PARADOKS SANG PION

Seri 1 dari 2 — Bidak yang Melompat

Ada permainan yang tidak dimulai ketika langkah pertama diambil, melainkan ketika seseorang percaya bahwa ia bebas memilih langkahnya

Jakarta telah terjaga jauh sebelum matahari selesai menyibak kabut tipis di antara gedung-gedung pencakar langit. Kendaraan memenuhi ruas Jalan Jenderal Sudirman dalam barisan panjang yang bergerak tersendat, sementara dari lantai lima puluh dua Menara Altamira semuanya terlihat seperti benda-benda kecil yang mengalir tanpa tujuan. Dinding kaca ruang rapat utama meredam suara kota dan menyisakan kesunyian yang hanya sesekali dipecahkan oleh dengung mesin pendingin serta bunyi lembaran dokumen yang dibalik.

Sebelas anggota direksi Altamira Group telah menempati kursi masing-masing sebelum pukul delapan lewat tiga puluh menit. Di atas meja oval sepanjang sebelas meter, map hitam, alat tulis, dan minuman tersusun mengikuti kebiasaan setiap peserta. Secangkir espresso tanpa gula berada di depan Richard Gunawan, Direktur Utama Altamira, sedangkan kopi hitam ditempatkan di sisi kanan kursi Reno Sasmita. Tidak ada yang tampak berbeda dari rapat-rapat sebelumnya, kecuali nilai keputusan yang akan mereka ambil pagi itu.

Layar besar di ujung ruangan menampilkan logo PT Neuratek Indonesia, perusahaan teknologi kesehatan yang pertumbuhannya melampaui hampir seluruh pesaingnya. Altamira berniat membeli enam puluh dua persen saham perusahaan tersebut dengan nilai mendekati empat belas triliun rupiah. Jika transaksi itu berhasil, Altamira tidak hanya memperoleh teknologi analisis data medis, tetapi juga jalan menuju pasar regional yang selama bertahun-tahun sulit mereka tembus.

Daniel Kusuma, Direktur Operasional yang memimpin negosiasi selama enam bulan terakhir, membuka presentasi dengan keyakinan seseorang yang telah menganggap keputusan hari itu selesai sebelum rapat dimulai. Grafik pertumbuhan memenuhi layar, disusul proyeksi laba serta rencana integrasi untuk lima tahun ke depan. Daniel memiliki kemampuan membuat angka terlihat lebih menarik daripada kenyataannya. Ia berbicara seolah masa depan dapat diringkas dalam diagram berwarna dan dikendalikan melalui keputusan yang tepat.

Sebagian besar orang di ruangan itu telah bersiap memberikan persetujuan. Hanya Reno yang belum membuka map di hadapannya. Direktur Keuangan berusia empat puluh enam tahun itu duduk di sisi kanan Richard dengan kedua tangan saling bertaut, sementara pandangannya tertuju pada kopi yang belum disentuh. Richard segera menyadarinya karena selama lima belas tahun bekerja bersama, ia belum pernah melihat Reno mengikuti rapat pagi tanpa meminum kopi terlebih dahulu. Kebiasaan itu begitu tetap hingga para staf selalu menyiapkannya, bahkan ketika nama Reno belum tercantum dalam daftar peserta. Pagi itu, gagang cangkir menghadap ke kiri. Reno hanya memandanginya seolah benda tersebut telah berubah menjadi sesuatu yang asing.

Daniel baru saja menjelaskan skema pembayaran tahap kedua ketika Reno mengangkat tangan. Gerakannya tidak mencolok, tetapi cukup membuat presentasi terhenti. Richard bertanya apakah ada masalah dalam struktur pendanaan. Reno tidak segera menjawab. Ia memandang layar, kemudian wajah-wajah di sekeliling meja, seakan sedang menimbang berapa banyak yang boleh dikatakannya tanpa membuat keadaan menjadi lebih buruk.

“Saya minta maaf,” ujarnya akhirnya. Suaranya datar, tetapi lebih pelan daripada biasanya. “Saya tidak bisa melanjutkan rapat ini.”

Richard mengira Reno merasa kurang sehat dan menawarkan penundaan selama beberapa menit. Reno menggeleng, menutup map yang sejak awal tidak pernah dibukanya, lalu berdiri dengan gerakan hati-hati. “Saya mengundurkan diri dari Altamira Group.”

Kalimat itu diucapkan tanpa nada dramatis, tetapi suasana yang menyusul seolah menahan udara di dalam ruangan. Daniel sempat tersenyum kecil, menunggu Reno mengakui bahwa pernyataan tersebut hanyalah lelucon yang buruk. Ketika penjelasan itu tidak datang, senyumnya perlahan menghilang. Helena Wijaya, Direktur Hukum Altamira, merapatkan kedua tangan di atas map dan mengamati Reno dengan perhatian yang lebih tajam daripada peserta lain.

Richard meletakkan pulpennya. “Kalau ini berkaitan dengan akuisisi, kita dapat membicarakannya. Kau tidak perlu membuat keputusan semacam ini di tengah rapat.”

“Keputusan saya sudah dibuat.”

“Sejak kapan?”

Reno memandang Richard tanpa menjawab. Ada kelelahan pada wajahnya, meskipun bukan kelelahan seseorang yang kurang tidur. Ia tampak seperti orang yang telah terlalu lama mempertimbangkan sebuah pilihan dan akhirnya menyadari bahwa tidak ada jalan keluar yang sepenuhnya aman.

Daniel menyandarkan tubuhnya. “Kita semua sedang berada di bawah tekanan. Kalau ada masalah pribadi, perusahaan dapat memberimu waktu.”

“Ini bukan masalah pribadi.”

“Lalu apa?”

Reno kembali menatap logo Neuratek di layar. “Saya tidak bisa menjelaskannya di ruangan ini.”

Helena menjadi orang pertama yang menangkap arti pilihan katanya. “Apakah ada pihak yang mengancam Anda?”

Beberapa peserta saling berpandangan. Reno tidak menunjukkan keterkejutan, tetapi juga tidak menyangkalnya. Ia mengambil sebuah amplop putih dari tas kulitnya dan meletakkannya di atas meja. “Kalau saya tetap berada di sini sampai rapat berakhir, saya tidak yakin akan pulang dengan selamat.”

Kali ini tidak seorang pun menganggapnya sedang berlebihan. Richard berdiri dan menuntut nama orang yang mengancamnya, tetapi Reno tetap diam. Ketika ditanya apakah ancaman tersebut berkaitan dengan Neuratek, pandangannya turun sebentar menuju kolom-kolom tanda tangan yang telah disiapkan.

“Apa yang kau temukan?” desak Richard.

Reno menyentuh ujung amplop dengan jarinya. “Lima belas tahun saya bekerja di perusahaan ini. Selama itu saya belajar membaca laporan, risiko, dan perilaku pasar. Saya selalu mengira angka merupakan bagian paling rumit dari pekerjaan kita.” Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak mengandung humor. “Ternyata saya keliru. Angka selalu mengatakan apa adanya. Manusialah yang membuatnya sulit dibaca.”

Reno mendorong amplop tersebut ke arah Richard, kemudian mengambil tasnya. Sebelum meninggalkan ruangan, ia berhenti di depan pintu dan menatap mereka untuk terakhir kalinya. “Jangan tandatangani akuisisi itu. Setidaknya jangan hari ini.”

Pintu tertutup perlahan di belakangnya. Tidak terdengar langkah tergesa-gesa di koridor, seolah Reno baru saja meninggalkan sebuah rapat biasa. Selama beberapa saat tidak seorang pun bergerak. Helena meminta agar pertemuan segera dihentikan dan pernyataan Reno dilaporkan kepada keamanan. Daniel menolak. Menurutnya, Altamira tidak dapat menunda transaksi bernilai triliunan rupiah hanya berdasarkan peringatan yang tidak disertai bukti.

Richard membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat surat pengunduran diri resmi serta selembar kertas putih tanpa tulisan. Daniel menyebutnya kesalahan biasa, tetapi Helena memandang lembar kosong tersebut cukup lama sebelum mengatakan bahwa Reno bukan orang yang memasukkan sesuatu ke dalam amplop tanpa alasan.

Perdebatan berlangsung hingga Richard akhirnya mengambil keputusan. Tim hukum diminta memeriksa kembali seluruh dokumen, tetapi presentasi diteruskan. Ketika Daniel kembali berdiri di depan layar, jam digital di dinding menunjukkan pukul 08.43, tepat tiga belas menit setelah rapat dibuka. Persetujuan akuisisi ditandatangani kurang dari satu jam kemudian.

***

Reno tidak pernah kembali ke kantornya. Sepanjang hari, Richard mencoba menghubunginya tanpa memperoleh jawaban. Pesan-pesan yang dikirim hanya menunjukkan tanda telah diterima, bukan dibaca. Menjelang malam, ia meminta tim keamanan mendatangi apartemen Reno, tetapi tidak seorang pun membukakan pintu. Mobilnya juga tidak berada di tempat parkir.

Pada hari kedua, Altamira mengumumkan pengunduran diri Reno dengan alasan pribadi. Pernyataan itu dirilis bersamaan dengan kabar persetujuan akuisisi Neuratek, sehingga perhatian media tertuju pada transaksi tersebut. Ketika beberapa wartawan menanyakan alasan pengunduran diri yang mendadak, pihak perusahaan menjawab bahwa Reno ingin menyediakan lebih banyak waktu bagi keluarga. Richard membaca kalimat itu di layar komputer dan merasa muak. Reno tidak memiliki anak, sementara istrinya telah meninggal tiga tahun sebelumnya.

Hari-hari berikutnya berlalu tanpa kabar. Tidak ada transaksi pada rekening Reno, tidak ada pemesanan tiket, dan tidak ada kerabat yang mengetahui keberadaannya. Orang yang berniat menghilang biasanya membawa uang, pakaian, atau setidaknya sebuah rencana. Reno seolah pergi tanpa menyiapkan apa pun.

Pada malam kelima, polisi menemukan mobilnya di area parkir sebuah hotel tua di Jakarta Utara. Kendaraan itu terkunci dan tidak menunjukkan tanda kerusakan. Telepon genggam serta dompet Reno berada di laci dasbor, sedangkan jas abu-abu yang dikenakannya saat rapat tergeletak di kursi belakang. Tidak ditemukan darah ataupun bekas perlawanan. Kamera pengawas yang mengarah ke deretan parkir tersebut telah tidak berfungsi selama hampir dua minggu.

Dua hari kemudian, tubuh Reno ditemukan di sebuah unit apartemen kosong yang berjarak kurang dari dua kilometer dari hotel. Pintu unit terkunci dari dalam, seluruh jendela tertutup, dan tidak terdapat tanda perkelahian. Hasil pemeriksaan awal memperlihatkan kadar obat penenang yang tinggi dalam darahnya. Polisi menyimpulkan bahwa Reno mengakhiri hidupnya setelah mengalami tekanan berat menjelang akuisisi.

Media menerima penjelasan itu dengan mudah. Altamira menyampaikan duka cita, para kolega mengenang Reno sebagai pekerja keras, dan kematiannya perlahan tenggelam di antara berita ekonomi lain. Dalam waktu kurang dari seminggu, tragedi tersebut telah berubah menjadi sebuah kolom kecil pada halaman bisnis. Richard tidak pernah mempercayainya.

***

Seusai pemakaman, Richard kembali ke ruang baca di rumahnya dan mengeluarkan amplop yang ditinggalkan Reno. Surat pengunduran diri masih tersimpan di dalamnya bersama selembar kertas kosong yang sejak awal mengganggu pikirannya. Di bawah cahaya lampu meja, ia melihat lekukan samar pada permukaannya, seperti jejak tekanan dari tulisan yang pernah dibuat pada lembar di atasnya.

Richard mengambil pensil lunak dan mengarsir kertas itu secara perlahan. Garis-garis tipis mulai muncul di antara lapisan grafit. Sebagian huruf tidak utuh, tetapi sebuah kalimat masih dapat dibaca dengan jelas:

Pion pertama sudah bergerak.

Di bawah kalimat itu terdapat angka 08.43 dan sebuah huruf yang menyerupai A.

Richard membacanya berkali-kali. Pukul 08.43 merupakan saat ia memutuskan melanjutkan rapat setelah Reno meninggalkan ruangan. Namun pesan tersebut telah disiapkan sebelum keputusan itu dibuat. Reno bukan sekadar menduga Richard akan melanjutkan rapat; ia tampaknya mengetahui keputusan yang akan diambil Richard sebelum Richard sendiri mengambilnya.

Telepon rumah berdering sebelum ia sempat menafsirkan huruf di bawah angka tersebut. Nomor yang muncul tidak tersimpan dalam daftar kontak.

“Pak Richard Gunawan?” Suara seorang pria terdengar dari seberang, tenang dan tidak terburu-buru.

“Siapa ini?”

“Nama saya Alvero Rendrata.”

Richard pernah membaca nama tersebut dalam sejumlah berita bisnis. Alvero adalah pendiri Rendrata Capital, perusahaan investasi yang dikenal memasuki bisnis-bisnis bermasalah sebelum orang lain menyadari keretakannya. Sebagian orang menganggapnya investor brilian. Sebagian lain menyebutnya oportunis yang terlalu pandai membaca kelemahan manusia.

“Apa yang Anda inginkan?”

“Saya ingin berbicara tentang Reno Sasmita.”

Richard menatap pesan yang baru ditemukannya. “Dari mana Anda mengenalnya?”

“Saya tidak mengenalnya secara pribadi.”

“Lalu mengapa Anda menghubungi saya?”

Ada jeda pendek sebelum Alvero menjawab, seolah ia sedang menempatkan setiap kata dengan hati-hati. “Karena Reno menelepon saya dua hari sebelum rapat. Ia menanyakan apakah seseorang masih dapat dianggap bersalah apabila seluruh keputusan dibuat oleh orang lain.”

Richard menggenggam gagang telepon lebih erat. “Mengapa baru sekarang Anda menelepon?”

“Karena tadi pagi saya menerima sebuah paket yang dikirim sebelum Reno meninggal.”

“Apa isinya?”

“Sebidang catur.”

Richard memandang tulisan pada lembar yang telah diarsirnya. “Bidak apa?”

“Pion hitam. Di bagian bawahnya terukir angka 843.”

Richard tidak segera menjawab. Untuk pertama kalinya sejak kematian Reno, ia merasa ada seseorang di luar Altamira yang sedang memandang lubang yang sama dalam cerita resmi mereka.

***

Di apartemennya, Alvero berdiri di depan meja kerja dengan telepon menempel di telinga. Pion hitam yang baru diterimanya berdiri sendirian di antara tumpukan laporan dan beberapa buku yang belum dikembalikan ke rak. Paket itu tidak mencantumkan nama pengirim, tetapi cap pos menunjukkan benda tersebut telah dikirim sehari sebelum rapat Altamira.

Alvero tidak mengenal Reno. Ia tidak memiliki hubungan dengan Altamira dan tidak pernah terlibat dalam akuisisi Neuratek. Namun seseorang yang kini telah meninggal tampaknya sudah memperkirakan bahwa pada akhirnya mereka akan dipertemukan oleh satu bidak dan satu waktu.

“Apa yang Anda pikir sedang terjadi?” tanya Richard dari seberang.

Alvero mengambil pion tersebut, memutarnya di antara ibu jari dan telunjuk, kemudian memperhatikan angka kecil yang terukir pada bagian bawahnya.

“Saya belum tahu,” jawabnya. “Tetapi pion hitam tidak pernah bergerak lebih dahulu. Ia selalu menjawab langkah lawan.” Ia meletakkan kembali bidak itu di atas meja. Bayangannya memanjang di bawah cahaya lampu, tipis dan gelap seperti seseorang yang berdiri sendirian di tengah papan. “Artinya, Pak Richard, Reno bukan orang yang memulai permainan ini. Ia hanya orang pertama yang menyadari bahwa permainan itu telah dimulai.”

***

Pukul 08.20 pada Senin pagi, ruang rapat utama Altamira Group kembali dibuka untuk pertama kalinya sejak kematian Reno Sasmita diumumkan. Tirai otomatis telah dinaikkan, cahaya matahari memantul pada dinding kaca, dan meja oval sepanjang sebelas meter itu dibersihkan hingga tidak meninggalkan bekas sidik jari. Dari luar, ruangan tersebut tampak sama seperti sebelumnya. Namun bagi Richard Gunawan, setiap benda di dalamnya kini menyimpan kemungkinan: layar yang gelap, kotak sambungan listrik di bawah meja, kamera koridor di balik pintu, hingga kursi kosong yang dahulu ditempati Reno.

Richard datang bersama Alvero Rendrata dan Nadira Prameswari, seorang analis risiko yang pernah bekerja langsung di bawah Reno selama tiga tahun. Nadira membawa sebuah tablet serta map tipis berisi salinan dokumen rapat, sedangkan Alvero tidak membawa apa pun selain pion hitam yang tersimpan di saku jasnya. Lantai direksi sengaja dikosongkan selama satu jam dengan alasan pemeriksaan sistem keamanan. Hanya Livia Anjani, sekretaris perusahaan, dan kepala keamanan gedung yang mengetahui tujuan sebenarnya dari kunjungan tersebut.

Alvero berhenti di ambang pintu tanpa segera masuk. Pandangannya bergerak dari batas karpet menuju panel akses elektronik, kemudian menyapu seluruh meja. Ia tidak tampak sedang mencari benda tertentu. Justru karena itu, Richard merasa pria tersebut melihat ruangan dengan cara yang berbeda, seperti seseorang yang belum diberi tahu bagian mana yang seharusnya dianggap penting.

“Berapa orang yang bisa membuka pintu ini?” tanya Alvero.

Kepala keamanan memeriksa daftar pada telepon genggamnya sebelum menjawab. “Tujuh belas kartu memiliki akses langsung. Direksi, sekretaris perusahaan, beberapa staf administrasi, petugas kebersihan tertentu, dan tim keamanan.”

“Rekaman aksesnya masih ada?”

“Masih.”

“Rekaman kameranya?”

Pria itu mengalihkan pandangan kepada Richard sebelum menjawab. “Ada bagian yang hilang.”

Alvero tidak menunjukkan keterkejutan. “Berapa lama?”

“Tiga belas menit.”

“Waktunya?”

“08.17 sampai 08.30.”

Richard menatapnya. Ia baru mengetahui detail itu pagi tersebut. Kamera koridor merekam orang-orang yang datang sebelum pukul 08.17 dan kembali berfungsi tepat ketika rapat dimulai. Tidak ada penjelasan mengapa bagian di antaranya hilang. Sistem mencatat gangguan perangkat lunak, tetapi kamera lain pada lantai yang sama tetap bekerja normal.

Alvero akhirnya masuk. “Jadi seseorang dapat memasuki ruang ini sebelum rapat tanpa meninggalkan gambar.”

“Namun tetap tercatat di akses kartu,” kata kepala keamanan.

“Kecuali pintunya sudah terbuka.”

Livia, yang berdiri di sisi meja, menurunkan pandangan. Alvero menangkap perubahan kecil itu dan memintanya menjelaskan kebiasaan persiapan ruang rapat. Perempuan tersebut mengatakan pintu biasanya dibuka sejak pukul 08.00 agar petugas dapat menyiapkan minuman, alat presentasi, dan dokumen. Selama waktu itu, siapa pun yang telah berada di lantai direksi dapat keluar-masuk tanpa menempelkan kartu.

“Siapa yang datang paling awal hari itu?” tanya Nadira.

“Pak Daniel,” jawab Livia. “Sekitar pukul 07.45. Katanya ingin memeriksa presentasi.”

“Lalu?”

“Bu Helena datang beberapa menit kemudian. Pak Richard sekitar pukul 08.10. Pak Reno terakhir.”

Richard menoleh. “Reno terakhir?”

Livia mengangguk. “Ia tiba sekitar pukul 08.24.”

Alvero memandang kursi Reno. “Enam menit sebelum rapat.”

“Ya.”

“Apakah dia langsung duduk?”

Livia tampak berusaha mengingat. “Tidak. Ia berdiri di dekat pintu sebentar, lalu melihat ke arah meja. Setelah itu baru duduk.”

“Seperti sedang mencari seseorang?”

“Entahlah.”

“Seperti sedang memeriksa sesuatu?”

Livia tidak menjawab. Keraguan pada wajahnya justru terasa lebih jujur daripada kata-kata yang mungkin dipilihnya.

***

Alvero berjalan mengitari meja dan berhenti di kursi Reno. Posisi kursi itu sedikit lebih jauh dari meja dibandingkan kursi di sampingnya. Selisihnya hanya beberapa sentimeter, cukup kecil untuk dianggap sebagai akibat petugas kebersihan. Namun ketika Nadira berjongkok dan memperhatikan karpet, ia menemukan dua jejak roda yang berbeda. Bekas pertama menunjukkan posisi normal kursi Reno, sangat dekat dengan meja. Bekas kedua mengarah sedikit ke kiri, menuju lemari rendah yang menyimpan alat presentasi dan dokumen sementara.

“Kursinya pernah diputar,” kata Nadira.

Richard mencoba mengingat pagi rapat. “Mungkin ketika Reno berdiri.”

“Kalau hanya berdiri, kursinya akan terdorong ke belakang,” jawab Alvero. “Bukan menyamping.”

Ia memutar kursi mengikuti jejak pada karpet. Dari posisi itu, seseorang yang duduk dapat membuka lemari rendah tanpa terlihat jelas dari pintu utama. Alvero mengenakan sarung tangan, kemudian membuka lemari tersebut. Di dalamnya terdapat kabel, baterai, map kosong, dan alat kendali layar. Tidak ada benda yang langsung tampak mencurigakan, tetapi pada bagian dalam pintu terdapat bekas perekat berbentuk persegi.

Nadira menemukan serpihan tipis berlapis bahan metalik di sudut rak. “Mungkin label elektronik.”

“Tag inventaris?” tanya Richard.

“Mungkin. Atau pelapis perangkat kecil.”

Alvero mengamati bekas perekat itu cukup lama. “Seseorang menempelkan sesuatu di sini, lalu mengambilnya setelah rapat.”

Richard mengerutkan dahi. “Bagaimana Anda tahu diambil setelah rapat?”

“Saya tidak tahu. Namun kursi ini diputar ke arah lemari setelah Reno berdiri. Artinya seseorang duduk di tempat Reno dan membuka lemari ketika ruangan seharusnya sudah kosong.”

Livia meremas tepi buku catatannya.

“Anda kembali ke ruangan setelah rapat?” tanya Alvero.

Perempuan itu mengangguk perlahan. “Untuk mengambil laptop.”

“Siapa yang masih berada di sini?”

“Tidak ada.”

“Pak Richard?”

“Sudah keluar.”

“Daniel?”

“Tidak.”

“Helena?”

Livia terdiam satu detik terlalu lama. “Saya tidak melihatnya.”

“Bukan pertanyaan yang sama.”

Wajah Livia menegang. Richard memintanya menjawab dengan jelas. Perempuan itu akhirnya mengakui bahwa ketika kembali, ia melihat pintu ruang Helena menutup di ujung koridor. Ia tidak tahu apakah Helena baru keluar dari ruang rapat atau hanya melintas dari arah lain.

“Kenapa tidak pernah disebutkan?” tanya Richard.

“Karena saya tidak menganggapnya penting. Bu Helena sering kembali mengambil dokumen.”

“Dokumen apa yang dibawanya hari itu?”

“Saya tidak tahu.”

Alvero menutup lemari. “Semua orang mengatakan tidak tahu. Menariknya, mereka selalu tahu bagian mana yang tidak ingin diingat.”

***

Daniel datang beberapa menit kemudian setelah Richard memintanya ke ruang rapat. Ia mengenakan setelan abu-abu dan menunjukkan ketidaksukaan sejak melihat Alvero berada di sana. Baginya, kematian Reno telah diperiksa polisi dan dinyatakan bunuh diri. Penyelidikan tambahan hanya akan menunda integrasi Neuratek dan memperbesar keraguan investor.

“Saya tidak melihat gunanya memeriksa posisi kursi,” katanya. “Reno tidak meninggal di ruangan ini.”

“Namun ia mengambil keputusan terakhirnya di sini,” jawab Alvero.

“Keputusan terakhir?”

“Mengundurkan diri.”

“Bukan itu yang membunuhnya.”

“Belum tentu.”

Daniel menatapnya. “Anda sedang menuduh perusahaan?”

“Saya sedang mencoba memahami mengapa seseorang yang takut mati justru meninggalkan tempat yang dipenuhi saksi.”

Daniel tidak segera menjawab.

Alvero menanyakan alasan Daniel datang lebih awal pada pagi rapat. Daniel menjelaskan bahwa ia hendak memeriksa presentasi dan memastikan seluruh proyeksi telah diperbarui. Ketika ditanya apakah ia membuka lemari, ia menggeleng. Ketika ditanya apakah ia menyentuh kursi Reno, ia kembali menyangkal.

“Apakah Anda berbicara dengan Reno sebelum rapat?” tanya Nadira.

“Tidak.”

“Yakin?”

“Saya menyapanya. Itu saja.”

“Apa jawabannya?”

Daniel menarik napas pendek. “Dia tidak menjawab.”

“Jadi Anda memang berbicara dengannya.”

Daniel menatap Nadira tajam. “Kalau Anda ingin bermain dengan definisi, silakan. Saya mengatakan selamat pagi. Dia diam.”

Alvero memperhatikan wajahnya. “Apakah Reno melihat sesuatu pada Anda?”

“Maksud Anda?”

“Ketika Anda menyapa, apakah dia memandang Anda?”

Daniel mengingatnya sejenak. “Ya.”

“Ke mana?”

“Wajah saya.”

Alvero menggeleng pelan. “Orang jarang mengingat arah pandangan dengan kepastian seperti itu kecuali ia telah memikirkan pertanyaan tersebut sebelumnya.”

Daniel tertawa hambar. “Apa pun yang saya jawab akan Anda jadikan mencurigakan.”

“Tidak. Hanya jawaban yang terdengar telah disiapkan.”

Ketegangan di antara mereka terputus ketika Helena memasuki ruang rapat. Ia tidak meminta penjelasan mengenai alasan pemanggilan, seolah sudah menduga penyelidikan tersebut akan sampai kepadanya. Richard langsung menanyakan apakah ia kembali ke ruangan setelah rapat.

Helena tidak menyangkalnya. “Saya mengambil salinan lampiran hukum.”

“Kenapa tidak tercatat?” tanya Richard.

“Karena saya tidak membuka pintu dengan kartu. Ruangan belum dikunci.”

“Apakah Anda duduk di kursi Reno?”

“Tidak.”

“Membuka lemari?”

“Tidak.”

“Melihat orang lain di sini?”

Helena memandang Daniel sebentar sebelum menjawab. “Tidak.”

Daniel langsung menoleh kepadanya. “Kenapa melihat saya?”

“Karena Anda berdiri di sana.”

“Bukan itu alasan Anda.”

Helena tetap tenang. “Anda ingin saya melihat ke mana?”

Alvero membiarkan ketegangan mereda sejenak. Ada bentuk kebohongan yang tidak memerlukan kalimat palsu: cukup dengan menjawab pertanyaan yang paling aman dan membiarkan bagian lain tetap tidak disebutkan.

“Apa yang Anda ambil dari ruangan?” tanyanya.

“Lampiran hukum.”

“Boleh saya melihatnya?”

“Sudah diserahkan kepada polisi.”

Richard mengerutkan dahi. “Saya tidak pernah diberi tahu.”

“Karena tidak ada yang mencurigakan.”

“Lalu kenapa diserahkan?”

Helena menutup map yang dibawanya. “Karena Reno menandai satu halaman.”

“Dengan apa?”

“Garis merah.”

“Apa isinya?”

Untuk pertama kalinya, Helena tampak ragu. “Klausul aktivasi akuisisi.”

“Pukul 08.43?” tanya Alvero.

Wajah Helena berubah sangat tipis. Perubahan itu cukup untuk menjawab sebelum ia membuka mulut.

***

Menjelang siang, mereka memeriksa rekaman akses dan daftar komunikasi pada pagi rapat. Tidak ada pelanggaran yang jelas. Daniel memang datang paling awal, Helena masuk setelahnya, dan Reno tiba terakhir. Semua sesuai dengan kesaksian Livia. Namun satu log menunjukkan akun Livia digunakan untuk membuka arsip rekaman ruang rapat pada malam setelah Reno mengundurkan diri.

Livia langsung menyangkal pernah mengaksesnya. “Password saya mungkin diketahui staf lain,” katanya.

“Siapa?” tanya Richard.

“Saya tidak tahu.”

“Sekali lagi,” ujar Alvero, “kita kembali kepada kalimat yang sama.”

Livia menahan napas. “Saya sungguh tidak tahu.”

Nadira memeriksa waktu akses. Rekaman dibuka pukul 23.43, lalu satu bagian dihapus. Bukan seluruh video, hanya delapan menit sebelum Reno memasuki ruang rapat.

“Kenapa hanya delapan menit?” tanya Richard.

“Karena mungkin bagian lain memang ingin dibiarkan,” jawab Alvero.

Daniel berdiri di dekat jendela, Helena tetap duduk dengan kedua tangan di atas meja, sementara Livia tampak pucat. Richard mulai memandang setiap orang seolah baru menyadari bahwa mereka semua membawa versi berbeda mengenai pagi yang sama.

“Siapa yang berbohong?” tanyanya.

Alvero mengeluarkan pion hitam dari sakunya dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan kursi Reno. “Semua orang.”

Daniel tertawa sinis. “Kesimpulan yang sangat nyaman.”

“Saya tidak mengatakan mereka menyampaikan kebohongan yang sama. Pak Daniel berbohong mengenai percakapannya dengan Reno. Bu Helena berbohong dengan tidak menjelaskan alasan sebenarnya mengambil lampiran hukum. Bu Livia mungkin jujur bahwa ia tidak menghapus rekaman, tetapi berbohong ketika mengatakan tidak mengetahui siapa yang dapat memakai akunnya.”

Richard menatapnya. “Dan saya?”

Alvero memandangnya cukup lama. “Anda berbohong ketika mengatakan ingin mengetahui kebenaran.”

Ruangan seketika terasa hening.

Richard menegang. “Apa maksud Anda?”

“Anda ingin tahu siapa yang membunuh Reno tanpa mengetahui apa yang Reno temukan. Sebab kalau isi temuannya membahayakan Altamira, sebagian dari diri Anda lebih memilih kebenaran itu tetap terkubur.”

Richard hendak membantah, tetapi tidak ada kata yang segera keluar. Ketika ia memandang orang-orang di sekeliling meja, ia melihat hal yang selama ini berusaha dihindarinya. Tidak seorang pun tampak sepenuhnya bersalah, tetapi tidak seorang pun terlihat sepenuhnya bersih.

Alvero mengambil kembali pion hitam tersebut. “Bidak catur tidak bisa berbohong. Ia hanya bergerak sesuai aturan. Manusialah yang melihat papan yang sama, lalu menceritakan permainan yang berbeda.”

Telepon Nadira bergetar sebelum Richard sempat menjawab. Sebuah pesan dari tim keamanan muncul bersama gambar hasil pemeriksaan kamera cadangan yang selama ini dianggap tidak mengarah ke ruang rapat. Pada permukaan kaca gedung di seberang koridor, terlihat pantulan samar seseorang memasuki ruangan pada pukul 08.22—dua menit sebelum Reno datang.

Wajah orang itu tidak terlihat. Namun di tangannya terdapat sebuah benda kecil berbentuk persegi, cukup tipis untuk disembunyikan di balik telapak tangan.

Alvero memperbesar gambar tersebut. Bagian wajah tetap pecah, tetapi ada satu detail yang masih dapat dikenali: orang itu mengenakan kartu identitas Altamira. Masalahnya, kartu itu terpasang terbalik.

“Dia tidak ingin namanya terbaca,” kata Nadira.

Alvero menatap pantulan tersebut beberapa saat sebelum menggeleng. “Bukan.”

“Lalu?”

“Dia ingin terlihat seperti seseorang yang takut namanya terbaca.” Richard memandangnya dengan bingung. Alvero mematikan layar tablet dan memasukkan pion hitam kembali ke sakunya. “Seseorang sedang memberi kita tersangka. Dan orang yang sengaja memberi tersangka biasanya sedang melindungi pemain lain.”

***

Pantulan dari kamera cadangan tidak cukup tajam untuk memperlihatkan wajah orang yang memasuki ruang rapat dua menit sebelum Reno tiba. Namun ketika Nadira memperbesar bagian kartu identitasnya, garis abu-abu pada sisi belakang masih terlihat. Altamira menggunakan warna berbeda untuk setiap kelompok akses: biru bagi pegawai tetap, merah bagi tamu, dan abu-abu bagi teknisi perusahaan rekanan. Orang dalam pantulan itu bukan anggota direksi, bukan staf administrasi, dan bukan tamu resmi.

Kepala keamanan membuka daftar teknisi yang memperoleh izin masuk ke Menara Altamira pada pagi rapat. Tiga orang tercatat bekerja di gedung sebelum pukul 08.00. Dua di antaranya bertugas di lantai bawah dan telah meninggalkan lokasi sebelum rapat dimulai. Nama ketiga muncul dalam laporan pemeriksaan layar presentasi, meskipun lantai yang tercantum bukan lantai direksi.

“Bagas Wiratama,” kata kepala keamanan. “Teknisi Arunika Secure Systems.”

Daniel langsung menoleh. “Arunika mengelola kamera dan akses kartu kita.”

“Sebagian sistemnya,” jawab Richard. “Mereka bukan satu-satunya vendor.”

“Namun orang yang masuk ke ruang rapat memakai kartu teknisi mereka.”

Alvero tetap memandang gambar pada tablet Nadira. Kartu identitas itu terpasang terbalik sehingga namanya tidak mungkin terbaca. Semula hal itu tampak seperti usaha menyembunyikan identitas, tetapi semakin lama ia mengamatinya, semakin terasa bahwa detail tersebut justru sengaja diperlihatkan.

“Hubungi perusahaannya,” kata Richard.

Panggilan dilakukan melalui pengeras suara. Seorang manajer operasional Arunika menjawab setelah beberapa kali dialihkan. Bagas tidak masuk kerja sejak hari kematian Reno diumumkan. Ia hanya mengirim surat pengunduran diri singkat melalui email, lalu menghilang tanpa mengembalikan kartu akses, telepon perusahaan, ataupun perangkat kerja. Alamat rumahnya telah kosong selama hampir dua bulan, sementara nomor pribadinya tidak aktif.

Daniel berjalan menjauh dari meja dengan ekspresi seseorang yang merasa jawabannya akhirnya ditemukan. “Jadi jelas. Bagas masuk sebelum rapat, memasang sesuatu, lalu kabur setelah Reno meninggal.”

“Jelas untuk apa?” tanya Alvero.

Daniel berhenti. “Setidaknya kita tahu siapa yang berada di ruangan itu.”

“Kita tahu seseorang memakai kartu teknisi Arunika. Kita belum tahu apakah orang itu Bagas.”

“Namanya tercatat masuk ke gedung.”

“Dengan kartu yang mungkin juga dapat digunakan orang lain.”

Daniel menahan tatapannya. “Anda selalu menolak kesimpulan yang paling masuk akal.”

“Saya menolak kesimpulan yang datang terlalu cepat.”

Helena yang sejak tadi diam menutup map di hadapannya. Nama Arunika tampaknya membawa arti lain baginya. Richard menangkap perubahan kecil itu dan meminta penjelasan. Helena mengakui bahwa perusahaan tersebut pernah bekerja sebagai konsultan keamanan untuk salah satu pihak yang terlibat dalam struktur Neuratek.

“Pihak mana?” tanya Richard.

“Lentera Analitika.”

Daniel mengembuskan napas pendek. “Lentera bukan pemegang saham.”

“Bukan secara langsung,” jawab Helena. “Mereka mewakili dana investasi yang memiliki kepentingan melalui perusahaan perantara.”

Richard menatapnya tajam. “Kenapa hubungan ini tidak muncul dalam ringkasan uji kelayakan?”

“Karena nilainya berada di bawah batas material.”

“Bagi hukum mungkin.” Helena tidak menanggapi.

Alvero memandang mereka bergantian. Setiap orang segera menemukan versi yang mendukung kecurigaannya sendiri. Daniel melihat Bagas sebagai pelaku karena pria itu menghilang. Helena melihat hubungan vendor dengan investor karena ia mengenali struktur hukumnya. Richard melihatnya sebagai bukti bahwa ada sesuatu dalam proses akuisisi yang tidak pernah sampai ke mejanya. Semuanya masuk akal, tetapi tak satu pun menjelaskan mengapa jejak-jejak itu ditinggalkan begitu rapi.

“Kalau seseorang ingin kita mencari Bagas,” kata Alvero, “kita harus berhenti bertanya di mana dia berada dan mulai bertanya ke mana pencarian itu akan membawa kita.”

***

Komisaris Arman mengambil alih penyelidikan terhadap Bagas pada siang yang sama. Polisi memeriksa transaksi rekening, sambungan telepon, tempat tinggal lama, serta rekaman kendaraan di sekitar Menara Altamira. Tidak ada aktivitas perbankan setelah hari rapat. Telepon pribadinya dimatikan pukul 09.12 pagi itu dan tidak pernah kembali aktif. Keluarganya di Bekasi mengaku tidak bertemu dengannya selama lebih dari setahun.

Satu-satunya jejak datang dari kamera lalu lintas di kawasan Jakarta Utara. Sepeda motor yang terdaftar atas nama Bagas terekam melintas tidak jauh dari hotel tempat mobil Reno ditemukan. Waktunya hampir tengah malam pada hari pengunduran diri. Pengendaranya memakai helm tertutup dan jaket teknisi berwarna gelap, sehingga tidak ada cara memastikan siapa yang berada di balik kemudi.

Arman memutar rangkaian rekaman itu di ruang kerja Richard. Motor tersebut terlihat melewati kamera pertama, kemudian menghilang dari jalur utama. Dua belas menit kemudian, kendaraan yang sama muncul dari jalan berbeda dan bergerak ke arah area pergudangan sebelum kembali tertangkap kamera di dekat hotel.

“Dia menghindari kamera,” kata Nadira.

“Kalau tujuan akhirnya hotel, jalurnya terlalu panjang,” jawab Richard.

Alvero meminta peta kawasan diperbesar. Ia menandai posisi tiga kamera, gudang, serta lokasi mobil Reno ditemukan. Jalur motor itu tidak membentuk garis lurus. Dari satu titik ia berbelok tajam, menghilang, lalu muncul dari sisi yang tidak seharusnya dapat dicapai tanpa melewati dua kamera lain.

“Dia berputar-putar untuk memastikan tidak diikuti,” kata Daniel.

Alvero menggeleng. “Orang yang menghindari pengejaran akan memilih jalur paling aman. Ini bukan jalur aman. Ini jalur yang sengaja membentuk lompatan.”

Richard menatap pola di layar. “Lompatan?”

“Dalam catur, kuda tidak bergerak lurus. Ia berpindah ke posisi yang tampak tidak berhubungan dengan tempat asalnya dan melewati bidak-bidak yang menghalangi.”

Arman menunjuk area tempat motor menghilang paling lama. “Gudang ini?”

Richard membaca alamatnya. Ekspresinya berubah sebelum ia sempat menyembunyikannya.

“Kau mengenalnya?” tanya Alvero.

“Altamira pernah menyewa bangunan itu untuk menyimpan perangkat elektronik lama. Kontraknya berakhir lima tahun lalu.”

“Siapa penanggung jawab terakhirnya?”

Richard memeriksa dokumen aset yang dikirim stafnya. Nama yang tercantum di baris terakhir membuat ruangan kembali diam: Reno Sasmita.

***

Mereka tiba di kawasan pergudangan menjelang sore. Langit telah berubah kelabu, sementara angin dari arah pelabuhan membawa bau asin bercampur minyak dan logam berkarat. Gudang itu berdiri di ujung jalan sempit, dikelilingi pagar kawat serta rerumputan yang tumbuh liar. Tidak ada kendaraan di halaman. Rantai melilit gagang pintu depan, tetapi gemboknya hanya digantungkan tanpa dikunci.

Arman meminta Richard dan Nadira menunggu di luar sampai tempat itu dinyatakan aman. Alvero tetap berdiri di dekat pintu ketika dua penyidik masuk lebih dahulu. Tidak terdengar teriakan ataupun gerakan dari dalam. Beberapa menit kemudian, Arman memberi isyarat agar mereka mengikuti.

Udara di dalam gudang berbau debu dan kelembapan. Rak-rak logam berjajar di sepanjang dinding, sebagian besar kosong. Lapisan debu pada lantai terganggu oleh jejak sepatu yang masih jelas, mengarah menuju sebuah ruangan kecil di bagian belakang. Jejak itu hanya menunjukkan satu arah. Tidak ada bekas langkah yang kembali menuju pintu depan.

Richard memandangnya. “Berarti dia masih di dalam.”

“Belum tentu,” kata Alvero. “Gedung sebesar ini pasti memiliki jalan keluar lain.”

Pintu ruangan belakang tertutup, tetapi tidak terkunci. Arman membukanya perlahan dengan senjata terangkat. Tidak ada siapa pun di dalam. Hanya sebuah meja lipat, kursi plastik, jaket teknisi yang tergantung pada paku, serta botol air yang masih menyisakan embun di permukaannya.

Di tengah meja tergeletak sebuah kartu identitas Altamira yang sengaja diletakkan dalam posisi terbalik.

Nadira berhenti di ambang pintu. “Sama seperti di rekaman.”

Alvero tidak menyentuhnya. Ia memandang susunan benda-benda di ruangan itu—jaket, botol, kartu, kursi—lalu mengamati jejak bersih berbentuk persegi di atas meja, seolah ada benda lain yang baru saja diambil sebelum mereka tiba.

“Bagas tidak bersembunyi di sini,” kata Richard.

Alvero tetap menatap kartu yang terbalik. “Tidak,” jawabnya. “Seseorang hanya ingin kita percaya bahwa ini tempat persembunyiannya.”

Dari balik jaket yang tergantung di dinding terdengar bunyi kecil, seperti sesuatu yang baru saja jatuh ke lantai. Semua orang menoleh bersamaan. Arman mengangkat jaket itu dengan hati-hati. Sebuah alat perekam berukuran kecil tergeletak di bawahnya, lampu indikatornya masih berkedip. Alvero memandang perangkat tersebut tanpa mendekat. Mereka datang untuk mencari orang hilang, namun seseorang telah menunggu mereka dengan sebuah rekaman.

***

Tidak seorang pun bergerak mendekati alat perekam yang tergeletak di lantai. Lampu indikatornya masih berkedip pelan, pertanda baterainya belum lama dinyalakan. Arman mengenakan sarung tangan sebelum mengangkatnya dengan hati-hati, lalu menyerahkannya kepada petugas forensik yang ikut bersama mereka.

“Kalau ini sengaja ditinggalkan,” gumam Richard, “berarti seseorang tahu kita akan datang.”

“Tidak,” jawab Alvero pelan. “Lebih tepatnya… seseorang ingin memastikan kita datang.”

Alvero berjalan perlahan mengelilingi ruangan kecil itu. Pandangannya menyapu setiap sudut, mulai dari botol air yang masih menyisakan embun, kursi plastik yang sedikit bergeser dari posisi lurus, hingga debu tipis di bawah meja yang membentuk pola tidak beraturan. Semuanya tampak seperti ruangan yang baru saja ditinggalkan beberapa menit sebelumnya. Justru karena terlalu sempurna, tempat itu terasa dibuat-buat.

“Pak Arman,” katanya tanpa menoleh, “menurut pengalaman Anda, bagaimana tempat persembunyian seseorang yang benar-benar sedang melarikan diri?”

Arman berpikir sejenak. “Berantakan. Orang yang panik tidak sempat merapikan barang.”

“Benar.” Alvero menunjuk meja lipat. “Di sini tidak ada kepanikan.”

Richard memperhatikan ruangan itu lagi. Kini ia mulai melihat apa yang dimaksud Alvero. Botol air berdiri tepat di tengah meja. Jaket teknisi tergantung rapi. Bahkan kartu identitas Altamira diletakkan persis di depan kursi, seolah sengaja diposisikan agar menjadi benda pertama yang terlihat ketika pintu dibuka.

“Seseorang sedang mengatur panggung,” gumam Nadira.

Alvero mengangguk pelan. “Dan kita baru saja menjadi penontonnya.”

***

Rekaman suara diputar setelah tim forensik memastikan tidak ada risiko merusak barang bukti. Suara desis memenuhi ruangan selama beberapa detik sebelum terdengar bunyi gesekan kursi. Rekaman itu memperdengarkan percakapan singkat dua orang pria:

“Laporan selesai. Kamera mati sesuai jadwal. Perangkat sudah terpasang.”
“Kau terlihat.”
“Lelaki itu datang lebih cepat.”
“Dia melihatmu?”
“Saya tidak yakin.”
“Kalau begitu jangan pulang.”
“Lalu?”
“Bergerak seperti kuda.”

Rekaman berhenti. Ruangan kembali sunyi.

Daniel memecah keheningan lebih dulu. “Itu Bagas.”

Arman mengangguk. “Kemungkinan besar.”

“Tangkap dia.”

Alvero justru menggeleng. “Kalau Bagas memang ingin menghilang, kenapa dia meninggalkan rekaman yang menjelaskan semuanya?”

Daniel menatapnya kesal. “Karena dia panik.”

“Orang panik membawa rekamannya,” ujar Alvero sambil menunjuk alat tersebut. “Bukan meninggalkannya di atas panggung.”

***

Pemeriksaan dilanjutkan. Forensik mulai mengangkat sidik jari dari meja, kursi, dan botol minum. Sebagian besar permukaan telah dibersihkan, tetapi debu di bawah rak logam menyimpan sesuatu yang luput dari perhatian. Nadira berjongkok. “Ada bekas.”

Semua mendekat. Di lantai tampak jejak persegi kecil, lebih bersih dibandingkan bagian lain yang dipenuhi debu.

“Ada kotak di sini.”

“Diambil belum lama,” kata Alvero.

“Kenapa?”

“Debunya belum sempat turun lagi.”

Arman mengangguk. “Berarti seseorang pergi membawa sesuatu.”

“Bukan.” Alvero memandang bekas itu cukup lama. “Seseorang datang untuk mengambil sesuatu.”

Richard mengernyit. “Apa bedanya?”

“Kalau tempat ini markas Bagas, barangnya seharusnya ikut dibawa ketika dia kabur.” Ia menunjuk bekas persegi itu. “Ini diambil belakangan.”

“Oleh siapa?”

“Itulah pertanyaan yang benar.”

***

Salah seorang petugas forensik memanggil Arman dari sudut ruangan. “Pak.”

Petugas itu mengangkat sesuatu dari saku bagian dalam jaket teknisi: sebuah benda kecil berwarna hitam. Richard langsung mengenal bentuknya. Bidak catur. Seekor kuda hitam.

Alvero menerima benda itu tanpa menyentuh permukaannya secara langsung. Bidak tersebut terasa lebih berat daripada pion yang dikirim Reno. Pada bagian bawahnya terdapat ukiran kecil berupa dua huruf: A.W.

Daniel menjadi orang pertama yang bersuara. “Adrian Wibisana.”

Richard perlahan mengangkat wajah. “CEO Neuratek.”

Nadira memandang Alvero. “Ini terlalu jelas.”

Alvero tetap diam. Ia memutar bidak itu beberapa kali di bawah cahaya lampu gudang.

“Apa maksudmu?” tanya Richard.

“Sejak awal,” ujar Alvero pelan, “kita selalu menemukan apa yang memang ingin kita temukan.”

Richard mengerutkan dahi.

“Kartu identitas.” Alvero mengangkat satu jari. “Rekaman.” Ia mengangkat jari kedua. “Lalu sekarang… inisial Adrian.”

Daniel mendengus. “Itu bukti.”

“Bisa.” Alvero mengangguk pelan. “Atau umpan.”

Alvero menaruh bidak itu di atas meja. “Permainan catur memiliki satu bidak yang mampu melompati bidak lain.”

“Kuda,” jawab Nadira.

“Benar.” Tatapan Alvero tidak lepas dari bidak hitam itu. “Dan seseorang baru saja membuat kita ikut melompat.”

“Maksudmu?”

“Kita melompati terlalu banyak kemungkinan hanya untuk mendarat tepat di depan Adrian.”

Tidak ada yang berbicara. Angin sore bertiup melalui celah dinding gudang, menggerakkan jaket teknisi yang masih tergantung diam.

Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, Alvero tidak merasa mereka sedang mendekati pembunuh Reno. Sebaliknya, semakin banyak petunjuk yang mereka temukan, semakin kuat perasaannya bahwa seseorang sedang menyusun jalur penyelidikan mereka, langkah demi langkah, persis seperti permainan catur yang telah dirancang jauh sebelum bidak pertama digerakkan.

[ BERSAMBUNG KE SERI 2 ]


Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca