Makeup pada pria bukan fenomena baru dan tidak selalu berarti riasan dekoratif yang terlihat jelas. Dalam industri fotografi, televisi, film, periklanan, mode, pernikahan, dan penampilan di depan publik, makeup pria kerap hadir dalam bentuk yang jauh lebih subtil. Wajah tampak segar, warna kulit merata, area bawah mata tidak terlalu gelap, tekstur tetap terlihat natural, dan kilap dapat dikendalikan—tetapi orang yang melihatnya mungkin tidak menyadari bahwa makeup telah digunakan.
Bidang inilah yang dikenal sebagai men’s grooming makeup atau male grooming.
Istilah men’s groomer biasanya merujuk pada profesional yang menangani kesiapan visual pria secara menyeluruh, mulai dari perawatan kulit, makeup, rambut, alis, kumis, hingga janggut. Sementara itu, istilah groom makeup lebih sering digunakan secara khusus untuk makeup pengantin pria. Jika pembahasannya mencakup makeup pria secara umum, men’s grooming makeup merupakan istilah yang lebih tepat.
Apa yang Dimaksud dengan Men’s Grooming Makeup?
Men’s grooming makeup adalah teknik rias wajah yang digunakan untuk memperbaiki tampilan kulit, mengendalikan tekstur dan kilap, menyamarkan ketidaksempurnaan tertentu, serta mempertegas karakter wajah pria sesuai kebutuhan visualnya.
Tujuan utamanya bukan mengubah wajah menjadi karakter baru, melainkan membuat subjek terlihat lebih segar, terawat, proporsional, dan siap dilihat secara langsung maupun melalui kamera.
Dalam tampilan natural, men’s grooming dapat mencakup:
- Mempersiapkan dan menghidrasi kulit.
- Menetralkan kemerahan atau warna kulit tidak merata.
- Menyamarkan bekas jerawat, noda, dan razor bumps.
- Mengurangi tampilan lingkaran gelap di bawah mata.
- Mengoreksi bayangan kebiruan atau keabu-abuan dari janggut.
- Mengendalikan minyak dan pantulan cahaya.
- Menata alis tanpa mengubah bentuknya secara berlebihan.
- Merapikan kumis, janggut, cambang, dan garis rambut.
- Mengembalikan warna sehat pada kulit dan bibir.
Namun, men’s grooming tidak harus selalu tidak terlihat. Untuk editorial, musik, fashion show, atau red carpet, riasan pria dapat dikembangkan menjadi eyeliner, blush, contour, warna bibir, glitter, hingga bentuk grafis. Allure mencatat bahwa perkembangan profesi men’s groomer kini tidak lagi terbatas pada concealer dan bedak. Para artis pria mulai menggunakan makeup sebagai bagian dari karakter, mode, dan ekspresi identitas. Allure—Melissa DeZarate Is a Men’s Groomer for a New Generation
Dengan demikian, “natural” merupakan salah satu bentuk men’s grooming, bukan satu-satunya kemungkinan.
Makeup Pria Bukan Tren yang Sepenuhnya Baru
Penggunaan kosmetik oleh pria sebenarnya memiliki sejarah panjang di Barat. Sejarawan Alun Withey menjelaskan bahwa pasar kosmetik khusus pria di Inggris mulai berkembang pada pertengahan abad ke-18, ketika kebersihan, rambut, pencukuran, dan penyempurnaan penampilan menjadi bagian penting dari identitas kelas sosial tertentu. The Guardian—18th-Century Men Were First to Make Up
Dalam kebudayaan modern, penggunaan makeup pada pria kemudian terlihat dalam teater, Hollywood, glam rock, punk, fashion, dan industri musik. David Bowie, Prince, Freddie Mercury, dan Billy Idol memperlihatkan bahwa makeup dapat menjadi alat pembentuk persona, bukan sekadar sarana menutupi kekurangan.
Di balik layar, aktor, model, pembawa acara, musisi, dan figur publik pria juga telah lama menggunakan complexion, concealer, brow gel, bronzer, serta powder. Perbedaannya, hasil makeup tersebut sering disebut grooming karena dibuat seolah-olah tidak ada produk yang menempel pada wajah.
British GQ mencatat bahwa makeup artist telah lama menangani wajah pria untuk runway, pemotretan, dan red carpet—terutama untuk menyamarkan lingkaran mata, kemerahan, bekas jerawat, serta membuat kulit lebih siap menghadapi kamera. British GQ—The Best Men’s Makeup for Peak Handsome Grooming
Memahami Kulit Pria Sebelum Memulai Makeup
Men’s grooming bukan sekadar menggunakan foundation lebih tipis. Makeup artist tetap harus membaca kondisi kulit setiap klien secara individual.
Kajian dermatologi menunjukkan bahwa secara umum terdapat perbedaan fisiologis antara kulit pria dan perempuan, antara lain dalam produksi sebum, pertumbuhan rambut, aktivitas keringat, metabolisme hormon, dan pH permukaan kulit. Namun, perbedaan tersebut merupakan kecenderungan populasi, bukan aturan yang berlaku sama pada setiap orang. PubMed—Gender-Linked Differences in Human Skin
Karena itu, makeup artist tidak boleh langsung menganggap seluruh kulit pria pasti tebal dan berminyak. Ada pria dengan kulit kering, sensitif, dehidrasi, berjerawat, matang, atau mengalami iritasi akibat pencukuran.
Beberapa kondisi yang perlu diperiksa sebelum aplikasi antara lain:
- Produksi minyak di dahi, hidung, pipi, dan kepala.
- Kulit mengelupas di sekitar hidung atau janggut.
- Jerawat aktif dan bekas hiperpigmentasi.
- Luka kecil akibat bercukur.
- Kemerahan dan razor burn.
- Tekstur kasar atau pori yang terlihat.
- Bayangan janggut setelah bercukur.
- Perbedaan warna antara wajah, leher, telinga, dan kepala.
- Sensitivitas terhadap skincare atau kosmetik tertentu.
Pemeriksaan tersebut menentukan apakah kulit membutuhkan hidrasi, kontrol minyak, koreksi warna, atau hanya sedikit concealer.
Skin Preparation: Fondasi dari Hasil yang Natural
Kesalahan paling umum pada men’s grooming adalah mencoba memperoleh kulit natural dengan mengurangi foundation, tetapi mengabaikan persiapan kulit. Padahal, semakin baik kondisi permukaan kulit, semakin sedikit produk complexion yang diperlukan.
Vogue mengutip sejumlah profesional men’s groomer yang menempatkan skin preparation sebagai tahap terpenting. Kulit yang seimbang dan terhidrasi membantu complexion menyatu, bukan sekadar duduk di permukaan wajah. Vogue—A Beginner’s Guide to Undetectable Men’s Makeup
Tahap persiapannya dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Membersihkan kulit
Bersihkan minyak, keringat, sisa skincare, dan kotoran dengan produk yang tidak membuat kulit tertarik atau terlalu kesat. Micellar water dapat digunakan untuk kebutuhan cepat, tetapi kulit tetap perlu dikeringkan sebelum aplikasi berikutnya.
2. Menenangkan kulit setelah bercukur
Kulit yang baru dicukur dapat lebih sensitif karena pencukuran juga menghasilkan eksfoliasi mekanis. Jika terdapat kemerahan, hindari toner beralkohol tinggi, scrub, atau skincare aktif yang berpotensi menambah iritasi.
Klien yang mudah mengalami razor burn sebaiknya tidak dipaksa melakukan pencukuran terlalu dekat sesaat sebelum makeup. Karakter janggut dapat dipertahankan dan dirapikan apabila pencukuran justru memperburuk kondisi kulit.
3. Menghidrasi sesuai kebutuhan
Gunakan moisturizer secukupnya, terutama di bawah mata, sekitar mulut, dan area yang mengelupas. Pada kulit berminyak, pilih tekstur ringan dan jangan menghilangkan hidrasi sepenuhnya. Kulit yang dehidrasi dapat menghasilkan lebih banyak minyak sekaligus membuat foundation mudah pecah.
4. Menggunakan primer secara strategis
Primer tidak harus diaplikasikan ke seluruh wajah. Mattifying primer dapat ditempatkan hanya pada area yang cepat berminyak, sedangkan hydrating atau smoothing primer digunakan pada area yang membutuhkan. Teknik zonal seperti ini mempertahankan dimensi alami kulit dan menghindari hasil yang terlalu rata.
Biarkan seluruh skincare menyerap sebelum complexion diaplikasikan. Lapisan skincare yang terlalu tebal dapat menyebabkan foundation bergeser atau menggumpal.
Color Correction: Menetralkan Warna Sebelum Menambah Coverage
Pada men’s grooming, color correction sering lebih efektif dibandingkan menutup seluruh wajah dengan foundation berlapis-lapis. Tujuannya adalah menetralkan perubahan warna secara lokal sehingga jumlah complexion dapat dikurangi.
Lingkaran gelap di bawah mata
Area bawah mata tidak selalu harus dibuat terang. Menghapus seluruh bayangan dapat mengubah struktur wajah dan membuat hasilnya terlihat tidak natural. Koreksi hanya warna biru, ungu, atau kecokelatan yang membuat wajah terlihat lelah.
Gunakan peach atau salmon untuk complexion terang hingga medium, kemudian sesuaikan menuju orange atau merah-oranye untuk complexion yang lebih dalam. Jumlahnya harus tipis. Corrector yang terlalu terang akan menghasilkan area abu-abu, sedangkan warna yang terlalu pekat akan muncul dari balik concealer.
Beard shadow
Meskipun sudah dicukur, akar rambut dapat menghasilkan bayangan biru, hijau, atau abu-abu di sekitar rahang, dagu, dan atas bibir. Apabila brief membutuhkan tampilan clean-shaven, bayangan tersebut dapat dinetralkan menggunakan corrector hangat.
Untuk kulit terang, gunakan peach secara tipis. Pada kulit medium hingga gelap, gunakan orange atau merah-oranye yang disesuaikan dengan kedalaman kulit. Allure juga mencatat bahwa korektor hangat membantu menetralkan bayangan dingin dari rambut wajah sebelum foundation diaplikasikan. Allure—Applying Foundation Around Facial Hair
Namun, beard shadow tidak selalu harus dihilangkan. Dalam headshot karakter, fashion pria, atau film, bayangan tersebut mungkin justru menjadi bagian dari identitas subjek.
Kemerahan dan bekas jerawat
Corrector hijau dapat digunakan sangat tipis pada kemerahan, sedangkan corrector bernuansa kuning atau peach dapat membantu menetralkan bekas jerawat tertentu. Hindari menutupi seluruh wajah dengan warna koreksi karena hasilnya mudah terlihat pucat dan tidak berdimensi.
Membangun Complexion tanpa Menghilangkan Karakter Wajah
Prinsip penting dalam men’s grooming adalah mengoreksi tanpa menyeragamkan seluruh wajah. Kulit manusia secara alami mempunyai variasi warna pada dahi, pipi, rahang, dan area janggut. Jika seluruh warna tersebut dibuat identik, wajah kehilangan dimensi dan terlihat seperti memakai topeng.
Menentukan warna complexion
Pilih warna berdasarkan pertemuan wajah, rahang, dan leher—bukan hanya berdasarkan satu titik di pipi. Perhatikan juga undertone serta warna dada apabila bagian tersebut terlihat dalam pakaian.
Pada beberapa orang, satu warna foundation tidak cukup. Wajah dapat lebih gelap atau kemerahan daripada leher, sedangkan area janggut terlihat lebih dingin. Mencampur dua warna sering menghasilkan transisi yang lebih baik daripada memaksakan satu shade ke seluruh wajah.
Makeup artist Amber Amos, misalnya, mencampur dua shade foundation untuk complexion Daniel Kaluuya agar kulitnya tetap hangat dan tidak terlihat abu-abu di bawah sorotan kamera serta lampu kilat. Teen Vogue—Daniel Kaluuya’s Oscars Grooming
Menggunakan lapisan setipis mungkin
Mulailah dengan skin tint, tinted moisturizer, atau foundation bertekstur ringan. Aplikasikan dari bagian tengah wajah—sekitar hidung, pipi bagian dalam, dan dagu—kemudian baurkan ke arah luar.
Bagian wajah yang tidak memerlukan koreksi tidak harus mendapat foundation dalam jumlah yang sama. Teknik ini membuat freckles, tekstur, dan variasi kulit tetap terlihat sehingga hasilnya lebih meyakinkan.
Vogue menjelaskan bahwa tinted moisturizer efektif untuk men’s grooming karena pigmentasinya lebih ringan dan lebih mudah menyatu dengan variasi warna kulit. Kuncinya adalah aplikasi tipis dan hanya pada area yang dibutuhkan.
Spot concealing
Setelah lapisan tipis complexion, gunakan concealer tepat pada noda, jerawat, bekas luka, atau area gelap. Pilih concealer yang benar-benar menyerupai warna kulit untuk noda wajah. Concealer yang lebih terang hanya digunakan secara terukur pada area tertentu.
Aplikasikan dengan kuas kecil, kemudian baurkan hanya pada bagian tepinya. Jika seluruh concealer digosok, coverage akan berpindah dan noda kembali terlihat.
Mempertahankan tekstur
Natural skin finish bukan berarti kulit tanpa pori. Kamera modern dapat menangkap produk yang terlalu tebal, terutama pada janggut, garis senyum, dan kulit yang bertekstur.
Gunakan kuas untuk mendistribusikan produk, kemudian tekan dengan sponge bersih untuk mengangkat kelebihan complexion. Gerakan menekan juga lebih aman daripada menggeser produk berulang kali di atas jerawat atau corrector.
Mengendalikan Kilap tanpa Membuat Wajah Mati
Men’s grooming sering disalahartikan sebagai proses membuat seluruh wajah matte. Padahal, kulit yang sepenuhnya tanpa pantulan dapat terlihat kering, berat, dan tidak hidup.
Bedakan antara healthy sheen dan minyak yang memantulkan lampu secara berlebihan. Kilap di puncak pipi dapat memberikan dimensi, sedangkan minyak di dahi, sisi hidung, atas bibir, dagu, dan kepala botak mungkin perlu dikendalikan.
Gunakan powder secara selektif dengan puff atau kuas kecil. Tekan produk pada area berminyak tanpa menyapu seluruh wajah berulang kali. Untuk touch-up, angkat minyak terlebih dahulu menggunakan blotting paper, kemudian tambahkan powder bila masih diperlukan. Menumpuk powder langsung di atas minyak dapat menghasilkan lapisan menggumpal.
Pada complexion medium hingga gelap, pilih powder yang tidak meninggalkan lapisan putih atau abu-abu. Lakukan tes foto dengan lampu kilat sebelum subjek meninggalkan kursi makeup.
Flashback tidak semata-mata disebabkan oleh SPF. Silica dalam beberapa translucent atau HD powder dapat memantulkan cahaya lampu kilat apabila digunakan terlalu banyak. Karena itu, jenis powder dan jumlah aplikasinya harus diuji dalam kondisi pencahayaan yang akan digunakan. Lab Muffin Beauty Science—Why Makeup Flashback Happens
Contour, Bronzer, dan Warna pada Wajah Pria
Tidak ada satu bentuk contour yang otomatis membuat semua wajah terlihat lebih maskulin. Setiap orang memiliki struktur tulang, proporsi, ekspresi, identitas, dan kebutuhan visual yang berbeda.
Dalam men’s grooming natural, contour lebih tepat digunakan untuk mengembalikan dimensi yang berkurang setelah aplikasi complexion. Gunakan warna netral atau sedikit dingin secara tipis di bawah tulang pipi, sisi wajah, pelipis, atau rahang bila memang diperlukan.
Bronzer dapat mengembalikan kehangatan, terutama ketika foundation membuat wajah terlihat pucat di bawah cahaya. Aplikasikan secara transparan pada bagian wajah yang secara alami terkena matahari. Hindari garis cokelat yang terlalu tegas karena akan terlihat seperti lapisan makeup, bukan struktur wajah.
Blush juga tidak terlarang dalam makeup pria. Warna beige-rose, terracotta, muted peach, atau kemerahan natural dapat mengembalikan sirkulasi visual pada wajah. Pilihan warna ditentukan oleh complexion dan konsep, bukan oleh anggapan bahwa pria tidak boleh terlihat memiliki warna di pipi.
Alis, Mata, dan Bibir
Alis
Sisir alis sesuai arah tumbuhnya. Pangkas hanya rambut yang benar-benar keluar dari bentuk dan isi bagian kosong dengan goresan menyerupai rambut.
Jangan menggambar batas alis yang keras apabila brief menginginkan hasil natural. Clear brow gel atau tinted brow gel dapat digunakan untuk menjaga bentuk sekaligus membuat alis terlihat lebih penuh.
Mata
Kemerahan pada kelopak, garis mata, atau sudut dalam dapat dinetralkan secara tipis. Concealer tidak perlu menutupi seluruh kelopak karena dapat membuat mata kehilangan kedalaman.
Untuk definisi tambahan, gunakan pensil cokelat atau hitam di antara akar bulu mata, bukan sebagai garis tebal di atasnya. Mascara bening, cokelat, atau hitam dapat dipilih berdasarkan konsep. Pada makeup natural, tidak semua klien membutuhkan mascara.
Bibir
Bibir perlu dihidrasi sejak tahap awal agar balm sempat menyerap. Sebelum pengambilan gambar, angkat kelebihan balm agar tidak memantulkan cahaya secara berlebihan.
Jika warna bibir tidak merata, gunakan lip tint, concealer, atau lip pencil dengan warna yang mendekati warna alami bibir. Tujuannya bukan menciptakan garis bibir baru, melainkan mengembalikan warna sehat dan definisi yang hilang.
Menangani Kumis, Janggut, dan Garis Rambut
Foundation yang menumpuk pada janggut akan terlihat sebagai residu putih atau cokelat. Baurkan complexion hingga batas rambut, tetapi jangan memenuhi helaian janggut dengan produk.
Apabila produk telanjur masuk ke dalam rambut, bersihkan menggunakan spoolie kering atau spoolie yang diberi sedikit micellar water. Tinted brow gel atau produk khusus facial hair dapat digunakan untuk menyamarkan bagian yang kosong, tetapi warnanya harus mengikuti akar rambut—bukan hanya warna rambut yang terlihat di permukaan.
Garis rambut, cambang, dan janggut perlu diperiksa dari jarak dekat. Produk yang tidak dibaurkan pada area ini mudah terlihat melalui kamera beresolusi tinggi.
Untuk kepala botak atau rambut sangat tipis, periksa pantulan cahaya di seluruh kepala. Jangan hanya memberi powder pada wajah karena perbedaan finish antara wajah dan kepala akan terlihat. Telinga, leher, dan dada juga perlu diperiksa agar tidak muncul sebagai bagian dengan warna serta tingkat kilap yang berbeda.
Menyesuaikan Teknik dengan Kebutuhan Produksi
Men’s grooming tidak mempunyai satu formula untuk semua pekerjaan.
Pernikahan
Makeup pengantin pria harus tahan terhadap panas, keringat, lampu kilat, pelukan, dan durasi acara. Complexion perlu dibuat natural, tetapi memiliki daya tahan yang cukup. Warna wajah tidak harus disamakan dengan makeup pengantin; yang dibutuhkan adalah keseimbangan ketika keduanya difoto bersama.
Corporate dan headshot
Fokusnya adalah kulit yang sehat, mata yang tidak terlihat terlalu lelah, rambut rapi, dan kontrol kilap. Hindari contour berlebihan karena foto profesional harus tetap menyerupai wajah asli klien.
Film dan televisi
Makeup harus disesuaikan dengan karakter, pencahayaan, lensa, white balance, dan kesinambungan antarscene. Wajah tidak selalu harus dibuat lebih tampan. Bekas jerawat, kemerahan, janggut, atau kelelahan mungkin perlu dipertahankan apabila sesuai cerita.
Red carpet
Complexion harus bekerja pada dua keadaan sekaligus: terlihat baik secara langsung dan bertahan menghadapi kamera beresolusi tinggi serta lampu kilat. Kehangatan kulit, dimensi, dan tes flash menjadi sangat penting.
Editorial dan fashion
Men’s grooming dapat bergerak melampaui natural makeup. Eyeliner, warna, tekstur basah, glitter, alis yang diputihkan, hingga complexion eksperimental dapat digunakan sebagai bahasa visual. Pada konteks ini, tujuan makeup bukan menyembunyikan keberadaannya, melainkan memperkuat konsep.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Beberapa kesalahan yang membuat men’s grooming terlihat berat antara lain:
- Menganggap semua kulit pria pasti berminyak dan harus dibuat matte.
- Menggunakan foundation full coverage di seluruh wajah sebelum mencoba color correction.
- Memilih concealer bawah mata terlalu terang.
- Menghilangkan seluruh beard shadow tanpa mempertimbangkan karakter wajah.
- Menggunakan powder putih terlalu banyak pada complexion gelap.
- Membiarkan foundation menumpuk pada janggut, alis, dan garis rambut.
- Membuat contour serta alis terlalu tegas.
- Tidak menyamakan finish wajah dengan telinga, leher, atau kepala.
- Tidak melakukan tes di bawah pencahayaan dan kamera yang digunakan.
- Menganggap makeup pria harus selalu tidak terlihat atau selalu mempertahankan bentuk maskulin tertentu.
Men’s Grooming Bukan “Makeup Perempuan yang Dikurangi”
Perbedaan utama men’s grooming tidak terletak pada produk berlabel pria atau perempuan. Foundation, concealer, corrector, dan powder tidak memiliki gender. Hal yang lebih penting adalah warna, formula, finish, kondisi kulit, karakter wajah, serta tujuan penggunaannya.
Men’s grooming juga tidak seharusnya dibatasi oleh gagasan bahwa setiap klien pria ingin terlihat lebih keras atau lebih maskulin. Sebagian menginginkan hasil nyaris tak terlihat, sebagian ingin kulit lebih bercahaya, dan sebagian lainnya ingin mengeksplorasi warna serta bentuk.
Tugas makeup artist adalah membaca brief, wajah, pencahayaan, dan kenyamanan klien. Keahlian men’s grooming justru terlihat ketika setiap koreksi mempunyai alasan dan tidak ada produk yang diaplikasikan hanya karena menjadi bagian dari kebiasaan.
Kesimpulan
Men’s grooming makeup merupakan seni mengelola detail. Complexion tidak dibangun untuk menghapus seluruh tekstur, tetapi untuk menciptakan keseimbangan antara warna kulit, dimensi wajah, karakter, dan kebutuhan kamera.
Hasil yang natural bukan berarti tidak menggunakan makeup. Di balik wajah pria yang tampak segar di red carpet, iklan, televisi, film, pernikahan, atau pemotretan, mungkin terdapat skincare, color corrector, foundation, concealer, bronzer, powder, brow gel, dan lip balm yang diaplikasikan dengan sangat terukur.
Keberhasilannya bukan dinilai dari seberapa sedikit produk yang digunakan, melainkan dari seberapa tepat produk ditempatkan. Men’s grooming yang baik tidak menghilangkan identitas wajah. Ia memperbaiki gangguan visual, mempertahankan karakter, dan membuat subjek tetap terlihat sebagai dirinya sendiri—hanya dalam versi yang lebih terawat, seimbang, dan camera-ready.
Referensi
- Vogue—A Beginner’s Guide to Undetectable Men’s Makeup
- Allure—Melissa DeZarate Is a Men’s Groomer for a New Generation
- Allure—How to Apply Makeup on Top of or Around a Beard
- Allure—Rami Malek’s Red-Carpet Complexion
- British GQ—The Best Men’s Makeup for Peak Handsome Grooming
- GQ—The Glorious Now of Men in Makeup
- PubMed—Gender-Linked Differences in Human Skin
- Skin Therapy Letter—Male Skin Care
- Teen Vogue—Daniel Kaluuya’s Oscars Grooming
- Lab Muffin Beauty Science—Why Makeup Flashback Happens
- The Guardian—18th-Century Men Were First to Make Up

Tinggalkan Balasan