Cover photo tentang kisah cinta yang kandas

Tangan yang Tak Lagi Kugenggam

Ketika Aku Kembali Percaya

Menjadi dewasa ternyata tidak membuat seseorang kebal terhadap kehilangan. Usia hanya mengajarkan kita cara menangis tanpa suara, menyimpan kecewa di antara pekerjaan, lalu menjawab “aku baik-baik saja” dengan wajah yang telah berlatih berbohong. Dahulu aku mengira semakin tua seseorang, semakin kuat pula hatinya. Rupanya tidak. Hati tetap dapat pecah pada usia berapa pun. Bedanya, ketika dewasa, kita harus menyapu serpihannya sendiri karena dunia tidak pernah benar-benar berhenti hanya untuk menunggu seseorang selesai berduka.

Sebelum Darren datang, kepercayaanku terhadap cinta tidak lagi utuh. Hatiku seperti rumah yang pernah terbakar: masih berdiri, tetapi menyimpan jelaga pada setiap dindingnya. Aku tetap dapat menerima tamu, hanya saja selalu curiga ketika seseorang terlalu dekat dengan sumber api. Aku telah belajar bahwa manusia mudah mengucapkan janji ketika keadaan sedang menyenangkan. Kata “selamanya” terdengar begitu meyakinkan sebelum hubungan meminta pengorbanan. Lagi pula, janji tidak dikenai bea meterai. Siapa pun dapat membuatnya, lalu berpura-pura lupa ketika ditagih.

Darren datang ketika aku hampir menyerah pada gagasan bahwa cinta sejati benar-benar ada. Ia tidak mengetuk dengan peristiwa besar atau kalimat yang terlalu puitis. Kedekatan kami tumbuh melalui percakapan, perhatian sederhana, dan keinginan untuk saling mengenal. Dari sana, aku mulai membuka pintu yang lama kujaga. Tidak sekaligus, tetapi cukup lebar untuk membiarkannya melihat bagian-bagian diriku yang selama ini kusembunyikan dari orang lain.

Pertemuan pertama kami tidak berlangsung seperti adegan film romantis. Ada perjalanan panjang, hujan, kendaraan yang salah arah, baterai telepon yang hampir habis, dan kecemasan yang berkali-kali muncul. Namun ketika Darren akhirnya tiba, segala kerumitan itu terasa layak dilewati. Aku melihat seseorang yang ingin kusambut, kujaga, dan kuberi tempat untuk beristirahat. Dalam waktu singkat, kehadirannya mengubah rumahku. Ruangan yang biasanya hanya berisi suara televisi dan langkah kakiku sendiri mendadak memiliki tawa, rengekan manja, dan percakapan yang membuat malam berjalan lebih cepat.

Aku tidak mencintainya dengan pesta besar atau hadiah mewah. Aku mencintainya melalui hal-hal yang mungkin terlalu kecil untuk dipamerkan: memastikan ia sampai dengan selamat, membantunya pulang, menyiapkan makanan, memperhatikan kesehatannya, mengingatkan waktu istirahat, dan menyediakan pangkuan ketika ia ingin merasa dimanja. Aku memperlakukannya seperti seorang ratu, meskipun kerajaan kami hanya berupa kamar sederhana, makanan yang dibeli di perjalanan, dan dua orang yang sedang berusaha meyakinkan diri bahwa dunia di luar sana tidak terlalu penting selama kami masih memiliki satu sama lain.

Darren juga memberiku perhatian. Ia menanyakan apakah aku sudah makan, mencari ketika aku lama membalas pesan, dan berkali-kali ingin memastikan bahwa aku masih menyayanginya. Ada sisi rapuh dalam dirinya yang membangkitkan naluriku untuk menjaga. Ketika ia merasa takut, aku ingin menjadi tempatnya berlindung. Ketika ia meragukan dirinya sendiri, aku ingin menjadi orang yang mengingatkan bahwa ia pantas dicintai. Barangkali sejak awal aku telah mencintainya lebih banyak melalui keinginan untuk melindungi daripada keinginan untuk memiliki.

Kami mengucapkan banyak janji. Tentang kesetiaan, tentang tidak meninggalkan, tentang bertahan dalam keadaan apa pun. Aku mempercayainya karena pada saat itu aku ingin percaya. Setelah terlalu lama hidup dengan kecurigaan, percaya kepada seseorang terasa seperti berjalan tanpa alas kaki di atas pecahan kaca sambil meyakinkan diri bahwa kali ini kakiku tidak akan terluka.

Darren menjadi harapan terakhirku bahwa cinta tidak selalu berakhir sebagai pelajaran menyakitkan. Aku menaruh kepercayaan itu di tangannya dengan kesungguhan yang mungkin terlalu besar. Kupikir jika aku memberinya kasih sayang yang tidak setengah-setengah, ia juga akan menjagaku dengan cara yang sama. Aku tidak menyadari bahwa bagi sebagian orang, sebuah tangan dapat digenggam erat hari ini, lalu dilepaskan besok hanya karena jalan di depan mulai terasa terlalu sulit.

Saat itu, aku belum tahu bahwa orang yang kuanggap sebagai jawaban justru akan menjadi pertanyaan baru yang terus menghantuiku: apakah cinta pernah benar-benar dimaksudkan untuk tinggal, atau ia hanya pandai datang pada saat kita sedang paling ingin diselamatkan?

Aku pernah menulis bahwa mencintai seseorang ibarat melewati musim. Pada musim ini, satu nama mungkin tertulis paling jelas dan satu tangan terasa paling erat kugenggam. Namun, siapa yang dapat memastikan bahwa pada musim berikutnya nama itu masih sama dan tangan itu masih memilih tinggal? Barangkali keduanya akan tetap menemani, atau justru berlalu bersama daun-daun yang gugur. Ketika menuliskannya dahulu, kukira itu hanya metafora. Aku tidak menyangka kalimat tersebut sedang menunggu waktu yang tepat untuk berubah menjadi kenyataan.

Perjuangan yang Dipandang Terlalu Kecil

Aku selalu percaya bahwa cinta tinggal di dalam detail. Ia hidup dalam pertanyaan sederhana tentang makan, perjalanan pulang yang dipastikan aman, obat yang tidak boleh terlupakan, makanan yang disiapkan, dan kabar yang ditunggu meskipun mata telah mengantuk. Cinta tidak selalu datang membawa bunga. Kadang ia datang membawa kantong makanan, ongkos perjalanan, segelas air, atau tubuh yang tetap terjaga hanya untuk memastikan orang yang disayangi telah tiba dengan selamat.

Namun, detail-detail kecil rupanya mudah kehilangan nilai di mata seseorang yang hanya sibuk menunggu gambaran besar. Mungkin Darren menginginkan cinta yang tampak seperti pemandangan sempurna, sementara aku hanya mampu memberinya sapuan-sapuan kecil yang membentuk pemandangan itu. Ia melihat apa yang tidak dapat kuberikan, tetapi melewati begitu saja hal-hal yang telah kuusahakan. Begitulah manusia kadang menilai kasih sayang: menuntut sebuah istana sambil menginjak batu-batu yang sedang dikumpulkan untuk membangunnya.

Aku tidak pernah mengaku sebagai pasangan yang sempurna. Ada saat ketika ketakutanku berubah menjadi kecurigaan. Perhatian yang semula ingin melindungi terkadang menjelma menjadi tuntutan. Ketika Darren terlambat memberi kabar atau membatalkan pertemuan, luka lamaku mengambil alih logika. Aku menggenggamnya lebih erat karena takut kehilangan, tanpa menyadari bahwa genggaman yang terlalu kuat juga dapat terasa seperti kurungan.

Aku pernah marah, mengucapkan kata-kata yang melukainya, dan membuat keputusan ketika emosi sedang lebih nyaring daripada akal sehat. Aku tidak akan menghapus bagian itu hanya agar terlihat seperti korban yang sempurna. Korban yang sempurna sama fiktifnya dengan hubungan tanpa konflik. Aku memiliki kesalahan, dan Darren memiliki luka yang mungkin lahir dari caraku mencintainya.

Sebab seberapa dalam pun dua orang saling menyayangi, mereka tetap akan saling melukai. Cinta tidak mengubah manusia menjadi makhluk tanpa cela. Akan ada ucapan yang salah, kebutuhan yang luput dipahami, harapan yang tidak terpenuhi, dan kekecewaan yang datang meskipun tidak pernah direncanakan. Tidak ada hubungan yang dapat hidup selamanya hanya dengan tawa, pelukan, dan percakapan manis. Pada suatu titik, cinta akan diuji oleh sifat asli dua manusia yang membawanya.

Masalahnya bukan apakah luka akan muncul. Luka pasti datang. Hal yang menentukan sebuah hubungan adalah apa yang dilakukan setelahnya. Apakah dua orang itu bersedia duduk dan berbicara? Apakah mereka mampu mengakui kesalahan tanpa sibuk mencari kambing hitam? Apakah mereka mau menurunkan ego, meminta maaf, lalu memperbaiki sesuatu yang telah retak? Ataukah salah satunya memilih berdiri di depan pintu, menunggu alasan yang cukup masuk akal untuk pergi?

Aku masih ingin memperbaiki hubungan kami. Setiap pertengkaran memang melelahkan, tetapi bagiku lelah bukan selalu tanda bahwa cinta harus dihentikan. Kadang lelah hanya berarti dua orang perlu berhenti sejenak, mengatur napas, lalu kembali berjalan. Darren melihatnya secara berbeda. Setiap konflik seperti menambahkan satu langkah baru menuju pintu keluar. Sementara aku sibuk mencari cara menyelamatkan rumah, ia mulai menghitung jarak menuju halaman.

Kepercayaan kami perlahan retak. Ada penjelasan yang berubah, kehadiran orang lain yang menimbulkan kecurigaan, aplikasi kencan yang kembali menjadi persoalan, serta janji yang semakin sering membutuhkan pembuktian. Aku mulai hidup seperti penjaga malam di dalam hubungan sendiri—terus waspada, memeriksa setiap suara, dan takut menemukan pintu yang diam-diam telah terbuka. Tentu saja itu bukan cara yang sehat untuk mencintai. Namun, sulit meminta seseorang tetap tenang ketika alarm berkali-kali berbunyi dan orang di sebelahnya terus berkata bahwa tidak terjadi apa-apa.

Di sisi lain, Darren merasa hubungan kami mengganggu ruang pribadinya. Ia menginginkan kebebasan untuk menentukan waktu, mengutamakan keluarga, menyimpan hubungan kami dari orang lain, dan merancang masa depan yang tidak selalu menyertakan aku di dalamnya. Aku berusaha memahami ketakutannya, tetapi perlahan aku menyadari bahwa kami tidak sedang memandang tujuan yang sama. Bagiku, ia adalah seseorang yang ingin kupertahankan. Baginya, aku seperti persinggahan yang nyaman sebelum ia melanjutkan perjalanan menuju kehidupan yang dianggap lebih seharusnya.

Ia pernah membicarakan masa depan bersama seorang perempuan dan anak-anak. Masa depan itu disebut sebagai pilihannya sendiri. Di dalam gambaran tersebut, aku tidak menemukan tempat untuk berdiri. Betapa menariknya: aku diminta memberikan cinta sepenuhnya kepada seseorang yang sejak awal telah menyimpan rencana untuk meninggalkannya. Rupanya aku diharapkan menjadi rumah sementara—cukup hangat untuk ditinggali, tetapi tidak cukup pantas dicantumkan sebagai alamat tetap.

Aku tetap bertahan karena percaya perasaan dapat mengubah arah. Kupikir perhatian, kesetiaan, dan kesediaanku menerima dirinya akan membuatnya melihat bahwa cinta kami layak diperjuangkan. Aku terlalu lama meyakini bahwa jika seseorang diperlakukan dengan cukup baik, ia akhirnya akan memahami nilai dari orang yang memperlakukannya demikian. Ternyata ketulusan bukan alat sulap. Ia tidak dapat memaksa seseorang menghargai sesuatu yang sejak awal tidak ingin dilihatnya.

Aku pernah menulis bahwa mencintai seseorang ibarat melewati musim. Pada musim ini, satu nama mungkin tertulis paling jelas dan satu tangan terasa paling erat kugenggam. Namun, siapa yang dapat memastikan bahwa pada musim berikutnya nama itu masih sama dan tangan itu masih memilih tinggal? Barangkali keduanya akan tetap menemani, atau justru berlalu bersama daun-daun yang gugur. Ketika menuliskannya dahulu, kukira itu hanya metafora. Aku tidak menyangka kalimat tersebut sedang menunggu waktu yang tepat untuk berubah menjadi kenyataan.

Perlahan aku mulai bertanya kepada diriku sendiri: sampai kapan tangan ini harus terus menggenggam? Mencintai adalah pekerjaan dua orang. Satu orang tidak dapat terus membangun sementara yang lain menguji seberapa kuat bangunan itu bertahan jika fondasinya ditendang berulang kali. Hubungan bukan perlombaan tentang siapa yang paling lama sanggup menahan sakit. Namun, saat itu aku masih percaya bahwa selama aku belum menyerah, kami belum benar-benar berakhir.

Aku keliru. Sebuah hubungan dapat berakhir jauh sebelum orang yang paling mencintai bersedia mengakuinya.

Yang Hilang Setelah Ia Pergi

Darren akhirnya memilih pergi ketika aku masih ingin berjuang. Ia menginginkan jarak, ketenangan, dan kehidupan yang dapat dijalaninya tanpa harus terus berhadapan dengan konflik kami. Ia menawarkan kemungkinan untuk tetap menjadi teman, seolah perasaan dapat diturunkan statusnya seperti paket berlangganan. Kemarin saling mencintai, hari ini berteman, besok mungkin saling menyaksikan kehidupan masing-masing dari kejauhan. Praktis sekali, andai hati juga memiliki tombol untuk mengganti kategori.

Aku marah. Aku tidak menerima kepergiannya dengan keanggunan seseorang yang telah tercerahkan. Ada kemarahan, ancaman, blokir yang dibuka dan ditutup, serta kata-kata yang lahir dari bagian diriku yang sedang panik. Aku ingin membuatnya merasakan sedikit saja kehancuran yang kurasakan. Pada saat itu, luka tidak berbicara menggunakan bahasa yang sopan. Ia hanya berteriak agar didengar.

Namun, setelah kemarahan itu mereda, yang tersisa bukan kemenangan. Hanya kesunyian dan sebuah pertanyaan yang tidak lagi memiliki tujuan untuk dikirimkan: mengapa seseorang meminta begitu banyak cinta jika pada akhirnya ia tidak pernah benar-benar berniat tinggal?

Aku menyalahkan Darren atas luka yang ditinggalkannya. Bukan karena ia tidak sempurna dan bukan semata-mata karena ia memilih pergi. Aku menyalahkannya karena ia datang ketika kepercayaanku terhadap cinta hampir habis, lalu membuatku percaya bahwa kali ini seseorang akan tetap tinggal. Ia mengetahui ketakutanku, melihat bekas luka yang kubawa, dan menerima kasih sayang yang kuberikan. Setelah aku menyerahkan bagian diriku yang paling rapuh, ia menjadi orang berikutnya yang melukai tempat yang sama.

Mungkin bagi Darren, hubungan kami hanyalah bagian singkat dari hidup yang masih panjang. Bagiku, ia adalah harapan terakhir bahwa semua luka terdahulu tidak membuktikan cinta sebagai kebohongan. Aku tidak hanya mencintai dirinya. Aku mencintai kemungkinan yang dibawanya: kemungkinan untuk kembali percaya, untuk merasa dipilih, dan untuk memiliki seseorang yang tidak pergi ketika keadaan berubah sulit.

Itulah sebabnya kehilangan ini terasa lebih besar daripada berakhirnya sebuah hubungan. Darren tidak hanya membawa pergi kehadirannya. Ia membawa versi diriku yang masih mampu mendengarkan janji tanpa mencari kebohongan di baliknya. Setelah ia pergi, setiap perhatian tampak seperti pembukaan menuju kekecewaan. Setiap kata “selamanya” terdengar seperti kalimat yang lupa mencantumkan tanggal kedaluwarsa. Bahkan ketulusan orang lain mulai kuperiksa seperti barang yang mungkin palsu—dilihat dari berbagai sisi, dicurigai, lalu tetap tidak dipercaya.

Orang mungkin mengatakan aku terlalu berharap. Barangkali benar. Namun, bukankah cinta memang tumbuh karena dua orang membiarkan satu sama lain berharap? Tidak masuk akal meminta seseorang membuka hati, menerima janji, dan membangun kepercayaan, kemudian menyalahkannya karena terlalu percaya ketika semua itu dihancurkan. Jika berharap adalah kesalahanku, setidaknya aku melakukan kesalahan itu dengan jujur.

Aku tidak kehilangan kepercayaan karena satu pertengkaran. Kepercayaan itu memudar sedikit demi sedikit setiap kali janji tidak sejalan dengan tindakan, setiap kali perjuanganku dianggap tidak cukup, dan setiap kali pilihan untuk pergi diletakkan di atas meja seolah hubungan kami hanyalah benda yang dapat dikembalikan ketika tidak lagi sesuai kebutuhan. Pada akhirnya, yang menghancurkan bukan satu ledakan besar, melainkan retakan-retakan kecil yang dibiarkan tumbuh sampai seluruh bangunan roboh.

Tidak ada pasangan yang sempurna. Dua orang yang saling mencintai tetap dapat saling mengecewakan, melukai, bahkan membuat satu sama lain mempertanyakan keputusan untuk bertahan. Namun, ada pasangan yang layak diperjuangkan: mereka yang bersedia tinggal setelah badai, mengakui kesalahan, dan menyembuhkan apa yang mereka lukai bersama-sama. Aku masih ingin melakukan itu. Darren tidak.

Mungkin itulah bagian yang paling sulit kuterima. Aku tidak kalah oleh orang ketiga, jarak, keluarga, atau perbedaan usia. Aku kalah oleh keputusan seseorang untuk berhenti berjuang. Tidak ada kasih sayang sebesar apa pun yang dapat mengubah keputusan itu. Aku dapat menyediakan rumah, tetapi tidak dapat memaksa seseorang menganggapnya sebagai tempat pulang.

Kini tangan itu tak lagi kugenggam. Bukan karena cintaku hilang dalam satu malam, melainkan karena jemarinya telah lebih dahulu terbuka. Aku bertahan sampai genggamanku sendiri terasa menyakitkan. Lalu aku mengerti bahwa terus memegang seseorang yang ingin pergi bukan lagi perjuangan mempertahankan cinta. Itu hanya cara paling perlahan untuk melukai diri sendiri.

Melepaskan Darren tidak serta-merta membuatku memaafkan semua yang terjadi. Ada luka yang belum selesai, kemarahan yang masih hidup, dan kepercayaan yang belum tahu bagaimana caranya pulang. Barangkali suatu hari aku dapat melihat hubungan itu tanpa merasa sedang berdiri di tengah reruntuhan. Namun hari ini, aku masih berhak mengakui bahwa ia telah menghancurkan sesuatu dalam diriku.

Darren pernah menjadi harapan terakhirku bahwa cinta sejati itu ada. Ironisnya, ia justru menjadi alasan baru bagiku untuk meragukannya. Cinta memang memiliki selera humor yang ganjil: ia datang mengenakan pakaian seorang penyelamat, lalu pergi meninggalkan tagihan untuk seluruh kerusakan yang dibuatnya.

Pada akhirnya, aku tidak hanya kehilangan tangan yang dahulu kugenggam. Aku kehilangan keyakinan bahwa sebuah genggaman selalu berarti seseorang berniat tinggal. Dan dari seluruh hal yang dibawa Darren ketika pergi, itulah kehilangan yang paling sulit kukembalikan.


Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca