.

“Ya.”

Semua petunjuk yang ditemukan setelah kematian Reno selalu memiliki pola yang sama. Mereka tampak mengarah kepada seseorang, tetapi setiap kali Alvero mendekat, jawabannya kembali bergeser. Bukan karena petunjuknya salah, melainkan karena petunjuk itu memang dibuat agar selalu menghasilkan kesimpulan tertentu.

“Aku akhirnya mengerti kenapa Reno memilih catur,” kata Alvero. “Bukan karena dia menyukai permainan itu. Tetapi karena dalam catur… langkah yang paling berbahaya sering kali bukan langkah yang paling mencolok.”

***

Helena berdiri perlahan. “Ada satu hal yang belum pernah kuceritakan.”

Semua mata beralih kepadanya.

“Hari sebelum Reno mengundurkan diri…” Ia menarik napas panjang. “…dia datang ke ruanganku.”

Richard menatapnya. “Kenapa kau sembunyikan?”

“Karena dia memintaku.”

“Apa yang dia katakan?”

Helena menatap pion hitam di tangan Alvero. “Dia bilang kalau suatu hari nanti semua orang mulai saling mencurigai… berarti rencananya berhasil.”

Richard memukul meja pelan. “Dia sengaja membiarkan kita saling mencurigai?”

“Bukan.” Alvero menggeleng. “Dia sengaja memaksa kita berhenti mempercayai jawaban yang terlalu mudah.”

***

Komisaris Arman menerima panggilan dari penyidiknya. Beberapa menit kemudian ia menutup telepon dengan wajah serius. “Hasil forensik perangkat yang dipasang Bagas sudah keluar.”

Richard langsung berdiri. “Apa isinya?”

Arman menggeleng. “Tidak ada. Itu bukan alat penyadap, bukan kamera, bukan alat perekam.” Arman meletakkan laporan laboratorium di atas meja. “Hanya pemancar sinyal kosong.”

Daniel mengernyit. “Untuk apa memasang benda seperti itu?”

Alvero tersenyum tipis. “Agar semua orang mengira ada sesuatu yang dipasang.”

Selama ini mereka sibuk mencari isi perangkat, padahal tidak pernah ada isi. Perangkat itu hanya umpan—sama seperti gudang, sama seperti rekaman, sama seperti bidak kuda. Seseorang sejak awal sedang membentuk arah penyelidikan.

***

Alvero mengambil kembali surat Reno. Untuk pertama kalinya ia membacanya dari awal tanpa berhenti. Kini setiap kalimat terasa berbeda:

Jangan mencari pembunuhku. Mereka bukan musuhmu. Carilah orang yang membuat kematianku menjadi mungkin.

Ia menutup mata. Semua kepingan akhirnya menyatu. Reno tidak sedang menyusun teka-teki; ia sedang menyaring manusia. Setiap petunjuk bukan untuk menunjukkan pelaku, melainkan untuk melihat siapa yang akan berhenti berpikir ketika menemukan jawaban yang paling mudah.

Daniel berhenti pada Bagas. Richard berhenti pada Mahardika. Helena berhenti pada hukum. Polisi berhenti pada bukti. Hanya Alvero yang terus berjalan—bukan karena ia lebih cerdas, melainkan karena ia tidak pernah merasa jawaban pertama adalah jawaban terakhir.

***

Pagi mulai menyingsing ketika Adrian memasuki ruang rapat. Tidak ada yang terkejut, seolah semua sudah mengetahui ia akan datang. Adrian melihat pion hitam di atas meja, lalu tersenyum kecil. “Jadi… akhirnya kamu sampai.”

Alvero mengangguk. “Reno tidak pernah ingin aku menemukan pembunuhnya.”

“Benar.”

“Dia ingin memastikan masih ada seseorang yang mau mencari kebenaran meskipun jawabannya tidak menguntungkan siapa pun.”

Adrian mengangguk sekali lagi. “Itulah alasan aku menjaga surat itu.”

Richard menatap Adrian. “Kalau begitu… siapa yang membunuh Reno?”

Adrian terdiam cukup lama. “Jawaban itu masih ada, tapi tidak akan mengubah apa pun.”

Richard mengepalkan tangannya. “Kenapa?”

“Karena orang yang melakukannya hanyalah alat.” Tatapan Adrian perlahan menyapu seluruh ruangan. “Kalau satu alat ditangkap… akan muncul alat berikutnya.”

***

Matahari mulai menembus dinding kaca ruang rapat. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Alvero merasa tidak lagi membawa beban yang sama. Ia mengambil pion hitam, menggenggamnya beberapa saat, lalu meletakkannya kembali di atas meja.

“Tahu apa ironi terbesar dalam permainan ini?” tanyanya. Tidak ada yang menjawab. “Kita semua mengira Reno adalah pion.” Ia tersenyum tipis. “Padahal…” Tatapannya beralih kepada surat terakhir Reno. “…dialah satu-satunya pemain yang bersedia mengorbankan dirinya agar permainan itu berhenti.”

Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pengakuan dramatis, tidak ada kemenangan yang benar-benar terasa utuh. Hanya suasana hening—keheningan yang lahir ketika semua orang akhirnya memahami bahwa mereka tidak pernah sedang memburu seorang pembunuh. Mereka sedang berusaha keluar dari papan yang selama ini mereka anggap sebagai seluruh dunia.

Alvero berjalan menuju jendela. Jakarta mulai hidup dengan hiruk-pikuk pagi. Ribuan orang berangkat bekerja, membuat keputusan, menandatangani dokumen, dan menjalani hidup tanpa pernah menyadari bahwa setiap langkah kecil dapat mengubah arah permainan yang jauh lebih besar.

Ia membuka telapak tangannya. Pion hitam itu masih berada di sana. Perlahan ia meletakkannya di ambang jendela, membiarkan cahaya matahari pertama menyentuh permukaannya.

“Paradoks terbesar,” gumamnya pelan, “bukan karena pion adalah bidak yang paling lemah.” Ia berhenti sejenak. “Melainkan karena hanya pion yang berani terus melangkah, meski tahu ia mungkin tidak akan pernah kembali.”

Di belakangnya, Richard, Daniel, Helena, Nadira, Adrian, dan Arman berdiri dalam diam. Tidak ada lagi yang perlu mereka ucapkan. Permainan telah berakhir. Bukan karena raja tumbang, melainkan karena akhirnya… tidak ada lagi yang bersedia menjadi pion.

TAMAT


Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca