Cover cacatan harian zeffa

Kepingan yang Kembali Kususun

Mungkin ini adalah titik balik di mana aku harus mengawali semuanya dari awal.

Aku tidak butuh uluran tangan atau rangkulan. Aku masih mampu bangkit dan berdiri.

Memang benar, aku merasa ditinggalkan dan kehilangan keyakinan. Di satu titik, aku harus kembali menata dan menyusun kepingan-kepingan kepercayaan yang mulai memudar itu. Ini bukan disebabkan oleh satu subjek. Justru semua hal yang terjadi secara berulang menjadi faktor terkuatnya.

Aku tidak lemah. Namun, sebagai manusia, terkadang ada posisi terendah, where I have to deal with it.

Sebagian mungkin mengira aku berbuat serong, atau menganggap persoalannya sesederhana itu. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Ini bukan tentang siapa yang menyelingkuhi siapa. Sejujurnya, prasangka itu justru yang paling keliru.

Hubungan adalah tentang dua orang yang sama-sama memilih untuk terus berjalan. Bukan tentang siapa yang paling sempurna, melainkan siapa yang tetap bersedia bertahan ketika keadaan mulai terasa berat. Sayangnya, ada masa ketika aku mulai merasa langkah kami tidak lagi berjalan berdampingan. Aku masih terus berusaha menjaga arah, sementara ia perlahan semakin sulit kugapai.

Selama ini aku sering berada di posisi yang tidak kusadari. Bukan hanya sebagai pasangan, tetapi juga sebagai orang yang terus memastikan hubungan ini tetap berjalan. Aku yang lebih dulu menghubungi ketika komunikasi mulai menjauh. Aku yang mengatur rencana, memastikan semuanya berjalan baik, berusaha memahami ketakutannya, menenangkan kegelisahannya, bahkan mencoba menerima kekurangannya tanpa pernah menjadikannya alasan untuk berhenti mencintai.

Aku tidak pernah menganggap semua itu sebagai pengorbanan. Bagiku, itulah bentuk cinta. Namun lambat laun aku mulai bertanya kepada diriku sendiri, apakah hubungan ini masih benar-benar sedang kami jalani bersama, atau diam-diam aku mulai memikul sebagian besar bebannya sendirian.

Sekarang hanya ada dua pilihan yang paling nyata di depan mata: berpura-pura baik-baik saja, atau bercerita kepada siapa pun yang bersedia membaca.

Dan aku memilih menulis.

Bukan karena aku berharap akan ada seseorang yang datang membawa jawaban. Aku juga tidak sedang mencari pembenaran atas apa yang terjadi. Menulis hanyalah satu-satunya cara yang masih bisa membuat pikiranku tetap utuh ketika semuanya terasa berantakan.

Aku sadar, setiap orang hanya melihat potongan-potongan cerita. Mereka menyusun kesimpulan dari apa yang tampak, sementara bagian yang paling menyakitkan sering kali tidak pernah terlihat. Mungkin itu sebabnya aku memilih bungkam selama ini. Bukan karena tidak mampu menjelaskan, melainkan karena lelah mengulang kisah yang pada akhirnya tetap akan dipahami sesuai sudut pandang masing-masing.

Bukan untuk pertama kalinya aku harus belajar menerima bahwa tidak semua kehilangan lahir karena kurangnya cinta. Ada yang berakhir bukan karena hadirnya orang lain, melainkan karena perlahan rasa aman mulai menghilang.

Hal-hal kecil yang mungkin tampak sepele bagi orang lain berubah menjadi luka yang terus bertambah. Pesan yang tidak dibalas. Rencana yang berubah tanpa kepastian. Percakapan yang berhenti di tengah jalan. Permintaan maaf yang berulang tanpa benar-benar menyelesaikan akar persoalan. Semua itu mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri. Namun ketika terus terjadi, luka-luka kecil itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada satu pertengkaran.

Banyak yang mungkin akan bertanya, “Apa dia selingkuh?” atau “Apa kamu melakukan kesalahan besar?”

Seandainya sesederhana itu, mungkin aku tidak akan sesulit ini menerima kenyataan.

Tidak.

Hubungan ini tidak berakhir karena hadirnya orang ketiga. Tidak ada pengkhianatan yang selama ini dibayangkan banyak orang. Yang perlahan membunuh hubungan ini justru akumulasi dari luka-luka kecil yang dibiarkan menumpuk, percakapan yang tak pernah benar-benar selesai, dan rasa lelah karena terus berusaha menjaga sesuatu yang mulai terasa semakin tidak seimbang.

Ironisnya, ketika semuanya berakhir, aku justru ditempatkan sebagai tokoh antagonis dalam cerita yang juga pernah kujalani sepenuh hati.

Aku pernah berdiri di garis paling depan ketika orang-orang mempertanyakan orientasi seksualnya. Ketika teman-temannya menghakimi, aku memilih membela. Aku memilih menjadi tempat yang aman ketika dunia di luar terasa begitu bising. Aku mengingat hal-hal kecil yang ia sukai, menghindari apa yang membuatnya tidak nyaman, lebih sering mengalah daripada memaksakan kehendakku sendiri. Bagiku, mencintai bukan hanya tentang kata-kata manis, tetapi tentang perhatian terhadap hal-hal yang sering kali dianggap sepele.

Namun pada akhirnya, semua itu seolah tidak pernah ada.

Yang tersisa justru kalimat-kalimat yang menghapus seluruh kenangan baik.

“Aku tarik semua kata-kata manis yang pernah kuberikan ke kamu.”

“Aku menyesal pernah menerima kamu di kehidupanku.”

Aku membaca kalimat itu bukan hanya sebagai akhir sebuah hubungan, melainkan seolah seluruh keberadaanku ikut dihapus bersamanya. Seakan semua perhatian, pengorbanan, usaha, dan cinta yang pernah kuberikan tidak pernah memiliki arti sedikit pun.

Mungkin ia juga lupa bahwa pernah ada masa ketika kata-kata dan sikapnya menyudutkanku hingga aku nyaris mengakhiri hidupku sendiri.

Saat itu aku sedang bertarung dengan gangguan mental yang datang bertumpuk. Setiap hari adalah perjuangan untuk tetap bertahan. Namun di tengah kondisi itu, aku justru dihadapkan pada tekanan yang membuat semuanya terasa jauh lebih berat.

Ada satu hari yang sampai sekarang masih sulit kulupakan. Kepalaku dipenuhi rasa putus asa yang bercampur dengan ketakutan kehilangan. Untuk beberapa saat, aku kehilangan kemampuan berpikir dengan jernih. Dalam keadaan itu, aku nyaris mengambil keputusan yang bisa mengakhiri hidupku sendiri.

Hari itu menjadi salah satu titik tergelap dalam hidupku. Bukan semata karena hubungan kami sedang berada di ambang perpisahan, melainkan karena untuk pertama kalinya aku menyadari betapa rapuhnya diriku sendiri.

Aku tidak sedang mencari perhatian. Aku sedang kehilangan harapan.

Aku bersyukur peristiwa itu tidak benar-benar merenggut nyawaku. Namun pengalaman itu meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada yang terlihat. Sejak saat itu aku mengerti bahwa seseorang yang sedang berjuang melawan gangguan mental tidak membutuhkan ujian untuk membuktikan cintanya. Yang ia butuhkan adalah rasa aman, ruang untuk bernapas, dan keyakinan bahwa ia tidak sedang berjuang sendirian.

Sayangnya, rasa aman itulah yang pada saat itu justru paling sulit kutemukan.

Ketika akhirnya aku mempertanyakan semua itu, jawaban yang kuterima hanya satu kalimat.

“Aku hanya ingin mengetes apakah kamu benar-benar mencintaiku.”

Sampai hari ini, itu masih menjadi salah satu pernyataan paling ceroboh yang pernah kudengar.

Karena cinta tidak seharusnya diuji dengan cara menghancurkan seseorang. Terlebih ketika orang yang sedang diuji sebenarnya sedang berjuang mempertahankan hidupnya sendiri.

Namun aku juga tidak ingin berpura-pura menjadi manusia tanpa kekurangan.

Aku tahu aku bukan pasangan yang mudah. Gangguan kecemasan membuatku sering bereaksi lebih besar daripada yang mungkin dipahami orang lain. Ada saat-saat ketika pikiranku dipenuhi kemungkinan terburuk sebelum kenyataan benar-benar terjadi. Ada kalanya emosiku terlambat menemukan jalan pulang.

Tetapi aku selalu percaya bahwa kekurangan bukan alasan untuk berhenti saling memahami. Hubungan bukan tempat mencari manusia yang sempurna, melainkan ruang di mana dua orang belajar menerima, memperbaiki, dan bertumbuh bersama.

Anehnya, aku tidak membalas luka itu dengan kebencian.

Aku justru belajar.

Aku belajar bahwa mencintai seseorang berarti menerima lebih dan kurangnya. Aku belajar bahwa tidak ada manusia yang sepenuhnya sempurna, dan hubungan bukan tempat untuk mencari kesempurnaan.

Sayangnya, pelajaran itu terasa tidak selalu berjalan dua arah.

Aku merasa terus dituntut menjadi seseorang yang nyaris tanpa cela. Seolah satu kesalahan mampu menghapus seribu hal baik yang pernah kulakukan.

Padahal kesempurnaan tidak pernah lahir dari tuntutan.

Kesempurnaan tumbuh karena diciptakan.

Ia dibangun oleh dua orang yang sama-sama belajar, sama-sama menerima, sama-sama memperbaiki diri, dan sama-sama memilih bertahan ketika keadaan tidak lagi mudah.

Hari ini aku tidak sedang menulis untuk membuat siapa pun berpihak kepadaku.

Aku juga tidak sedang berusaha membuktikan bahwa akulah korban, sementara yang lain adalah pelaku.

Setiap orang pasti memiliki versinya sendiri tentang sebuah perpisahan.

Ini hanyalah versiku.

Versi seseorang yang pernah mencintai dengan seluruh kemampuan yang ia miliki, namun akhirnya harus menerima bahwa cinta saja tidak selalu cukup untuk membuat dua orang tetap berjalan ke arah yang sama.

Mungkin sebagian dari kalian pernah melihat kebodohan yang sempat kupublikasikan beberapa waktu lalu.

Ya, itu memang aku.

Aku tidak akan mencari pembenaran. Saat itu aku sedang kacau. Aku marah, aku kecewa, aku terluka, dan untuk sesaat aku kehilangan kendali atas diriku sendiri.

Hari ini aku menyesali semua itu. Luka bukan alasan untuk melukai, bahkan ketika yang paling terluka adalah diri kita sendiri.

Jika ada satu hal yang kupelajari dari semua ini, itu adalah bahwa cinta memang bisa berakhir, tetapi kemanusiaan tidak boleh ikut berakhir bersamanya. Aku ingin mengingat semua ini sebagai pelajaran, bukan sebagai alasan untuk membenci.

Mungkin aku tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Aku juga tidak bisa memaksa siapa pun mengingat semua hal baik yang pernah kulakukan. Namun setidaknya, aku masih bisa memilih untuk tidak kehilangan diriku sendiri.

Karena pada akhirnya, setiap orang akan mengingat kisah ini dengan versinya masing-masing. Ia memiliki ceritanya. Aku memiliki ceritaku. Tidak ada tulisan yang mampu memuat seluruh kenyataan dari sebuah hubungan.

Tulisan ini bukan undangan untuk membenci seseorang yang pernah kucintai. Ini hanyalah pengingat untuk diriku sendiri bahwa mencintai orang lain tidak boleh membuatku lupa menjaga diriku sendiri.

Dan mungkin, itulah awal yang sesungguhnya.

Bahwa mempertahankan hubungan memang membutuhkan cinta.

Namun mempertahankan diri sendiri, terkadang membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar.


Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Makeup Artist Jakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca