Bagaimana Mungkin Aku Mencintai Orang Baru Jika Hatiku Masih Terjebak di Masa Lalu?Ada orang-orang yang datang dalam hidup kita bukan untuk tinggal selamanya, melainkan meninggalkan jejak yang begitu dalam hingga kepergiannya mengubah cara kita mencintai.
Aku sedang berada di posisi itu sekarang.
Waktu terus berjalan. Kalender berganti. Hari demi hari berlalu. Namun, kenangan tentangmu tetap tinggal, seolah waktu hanya bergerak untuk semua orang kecuali hatiku.
Orang-orang di sekitarku mulai berkata bahwa sudah saatnya aku membuka hati lagi. Mungkin memang ada seseorang yang sedang berusaha mengenalku. Ia baik. Mungkin juga tulus. Hanya saja, ia datang pada waktu yang kurang tepat. Sebab sebagian dari diriku masih tertinggal di masa lalu. Dan itu adalah satu kenyataan yang bahkan tidak pernah ia ketahui.
Hatiku belum benar-benar kosong.
Banyak orang mengira melupakan seseorang berarti berhenti menangisinya. Padahal aku bahkan tidak pernah menangis. Bukan karena aku tidak terluka, melainkan karena rasa sakit itu tidak pernah memilih jalan keluar melalui air mata. Ia menetap di dalam kepala, memenuhi setiap sudut pikiranku, dan menjadi percakapan yang tak pernah selesai antara logika yang ingin melepaskan dan hati yang masih bertahan.
Di satu sisi aku berusaha menerima bahwa semuanya telah selesai. Di sisi lain, tanpa sadar aku masih membandingkan setiap senyum orang baru dengan senyum seseorang yang telah pergi. Aku memang sudah bisa tertawa bersama orang lain, tetapi diam-diam masih berharap suatu hari nanti masa lalu itu kembali mengetuk pintu. Barangkali itulah yang paling menyakitkan.
Yang membuat seseorang sulit mencintai lagi bukan selalu karena ia masih menginginkan mantannya kembali. Sering kali yang ia rindukan bukan hanya sosoknya, melainkan versi dirinya ketika masih bersama orang itu. Perasaan aman. Kebiasaan-kebiasaan kecil. Percakapan yang tidak membutuhkan penjelasan panjang. Cara saling memahami tanpa harus banyak bicara. Semua itu perlahan berubah menjadi rumah yang diam-diam dibangun oleh kenangan di dalam hati.
Lalu datanglah seseorang yang baru.
Masalahnya bukan karena ia kurang baik. Justru mungkin ia jauh lebih dewasa, lebih perhatian, dan lebih mampu menghargai orang lain. Namun, bagaimana mungkin seseorang bisa masuk ke dalam ruangan yang masih penuh oleh barang-barang lama yang bahkan belum pernah kubereskan? Bukan berarti cinta yang baru tidak cukup besar. Hanya saja, ruangnya memang belum tersedia.
Banyak orang menjadikan hubungan baru sebagai pelarian. Mereka berharap luka lama akan hilang dengan sendirinya ketika ada seseorang yang menggantikannya. Sayangnya, luka yang ditutupi bukanlah luka yang sembuh. Ia hanya berhenti terlihat, lalu suatu hari muncul kembali ketika hubungan mulai diuji.
Aku bahkan belum sampai di tahap itu. Aku masih berada di fase pendekatan. Dan justru di sinilah ketakutanku dimulai.
Aku takut menjadikan seseorang yang baru membayar kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Aku takut terus membandingkannya dengan seseorang yang bahkan tidak pernah ia kenal. Aku takut berharap ia mampu menyembuhkan luka yang bukan ia ciptakan. Padahal, itu bukan tanggung jawabnya.
Cinta bukan perlombaan tentang siapa yang datang lebih dulu atau lebih akhir. Cinta adalah tentang kesiapan.
Mungkin seseorang memang bisa menjalin hubungan baru sambil membawa kenangan lama. Namun, hubungan itu akan selalu terasa timpang ketika sebagian hatinya masih menetap di masa lalu. Tubuhnya hadir, tetapi emosinya masih tinggal di tempat lain.
Tidak ada yang salah dengan mengenang. Yang menjadi masalah adalah ketika kenangan itu mulai menentukan bagaimana kita memperlakukan orang yang sedang berusaha mencintaiku hari ini.
Melepaskan bukan berarti menghapus semua ingatan. Aku tidak mungkin menghapus sebagian perjalanan hidupku sendiri. Yang perlu kulakukan hanyalah menerima bahwa cerita itu telah selesai. Ia mungkin pernah menjadi bab paling indah. Atau justru bab yang paling menyakitkan. Tetapi sebuah buku tidak berhenti hanya karena satu bab telah usai.
Aku percaya, suatu hari nanti akan datang seseorang yang tidak memintaku melupakan masa lalu dalam semalam. Ia hanya berharap ketika aku memilihnya, aku benar-benar memilihnya. Bukan sebagai pengganti seseorang. Bukan sebagai pelarian dari kesepian. Melainkan sebagai awal dari kisah yang memang pantas diperjuangkan.
Aku ingin bisa mencintainya dengan utuh. Bukan dengan hati yang masih memanggil namamu. Bukan dengan pikiran yang masih mencari alasan kepergianmu. Bukan dengan harapan bahwa suatu hari nanti kamu akan kembali. Sebab itu tidak adil baginya. Dan mungkin juga tidak adil bagi diriku sendiri.
Karena pada akhirnya, mencintai orang lain bukan dimulai ketika kita menemukan orang yang tepat. Melainkan ketika hati kita akhirnya berani berhenti tinggal di masa lalu.
Tetapi aku belum mampu.
Aku masih terjebak dalam bayang-bayangmu.
Masih mencari jawaban yang mungkin tidak akan pernah kudapatkan.
Satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku:
Mengapa kamu memilih pergi, ketika kita masih bisa memperjuangkan semuanya bersama?
Jika memang dalam pandanganmu aku telah melakukan kesalahan, setidaknya berilah aku satu kesempatan untuk memperbaikinya. Aku tidak pernah meminta agar semua kesalahan dihapus begitu saja. Aku hanya berharap diberi kesempatan untuk memperjuangkannya, sama seperti aku yang tidak pernah memilih pergi ketika keadaan menjadi sulit.
Aku tidak terluka karena dikhianati.
Aku terluka karena ditinggalkan.
Karena pada saat aku masih memilih bertahan dan percaya bahwa hubungan ini layak diperjuangkan, kamu justru memilih melepaskannya.
Dan menerima kenyataan bahwa hanya aku yang masih ingin berjuang…
Jauh lebih menyakitkan daripada perpisahan itu sendiri.
— Zeffazetira

Tinggalkan Balasan