Di Antara Menunggu dan Melepaskan

“Jika suatu saat kita bertemu lagi, waktu berbeda, suasana berbeda, adakah yang tidak berubah? Sampai saat ini, aku masih mencintaimu dengan cara yang sama. Bahkan masih tersimpan jejak dalam ingatanku akan wangi tubuhmu, dan aku takut ada yang berubah. Kau telah memutuskan untuk tidak mencintaiku sekuat dulu.”

Ingatan rupanya bekerja seperti petugas arsip yang kejam. Ia menyimpan dengan rapi segala sesuatu yang ingin kulupakan, lalu membukanya kembali pada saat aku sedang berusaha terlihat baik-baik saja. Aku takut jika nanti kita bertemu, terlalu banyak hal telah berubah. Namun, dari semua kemungkinan itu, yang paling kutakuti adalah kenyataan bahwa mungkin hanya aku yang masih datang membawa perasaan yang sama, sementara kau telah memutuskan untuk tidak lagi mencintaiku sekuat dahulu.

Belakangan ini hujan hampir tidak pernah turun. Mungkin musim memang sedang berganti. Udara terasa gerah, panas, dan terik matahari seperti sengaja turun lebih dekat untuk membakar apa pun yang masih sanggup bertahan. Namun, tidak demikian dengan hatiku. Di sana, tidak pernah benar-benar ada musim baru. Jauh di dalam relung pikiran, namamu justru bergaung lebih nyaring daripada biasanya—seperti gema di sebuah rumah kosong yang tidak lagi memiliki siapa pun untuk menjawabnya.

Aku merindukanmu.

Aku merindukan suaramu, tingkah manjamu, dan wajah memelas yang selalu kau gunakan ketika meminta sesuatu dariku. Kau mengetahui titik lemahku dengan sangat baik. Cukup dengan sedikit rayuan, tatapan yang dibuat menyedihkan, atau suara yang sengaja dilembutkan, pertahananku biasanya runtuh begitu saja. Bayangan-bayangan itu terus mendatangi hari-hariku tanpa izin. Lucu juga, seseorang dapat pergi dari kehidupan kita, tetapi kebiasaannya tetap tinggal dan bertingkah seolah masih menjadi penghuni tetap.

Aku tahu bahwa aku dapat menghubungimu kembali dengan banyak cara. Aku bisa mencarimu, menggunakan nomor baru, atau sekadar mengirimkan satu pesan pendek untuk memecah kesunyian yang selama ini berdiri di antara kita. Namun, entah mengapa, sampai hari ini aku belum tergerak melakukannya. Bukan karena gengsiku terlalu tinggi atau egoku terlalu besar. Aku hanya tidak tahu bagaimana harus memulainya. Diterima atau ditolak bukan persoalan terbesar bagiku. Yang kutakuti justru kemungkinan bahwa pesan itu akan dibaca oleh seseorang yang kini telah memandangku sebagai orang asing.

Selama tiga bulan, aku terbiasa hidup bersama dering teleponmu dan pesan WhatsApp yang muncul hampir setiap hari. Aku terbiasa mendengar cerita-cerita biasa yang mungkin bagi orang lain tidak penting, tetapi perlahan menjadi bagian dari hidupku. Kita membicarakan banyak hal—dari obrolan sederhana, candaan yang tidak masuk akal, keluhan kecil, hingga perdebatan yang membuat kita sama-sama kehabisan kesabaran. Sekarang aku justru merindukan semuanya, bahkan pertengkaran yang dahulu terasa melelahkan. Rupanya kehilangan memiliki selera humor yang buruk: ia membuat hal-hal yang pernah kita keluhkan berubah menjadi sesuatu yang paling ingin kita dapatkan kembali.

Namun, aku tetap tidak tahu bagaimana harus menghubungimu dari nomor yang baru. Apa yang harus kuucapkan setelah seluruh kerusakan yang terjadi di antara kita?

“Hai, apa kabar?”

Terlalu klise. Seolah kita hanya dua kenalan lama yang kebetulan pernah saling mencintai, lalu bertemu kembali setelah lupa bahwa salah satunya pernah meninggalkan luka.

“Hai, maafkan aku. Kembalilah. Aku merindukanmu.”

Terlalu terbuka. Terlalu telanjang. Nyaris terdengar seperti seseorang yang sedang mengemis di depan pintu yang pernah ditutup tepat di hadapan wajahnya.

Namun, bukankah cinta memang tidak pernah benar-benar mengenal gengsi? Atau mungkin itu hanya kalimat penghiburan bagi orang-orang yang telah kehabisan cara untuk mempertahankan seseorang? Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu langkah mana yang harus kutempuh agar kau kembali tanpa membuatku terlihat seperti sedang menyerahkan seluruh harga diriku sebagai uang muka.

Sesekali terlintas pertanyaan yang terus berputar di kepalaku: apakah masih tersisa sedikit cinta untukku di dalam hatimu? Selama perpisahan ini, pernahkah kau merindukanku meski hanya sebentar? Pernahkah jarimu hampir mengetik sebuah pesan, lalu menghapusnya kembali karena tidak tahu bagaimana memulai? Ataukah hanya aku yang terlalu naif, terus berdebat dengan diri sendiri tentang kemungkinan-kemungkinan yang mungkin bahkan tidak pernah terlintas di pikiranmu?

Mungkin bagimu, perpisahan ini adalah jalan keluar. Sementara bagiku, ia menjadi lorong panjang yang belum juga memperlihatkan ujungnya. Kau mungkin telah melanjutkan hidup, sedangkan aku masih berdiri di tempat terakhir kita saling menggenggam, memandangi telapak tanganku sendiri dan bertanya mengapa kehangatanmu masih terasa meskipun tanganmu sudah lama tidak berada di sana.

Jika suatu hari nanti, entah bagaimana caranya, kau menemukan tulisan ini, ketahuilah bahwa aku cukup menderita tanpamu. Aku masih mencintaimu dengan segenap hatiku, sama seperti sebelum semuanya runtuh. Aku merasa kehilangan lebih dalam daripada yang mampu kujelaskan kepada siapa pun. Pada saat yang sama, aku harus tetap menjalani hari, berbicara dengan orang lain, menyelesaikan pekerjaan, dan berpura-pura bahwa kepergianmu tidak mengubah apa-apa.

Aku masih hidup, tentu saja. Hari-hari tetap berjalan dan dunia tidak pernah peduli siapa yang tertinggal. Namun, hidup dan baik-baik saja adalah dua hal yang berbeda. Sejak kau pergi, aku baru berhasil melakukan yang pertama.

Aku tidak ingin berbohong dengan mengatakan bahwa aku telah sepenuhnya melepaskanmu. Ada bagian kecil dalam diriku yang masih menunggu, meskipun aku tidak lagi berdiri di depan pintu sambil memandangi jalan. Penantian itu kusembunyikan di sebuah ruang yang jarang kubuka—tempat namamu masih tersimpan bersama harapan-harapan yang belum sempat kita selesaikan.

Mungkin sebenarnya aku tidak sedang menunggumu kembali. Aku hanya belum mampu menerima bahwa seseorang yang pernah begitu dekat kini harus kuingat dari kejauhan. Ada perbedaan antara ingin mengulang hubungan dan merindukan seseorang yang pernah hidup di dalamnya. Aku merindukanmu, tetapi aku tidak merindukan rasa takut, kecurigaan, atau perasaan harus terus membuktikan bahwa perjuanganku layak dihargai.

Jika kau kembali suatu hari nanti, aku tidak tahu apakah aku akan langsung memelukmu atau justru berdiri diam sambil memastikan bahwa sosok di hadapanku masih orang yang sama. Barangkali tubuhku akan lebih dahulu mengenalimu sebelum pikiranku selesai mempertimbangkan segala kemungkinan. Mungkin wangi tubuhmu akan membuka kembali pintu-pintu ingatan yang selama ini berusaha kukunci. Namun, di balik kerinduan itu, akan tetap ada ketakutan bahwa kepulanganmu hanyalah jeda sebelum kepergian berikutnya.

Aku masih mencintaimu, tetapi cinta itu kini berjalan bersama kewaspadaan. Ia tidak lagi datang dengan mata tertutup dan kedua tangan terbuka. Ia membawa bekas luka, pertanyaan, serta kebutuhan akan kepastian yang dahulu mungkin tidak pernah kupikirkan. Kau telah mengajarkanku bahwa seseorang dapat mengucapkan cinta sambil menyimpan rencana untuk pergi. Sebuah pelajaran yang sangat berguna, tentu saja—hanya saja biaya pendidikannya dibayar dengan bagian diriku yang tidak sedikit.

Karena itu, jika kau kembali, jangan datang hanya karena kesepian. Jangan mengetuk pintuku karena dunia di luar tidak memperlakukanmu sehangat aku dahulu. Jangan mencariku hanya karena kau merindukan seseorang yang selalu menyediakan tempat untukmu beristirahat. Aku tidak ingin kembali menjadi rumah sementara yang didatangi saat hujan, lalu ditinggalkan ketika cuaca mulai cerah.

Datanglah jika kau benar-benar memilihku.

Datanglah karena kau telah memahami bahwa mencintai seseorang bukan hanya tentang menikmati perhatian yang diberikannya, tetapi juga menghargai harga yang harus ia bayar untuk tetap tinggal. Datanglah dengan keberanian untuk mengakui kesalahan, bukan dengan penjelasan baru yang kembali menjadikan keadaan sebagai tersangka utama. Keadaan memang sering disalahkan karena ia tidak dapat membela diri. Praktis sekali.

Aku tidak membutuhkan permintaan maaf yang indah. Kata-kata yang terlalu sempurna justru membuatku curiga karena aku pernah belajar bahwa kalimat dapat terdengar meyakinkan tanpa pernah berniat diwujudkan. Aku hanya membutuhkan kejujuran yang tidak bersembunyi, kesediaan untuk memperbaiki, dan bukti bahwa kali ini aku tidak sedang membangun masa depan seorang diri.

Kepercayaan yang telah pecah mungkin dapat disusun kembali, tetapi bentuknya tidak akan pernah sepenuhnya sama. Retakan akan tetap terlihat, mengingatkan bahwa benda itu pernah jatuh dari tangan seseorang yang seharusnya menjaganya. Namun, aku tidak membutuhkan hubungan yang tampak sempurna. Aku hanya ingin tahu bahwa jika retakan baru muncul, kita akan memperbaikinya bersama—bukan saling melempar serpihan, lalu salah satunya pergi karena takut terluka.

Aku pun tidak akan berpura-pura bahwa seluruh kesalahan berada di tanganmu. Aku memiliki kemarahan yang pernah melukaimu, ketakutan yang membuatku terlalu menuntut, serta cara mencintai yang terkadang berubah menjadi genggaman terlalu erat. Jika suatu hari kita mencoba kembali, aku tidak ingin menghidupkan hubungan lama dengan nama baru. Aku ingin kita membangun sesuatu yang berbeda dari reruntuhannya, dengan keberanian untuk mengakui bahwa versi kita yang dahulu memang tidak berhasil.

Kembali bukan berarti menekan tombol pemulihan dan mengunduh ulang versi lama dari hubungan kita. Tidak ada tombol semudah itu untuk hati yang pernah hancur. Kita harus belajar mengenal satu sama lain dari awal, meskipun kita telah mengetahui bagian tubuh, kebiasaan, dan titik lemah masing-masing. Sebab seseorang yang pernah kita kenal begitu dekat dapat berubah menjadi orang asing hanya dalam beberapa minggu perpisahan.

Kadang aku membayangkan kau menghubungiku lebih dahulu. Namamu muncul kembali di layar, membuat jantungku lupa bagaimana cara berdetak dengan tenang. Aku membayangkan membaca sebuah pesan sederhana darimu, mungkin hanya menanyakan kabar, sementara tanganku gemetar karena terlalu banyak jawaban berdesakan di kepala. Aku ingin marah, ingin menangis, ingin mengatakan bahwa aku merindukanmu, lalu mungkin melakukan ketiganya secara bersamaan.

Namun, hari itu belum datang.

Yang ada hanya aku, tulisan ini, dan begitu banyak kalimat yang tidak tahu bagaimana caranya sampai kepadamu. Aku terus menjalani hidup sambil membawa cinta yang tidak lagi memiliki tujuan. Ia seperti surat tanpa alamat—terlalu berharga untuk dibuang, tetapi tidak tahu harus dikirimkan ke mana.

Entah sampai kapan aku akan mencintaimu seperti ini. Mungkin waktu akhirnya membuat namamu terdengar lebih pelan. Mungkin suatu pagi aku akan bangun tanpa menjadikanmu sebagai pikiran pertama. Mungkin aroma tubuhmu perlahan menghilang dari ingatanku dan suaramu tidak lagi terdengar di antara kesunyian. Namun, hari itu belum tiba. Saat ini, namamu masih menjadi bagian paling nyaring dari segala sesuatu yang sedang berusaha kulupakan.

Jika kau tidak pernah kembali, aku akan belajar menerima bahwa tidak semua cinta memperoleh kesempatan kedua. Ada cinta yang hanya datang untuk membuka hati, mengisinya dengan kebahagiaan, lalu meninggalkan pintunya terbuka ketika pergi. Kita yang ditinggalkan kemudian harus belajar menutupnya sendiri, meskipun angin dari luar terus membawa kembali aroma seseorang yang pernah tinggal di dalamnya.

Namun, jika masih ada sedikit saja cinta untukku di hatimu, jangan biarkan ia mati hanya karena kita sama-sama tidak tahu bagaimana memulai. Aku tidak meminta jawaban sempurna. Aku hanya ingin mengetahui apakah di antara seluruh luka dan kemarahan itu, masih ada bagian dari dirimu yang mengingatku sebagai seseorang yang pernah kau cintai—bukan sekadar seseorang yang ingin kau lupakan.

Untuk saat ini, pintu itu belum kukunci. Aku hanya tidak lagi berdiri di depannya untuk menunggu. Jika kau masih mengingat jalan pulang, datanglah bukan hanya untuk mengetuk. Datanglah dengan keberanian untuk tinggal.

Sebab aku masih mencintaimu. Namun, kali ini, cinta saja tidak akan cukup.


Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca