SFX Makeup

Sejarah SFX Makeup dan Perkembangannya dalam Industri

SFX makeup kerap diringkas sebagai riasan luka, darah, atau wajah monster. Pengertian itu tidak sepenuhnya salah, tetapi terlalu sempit. Di balik sebuah luka palsu yang tampak sederhana terdapat pengetahuan tentang anatomi, warna kulit, pantulan cahaya, kimia bahan, desain tiga dimensi, pencetakan, perekat, dan keselamatan orang yang mengenakannya. Karena itu, sejarah SFX makeup bukan sekadar rangkaian tampilan terkenal di layar. Ia adalah sejarah tentang bagaimana manusia belajar mengubah tubuh menjadi ilusi fisik yang dapat dilihat dari dekat, disentuh, dikenakan, dan diulang secara konsisten.

Bidang ini juga tidak lahir pada satu tanggal atau dari satu penemu. SFX makeup modern terbentuk melalui beberapa jalur yang kemudian saling bertemu: tata rias pertunjukan, pembuatan topeng dan rambut palsu, model lilin medis atau moulage, perkembangan fotografi dan gambar bergerak, serta kemajuan bahan prostetik. Industri film memang mempercepat perkembangannya, tetapi bukan satu-satunya tempat kelahirannya dan bukan pula satu-satunya ruang kerjanya sekarang.

Apa yang Dimaksud dengan SFX Makeup?

SFX adalah singkatan dari special effects. Namun, istilah ini dapat membingungkan karena di lingkungan produksi “special effects” juga dipakai untuk efek fisik seperti api, hujan, ledakan, asap, atau mekanisme di lokasi. Serikat pekerja industri hiburan Inggris Bectu bahkan memisahkan kategori Hair, Make-up & Prosthetics dari cabang Special Effects (SFX) yang menangani efek fisik dan piroteknik. Oleh sebab itu, istilah yang lebih presisi untuk bidang rias adalah special makeup effects, makeup effects, atau SFX makeup.[1]

Secara fungsional, SFX makeup adalah riasan yang digunakan untuk menciptakan karakter atau konfigurasi fisik subjek sesuai desain yang diinginkan. Hasilnya dapat berupa karakter horor, luka, memar, bekas luka, luka bakar, penyakit, penuaan, perubahan bentuk anatomi, makhluk nonmanusia, atau fitur wajah dan tubuh yang tidak biasa. SFX makeup digunakan dalam film, televisi, teater, fotografi, periklanan, video musik, pertunjukan langsung, atraksi tematik, serta simulasi medis, kebencanaan, dan militer.

Kata “konfigurasi fisik” penting karena SFX makeup tidak hanya mengubah warna permukaan kulit. Seniman dapat mengubah bentuk, volume, proporsi, tekstur, usia, kondisi jaringan, atau identitas visual subjek. Hidung dapat dibuat lebih besar, tulang pipi ditonjolkan, kulit dibuat seolah terbakar, wajah tampak menua, atau bagian tubuh dirancang menyerupai anatomi yang sebenarnya tidak dimiliki subjek. Perubahan tersebut harus mengikuti desain, kebutuhan karakter, konteks cerita, atau tujuan simulasi—bukan sekadar dibuat dramatis tanpa alasan.

SFX makeup juga tidak selalu identik dengan horor atau efek yang mengerikan. Memar tipis, kulit pucat karena kehilangan darah, bekas operasi, pembengkakan, penuaan alami, atau perubahan struktur wajah yang nyaris tidak disadari penonton tetap termasuk special makeup effects apabila dibuat untuk menghadirkan kondisi fisik tertentu. Efek terbaik bahkan sering tidak tampak sebagai “efek” karena menyatu dengan anatomi, gerak, warna kulit, dan pencahayaan.

Secara teknis, transformasi dapat dikerjakan melalui rias dua dimensi dengan pengaturan warna dan bayangan; teknik build-up yang membentuk tekstur langsung di atas kulit; atau perangkat prostetik tiga dimensi yang dibuat melalui proses sculpting, molding, dan casting. Beberapa desain menggabungkan ketiganya. Karena itu, keterampilan SFX makeup mencakup lebih dari kemampuan merias: anatomi, teori warna, ilusi optik, pemahatan, pembuatan cetakan, pengetahuan bahan, pengaplikasian, continuity, dan keselamatan kulit.

Definisi tersebut sejalan dengan batas praktis yang digunakan Academy of Motion Picture Arts and Sciences. Academy menjelaskan makeup sebagai perubahan fisik dan praktis pada wajah, kepala, atau tubuh performer melalui kosmetik, material tiga dimensi, perangkat prostetik, atau rambut wajah yang diaplikasikan langsung pada tubuh.[2] Namun, pada SFX makeup, perubahan tersebut diarahkan secara khusus untuk membangun karakter, kondisi tubuh, atau konfigurasi fisik yang tidak dapat dicapai hanya melalui rias kecantikan konvensional.

Perbedaan utamanya dengan beauty makeup terletak pada tujuan. Beauty makeup umumnya menata, menyempurnakan, atau menonjolkan fitur yang sudah ada. SFX makeup dapat memakai produk kosmetik yang sama, tetapi tujuannya adalah menciptakan ilusi kondisi atau bentuk fisik baru. Batas keduanya tidak selalu mutlak—misalnya dalam character makeup—tetapi tujuan desain menjadi penentunya.

SFX makeup dan prosthetic makeup juga tidak selalu identik. Prostetik merupakan salah satu wilayah utama dalam SFX makeup: bentuk tambahan dibuat terlebih dahulu melalui proses lifecasting, sculpting, pembuatan mold, casting, pengecatan, lalu ditempelkan ke tubuh. SFX makeup memiliki cakupan lebih luas karena dapat pula dikerjakan langsung di kulit dengan warna, wax, rigid collodion, lateks cair, darah buatan, atau bahan lain tanpa perangkat prostetik yang dicetak terpisah.[3]

Perbedaannya dengan VFX terletak pada tempat ilusi itu diwujudkan. SFX makeup bersifat praktis: hasilnya benar-benar berada pada tubuh performer ketika pertunjukan, pemotretan, simulasi, atau pengambilan gambar dilakukan. VFX mengolah atau menambahkan citra secara digital. Keduanya kini sering bekerja berdampingan, tetapi prostetik tidak berubah menjadi VFX hanya karena kemudian dirapikan secara digital.

SFX Tidak Bermula dari Film

Jika sejarah SFX makeup dimulai langsung dari sinema, sebagian besar fondasinya akan terlewat. Sebelum ada kamera, para performer telah memakai topeng, pigmen, rambut palsu, janggut buatan, serta permainan terang-gelap untuk mengubah usia, status, watak, dan identitas. Praktik tersebut belum sama dengan departemen SFX makeup modern, tetapi telah membentuk gagasan dasarnya: tubuh performer dapat dijadikan media transformasi.

Perubahan besar terjadi pada abad ke-19 ketika pencahayaan panggung beralih dari lilin dan lampu minyak menuju gas, kemudian listrik. Cahaya yang lebih terang memperlihatkan kekurangan pada kostum, dekorasi, dan riasan. Bedak yang sebelumnya memadai menjadi mudah tampak pucat, datar, atau luntur akibat panas dan keringat. Kondisi teknis ini mendorong kebutuhan akan riasan dengan daya tutup, intensitas warna, dan ketahanan yang lebih tinggi.[4]

Greasepaint menjadi salah satu jawaban penting. Bahan berlemak dan pigmen sebenarnya telah digunakan lebih awal, tetapi Ludwig Leichner mengomersialkan sistem greasepaint melalui bisnis makeup panggung yang didirikannya di Berlin pada 1873. Formulanya membantu performer membangun warna dasar, highlight, bayangan, garis usia, pembuluh darah, dan perubahan karakter dengan kontrol yang lebih baik. Produk dalam bentuk stik serta penomoran warna juga mengubah ramuan personal menjadi komoditas yang lebih seragam dan mudah dibeli kembali.[4]

Di sinilah perkembangan rias mulai memperlihatkan sifat industrialnya. Seorang performer tidak lagi sepenuhnya bergantung pada campuran buatan sendiri. Bahan mulai diproduksi, dikatalogkan, diberi nomor, dan dijual lintas negara. Konsistensi produk memungkinkan tampilan diulang dari satu pertunjukan ke pertunjukan berikutnya. Prinsip pengulangan inilah yang kelak sangat penting bagi kesinambungan atau continuity dalam produksi profesional.

Greasepaint juga berhubungan dengan wig paste, pasta berwarna kulit yang dipakai untuk menyamarkan pertemuan antara wig dan dahi. Gagasan menyembunyikan sambungan tersebut merupakan pendahulu langsung salah satu persoalan utama prostetik modern: bagaimana membuat material tambahan seolah menyatu dengan kulit asli. Formula, teknik, dan istilahnya berubah, tetapi masalah visual yang dipecahkan tetap sama—tepi tidak boleh membongkar ilusi.[4]

Namun, sejarah rias pertunjukan tidak seluruhnya netral. Sebagian praktik lama digunakan untuk blackface, stereotip rasial, dan penggambaran kelompok tertentu melalui sistem warna yang dibangun dari pandangan diskriminatif. Catatan ini penting karena kemampuan “mengubah identitas” tidak pernah berdiri di luar kekuasaan. Industri modern mewarisi kecanggihan teknik sekaligus kewajiban etis untuk meninggalkan representasi yang merendahkan dan membangun kompetensi pada seluruh warna serta karakter kulit.[5]

Jalur Lain yang Sering Terlupakan: Moulage Medis

Akar penting lainnya berasal dari dunia kedokteran. Moulage pada awalnya merujuk pada seni membuat model lilin yang merekam penyakit atau kondisi tubuh untuk pendidikan medis. Menurut kajian StatPearls di National Center for Biotechnology Information, Franz Martens dan Joseph Towne termasuk pembuat moulage awal pada abad ke-19. Charles Lailler dan Jules Pierre François Baretta kemudian mengembangkan salah satu koleksi model lilin besar di Hôpital Saint-Louis, Paris. Praktik ini menyebar di Eropa untuk membantu pengenalan penyakit dermatologis dan penyakit kelamin.[6]

Berbeda dari rias panggung yang perlu terbaca oleh penonton dari kejauhan, moulage medis mengejar ketepatan visual dan anatomi. Warna radang, tekstur lesi, kedalaman luka, serta perubahan jaringan harus cukup meyakinkan untuk menjadi alat belajar. Dengan demikian, tradisi moulage menyumbangkan orientasi yang sangat dekat dengan esensi SFX makeup modern: bukan sekadar menghias atau melebih-lebihkan wajah, melainkan membangun tanda tubuh yang dapat dipercaya.

Makna moulage kemudian bergeser. Istilah tersebut kini juga digunakan untuk pengaplikasian special-effects makeup pada manusia atau manekin guna menyimulasikan penyakit dan cedera. Riset mengenai autentisitas moulage menjelaskannya sebagai teknik SFX makeup untuk menciptakan luka dan efek lain dalam simulasi. Efeknya dapat sesederhana memar atau abrasi, tetapi dapat pula melibatkan prostetik, darah buatan, luka bakar, atau skenario korban massal.[6][7]

Karena itu, sejarah SFX makeup lebih tepat dipahami sebagai pertemuan antara transformasi performatif dan reproduksi anatomi. Yang pertama mengajarkan cara membentuk karakter dan mengendalikan keterbacaan di bawah cahaya. Yang kedua menuntut pengamatan klinis, tekstur, serta kredibilitas cedera. Keduanya sama-sama membutuhkan ilusi fisik pada tubuh.

Ketika Kamera Mengubah Standar Realisme

Masuknya fotografi dan gambar bergerak tidak menciptakan makeup efek dari nol, tetapi mengubah standar keberhasilannya. Wajah tidak lagi hanya diamati dari jarak auditorium; kamera dapat memperbesar pori, retakan bahan, batas warna, dan sambungan prostetik. Rias panggung yang tebal tidak selalu cocok dengan karakter film awal dan pencahayaan studio. Pada 1914, Max Factor mengembangkan flexible greasepaint berbentuk krim dalam dua belas tingkatan warna yang dapat diaplikasikan lebih tipis daripada stik. Kemudian hadir penyesuaian untuk film pankromatik dan proses warna.[4][8]

Yang penting dari perubahan tersebut bukan nama mereknya, melainkan pola industrinya: setiap perubahan media menuntut perubahan formula. Pencahayaan gas melahirkan kebutuhan akan daya tutup dan ketahanan; close-up menuntut lapisan lebih tipis; film pankromatik menuntut respons warna yang berbeda; televisi berwarna, kamera digital, dan resolusi tinggi kemudian memaksa seniman memperhalus tekstur, warna, serta tepi prostetik.

Pada tahap awal, perubahan tiga dimensi sering dibangun langsung pada wajah dengan kombinasi wax, kapas, collodion, gum, putty, dan bahan lain. Cara ini memberikan kebebasan artistik tetapi memakan waktu dan sulit disalin secara identik setiap hari. Peralihan menuju perangkat prostetik yang dicetak mengubah produksi: bentuk dapat dirancang di luar tubuh, diuji, diperbanyak, diberi nomor, dan disiapkan sebelum hari aplikasi. Makeup efek pun bergerak dari keterampilan individual di meja rias menjadi kerja laboratorium kecil dengan tahapan dan spesialisasi.

Dari Build-up ke Sistem Prostetik

Sistem prostetik modern biasanya dimulai dengan lifecast, yakni pengambilan bentuk wajah atau bagian tubuh performer. Di atas bentuk positif itu, seniman memahat perubahan yang diinginkan menggunakan clay. Patung kemudian dibuatkan mold negatif; bahan seperti foam latex, gelatin, atau silikon dicetak di dalamnya; hasilnya dilepas, ditempel, disamarkan tepinya, dan dicat agar menyatu dengan kulit. Alur ini membuat satu tampilan dapat dipecah menjadi proses desain, manufaktur, dan aplikasi.[3]

Perkembangan material bukan cerita tentang satu bahan baru yang sepenuhnya menggantikan bahan lama. Foam latex menjadi bahan utama selama puluhan tahun karena ringan, lentur, berpori, dan relatif nyaman untuk bentuk berukuran besar. Gelatin menawarkan translusensi dan biaya yang lebih rendah untuk kebutuhan tertentu. Silikon semakin penting karena kelembutan, ketahanan, dan translusensinya dapat meniru kualitas kulit, terutama ketika kamera beresolusi tinggi menuntut detail jarak dekat. Pemilihannya selalu merupakan kompromi antara realisme, berat, ventilasi, anggaran, durasi pemakaian, gerak performer, dan kondisi produksi.[3][9]

Silikon platinum-cure yang aman untuk kulit kini banyak digunakan untuk masker dan perangkat prostetik. Formulanya dapat dibuat sangat lembut atau seperti gel sehingga gerak material mendekati gerak jaringan. Bahan tertentu dapat digunakan sebagai prostetik cetak, lapisan tipis, perekat, atau build-up luka langsung pada kulit.[10] Meski demikian, foam latex tidak menjadi usang. Untuk kepala penuh atau perubahan tubuh yang luas, bobot ringan dan porositasnya tetap menjadi keuntungan. Evolusi bahan memperluas pilihan, bukan menghapus seluruh teknologi sebelumnya.

Warna merupakan bagian yang sama pentingnya dengan bentuk. Kulit tidak tersusun dari satu warna datar: terdapat variasi merah, kuning, biru, hijau, cokelat, serta perubahan karena aliran darah, ketebalan jaringan, melanin, memar, kelembapan, dan cahaya. Setelah perangkat ditempel, seniman perlu mematahkan keseragaman bahan dengan stippling, airbrush, wash, lapisan translusen, dan detail pembuluh. Prostetik yang dipahat baik tetap akan terlihat palsu jika warnanya terlalu padat, simetris, atau tidak bereaksi terhadap cahaya seperti kulit.

Perkembangan Menjadi Sebuah Departemen Industri

Ketika efek bertambah rumit, satu orang tidak selalu mengerjakan seluruh proses. Produksi besar dapat membagi pekerjaan kepada prosthetic designer, concept artist, lifecaster, sculptor, mold maker, caster, fabrication technician, hair puncher, painter, application artist, serta kru yang menjaga dan memperbaiki efek selama produksi. Pada produksi lebih kecil, beberapa fungsi tersebut dapat dirangkap oleh satu seniman. Pembagian ini menunjukkan bahwa SFX makeup bukan hanya gaya merias, melainkan rantai produksi.

Pengakuan profesional dapat dilihat dari struktur ketenagakerjaan. Bectu menempatkan hair, makeup, dan prosthetics sebagai departemen dengan panduan tarif tersendiri, termasuk tarif khusus kru prostetik.[1] Aturan Academy juga menekankan desain, penciptaan, supervisi, pengujian, dan aplikasi langsung sebagai bagian dari pencapaian makeup.[2] Dengan kata lain, hasil yang terlihat di tubuh hanyalah ujung dari pekerjaan panjang: membaca brief, riset anatomi, membuat desain, menghitung waktu dan biaya, melakukan tes bahan, merencanakan jumlah salinan, mencatat continuity, mengaplikasikan, melakukan touch-up, dan melepas bahan dengan aman.

Industrialisasi juga memperluas pengertian kualitas. Efek tidak cukup hanya tampak bagus dalam satu foto. Ia harus sesuai dengan tujuan cerita atau simulasi, nyaman, aman, bergerak bersama performer, bertahan selama waktu kerja, dapat diperbaiki, dan dapat dibuat ulang. Seniman SFX bekerja di antara kebebasan artistik dan batas nyata berupa jadwal, cuaca, keringat, alergi, kamera, pencahayaan, anggaran, serta tenaga manusia.

Industri SFX Makeup di Luar Layar

Film dan televisi memang menjadi pemberi kerja yang terlihat, tetapi SFX makeup juga digunakan dalam teater, pertunjukan langsung, iklan, video musik, editorial, acara imersif, atraksi hiburan, pendidikan, dan pelatihan. Dalam dunia medis dan militer, casualty simulation membantu tenaga kesehatan, paramedis, dan tim tanggap darurat berhadapan dengan tanda visual yang menyerupai cedera nyata. Studi menunjukkan bahwa moulage yang autentik dapat meningkatkan realisme, keterlibatan peserta, dan validitas simulasi; sebaliknya, tanda yang tidak akurat dapat membingungkan proses diagnosis.[6][7]

Fungsi ini memperlihatkan bahwa esensi SFX makeup tidak selalu fantasi. Dalam hiburan, ilusi digunakan untuk membuat transformasi dapat dipercaya. Dalam simulasi medis, ilusi digunakan untuk melatih keputusan yang kelak diterapkan pada situasi nyata. Teknik dasarnya dapat sama—warna, wax, prostetik, darah buatan, dan tekstur—tetapi ukuran keberhasilannya berbeda. Pada simulasi, akurasi klinis lebih penting daripada efek dramatis.

Era Digital: Bukan Pengganti Tangan, Melainkan Perluasan Alat

Perkembangan mutakhir mengubah bagian pra-produksi dan manufaktur. Seniman “hibrida” menggunakan teknik praktis sekaligus perangkat digital: sculpting tiga dimensi dengan ZBrush, pemindaian 3D, CNC milling, dan 3D printing. Pemindaian mempercepat pengambilan bentuk serta mengurangi ketergantungan pada lifecast konvensional dalam situasi tertentu; file digital dapat diperbesar, dicerminkan, direvisi, disimpan, dan dicetak ulang secara konsisten.[11]

Namun, digitalisasi tidak menghilangkan pekerjaan tangan. Hasil pemindaian masih perlu dibersihkan; desain perlu memahami anatomi; cetakan perlu diproses; bahan perlu dicor; tepi perlu diaplikasikan; warna, rambut, dan tekstur akhir tetap membutuhkan kepekaan seniman. Gorton Studio menekankan bahwa sculpting manual, mold making, casting, hair punching, painting, dan finishing tetap diperlukan, sementara alat digital dipilih ketika meningkatkan kecepatan, ketepatan, atau efisiensi.[11]

Hubungan SFX makeup dengan VFX juga semakin bersifat kolaboratif. Prostetik dapat memberi performer bentuk fisik, bayangan, tekstur, dan titik interaksi nyata, sementara VFX membersihkan sambungan, memperluas gerak, atau menciptakan bagian yang tidak mungkin diwujudkan secara aman. Hasil modern sering bukan pertarungan “praktis versus digital”, tetapi rancangan bersama sejak awal agar setiap departemen mengerjakan bagian yang paling sesuai dengan mediumnya.

Keselamatan dan Etika sebagai Ukuran Kemajuan

Sejarah bahan makeup juga mencakup formula yang keras, tidak stabil, atau tidak dipahami risikonya. Industri modern karena itu tidak boleh mengukur kemajuan hanya dari seberapa realistis hasilnya. Kemajuan juga berarti penggunaan material yang memang sesuai untuk kontak kulit, pengujian alergi, ventilasi saat bekerja dengan bahan kimia, kebersihan alat, komunikasi dengan performer, serta prosedur pelepasan yang tidak merusak kulit.

Literatur moulage medis mengingatkan agar alergi terhadap perekat dan lateks ditanyakan sebelum aplikasi, serta agar kenyamanan orang yang mengenakan efek tetap dipertimbangkan.[6] Dalam praktik profesional, efek yang spektakuler tetapi menimbulkan cedera, menghambat napas, atau dilepas secara kasar bukanlah keberhasilan teknis. Seniman perlu memahami batas produk: bahan untuk mold atau properti belum tentu aman dipakai langsung pada kulit.

Etika representasi juga bagian dari keahlian. SFX makeup memiliki kuasa untuk mengubah usia, kondisi tubuh, penyakit, etnisitas, dan identitas. Sejarah teater menunjukkan bahwa transformasi pernah digunakan untuk mengukuhkan stereotip. Karena itu, riset, konteks, konsultasi, dan penghormatan kepada subjek tidak dapat dipisahkan dari kualitas artistik.

Esensi SFX Makeup dalam Industri Modern

Jika diringkas, sejarah SFX makeup adalah perjalanan dari rias yang harus terbaca di bawah cahaya panggung menuju ilusi fisik yang harus bertahan menghadapi close-up, gerak, waktu, dan pengulangan. Greasepaint membuat warna lebih terkontrol dan dapat diproduksi secara konsisten. Moulage medis memperkuat perhatian pada anatomi dan tanda tubuh. Prostetik memindahkan sebagian pekerjaan dari aplikasi spontan menuju desain dan manufaktur. Foam latex, gelatin, serta silikon memperluas kemungkinan material. Pemindaian dan pencetakan 3D menambahkan presisi serta kemampuan reproduksi.

Namun, tujuan dasarnya tidak berubah: meyakinkan mata bahwa material buatan merupakan bagian dari tubuh. Keberhasilan itu lahir dari pertemuan seni dan sains—observasi warna, pemahaman anatomi, kemampuan memahat, pengetahuan bahan, disiplin continuity, dan tanggung jawab terhadap manusia yang menjadi medianya.

Dengan sudut pandang ini, SFX makeup tidak perlu dijelaskan melalui daftar film. Film hanyalah salah satu mesin yang mempercepat inovasinya. Sejarah sebenarnya lebih luas: dimulai dari kebutuhan mengubah performer, bertemu dengan tradisi reproduksi medis, berkembang bersama industri kimia dan teknologi pencitraan, lalu menjadi bidang profesional yang melayani hiburan, pendidikan, simulasi, dan pengalaman langsung. SFX makeup bukan sekadar membuat sesuatu tampak mengerikan atau fantastis. Ia adalah seni membangun bukti fisik bagi sesuatu yang sesungguhnya tidak terjadi.

Referensi

  1. Bectu. “Ratecards: Hair, Make-Up & Prosthetics” dan “Special Effects (SFX).” Bectu Ratecards.
  2. Academy of Motion Picture Arts and Sciences. 99th Academy Awards: Complete Rules, Rule Eighteen—Makeup and Hairstyling Award, 2026. PDF resmi Academy.
  3. Brushstroke Makeup School. “What Is Special Effects (SFX) Makeup? The Complete Guide.” Brushstroke.
  4. James Bennett, Cosmetics and Skin. “Greasepaint.” Memuat rujukan primer dan sekunder dari 1749–1932. Cosmetics and Skin.
  5. Tara Maginnis. “Theatrical Makeup History Resources.” The Costumer’s Manifesto.
  6. Heidi M. Felix dan Leslie V. Simon. “Moulage in Medical Simulation.” StatPearls, pembaruan 26 September 2022. NCBI Bookshelf.
  7. Jessica Stokes-Parish, Brian J. Duvivier, dan Victoria J. Jolly. “Expert Opinions on the Authenticity of Moulage in Simulation.” Advances in Simulation 4, 16 (2019). PubMed Central.
  8. EBSCO Research Starters. “Makeup for the Performing Arts.” EBSCO.
  9. Cinema Makeup School. “Foam Latex vs Silicone: Choosing the Right Material for SFX Prosthetics.” Cinema Makeup School.
  10. Smooth-On. “Makeup Effects.” Informasi teknis mengenai silikon platinum-cure yang aman untuk kulit dan perangkat prostetik. Smooth-On.
  11. Gorton Studio. “What Is a Hybrid Prosthetics Artist and Why Are They in Demand?” 8 Agustus 2020. Gorton Studio.

Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca